Liberalisasi Film Ala Kapitalisme, Perusak Generasi

Lorong Kata --- Hangat diperbincangkan, penayangan film "Dua Garis Biru" yang baru dirilis bulan ini, telah menembus satu juta penonton selama sepekan pemutarannya. Digadang-gadang sebagai cara ampuh untuk memberikan sex education kepada generasi muda secara dini, ditengah kerusakan moral generasi yang kian parah dan semakin akut hari ini. Salah satu respon dan keresahan pihak BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) merasakan pendidikan sex yang disampaikan secara ceramah cenderung tidak didengarkan atau diabaikan bagi para pendengarnya.

Dengan dalih itu, media film dinilai menjadi sarana yang paling tepat memberikan gambaran yang lebih realistik terkait dengan pemberian pendidikan sex. Harapannya Film ini akan memberikan pengaruh yang lebih signifikan untuk membangun karakter jiwa pada generasi muda akan pentingnya kesehatan reproduksi.

Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Dwi Listyawardani mengatakan bahwa film tersebut bisa menjadi edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja yang menontonnya. Lebih lanjut beliau membeberkan anak remaja sedikit mengetahui dan belajar tentang kesehatan reproduksi namun tidak mengetahui risiko-risiko yang bisa terjadi akibat perkawinan usia muda. Bahkan menurut dia, menyampaikan sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi, perencanaan kehidupan, dan nilai-nilai lain kepada remaja memang lebih tepat dengan menggunakan media fim (ANTARA 11/07/19).

Munculnya film dm"Dua Garis Biru" mendapatkan apresiasi dari BKKBN. BKKBN mengatakan melalui film itu akan membantu dalam menjangkau remaja Indonesia lebih luas dengan program generasi berencana (Genre) kata M Yani di Jakarta, Kamis.

Namun, bagi sebagian pihak tidak demikian. Menurut Gerakan Profesionalisme Mahasiswa Keguruan Indonesia (Garagaraguru) film tersebut dapat mempengaruhi masyarakat, khususnya remaja untuk meniru apa yang dilakukan di film. Beberapa scene di trailer menunjukkan proses pacaran sepasang remaja yang melampaui batas, menunjukkan adegan berduaan di dalam kamar yang menjadi rutinitas mereka. Scene tersebut tentu tidak layak dipertontonkan pada generasi muda, penelitian ilmiah telah membuktikan tontonan dapat mempengaruhi manusia untuk meniru dari apa yang telah ditonton. Ujar mereka dalam petisi online change.org (DetikHot, Rabu 01/05/19).

Jika menelisik lebih dalam, alasan dibuatnya film ini akan memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi adalah hal yang tidak tepat dan hal yang sia-sia. Pernyataan yang dilontarkan oleh BKKBN itu seolah semakin melanggengkan penjajahan gaya hidup barat dan pengkerdilan populasi manusia dan menekan laju pertumbuhan manusia. Sebab menurutnya salah satu penyebab kematian ibu dalam kehamilan adalah usia yang terlalu muda.

Bahkan secara terang-terangan Dwi mengatakan film "Garis Dua Biru" membayangkan pernikahan dimasa muda dapat merusak masa depan dan memupuskan cita-cita.

Inilah salah bentuk propaganda yang sangat jahat, yang sedang intensif dan masif digalakan melalui media film. Bahwa menikah muda merupakan momok yang sangat menakutkan, akan mengancam keselamatan jiwa. Dan tayangan ini tentunya sedikit banyak memunculkan mindset kepada generasi muda dan mempengaruhi jiwa kepribadian mereka untuk tidak menikah di usia muda.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, mengajarkan dan memberikan sex educationkepada remaja apakah melulu menggunakan media film setelah kemudian di lihat kontennya sama sekali tidak mendidik bahkan dapat menjerumuskan generasi muda pada pergaulan bebas. Tayangannya pun penuh dengan adegan-adegan yang tak pantas untuk diperlihatkan, diumbar dengan bebas bahkan sangat fullgar.

Tujuan pemberian sex education sama sekali tidak tercapai dan . "Adegan hamil diluar nikah" bagaimana mungkin bisa memberikan pelajaran memelihara kesehatan reproduksi, sementara dilakukan bukan pada pasangan yang sah? Tidak diikat dengan pernikahan yang halal. Terbukti kesehatan reproduksi akan memburuk dan bahkan mendatangkan penyakit HIV/AIDS jika dilakukan bukan pada pasangan yang sah.

Alhasil, Alih-alih memberikan sex education kepada remaja, justru menjerumuskan generasi muda terjebak pada perilaku gaul bebas, dan sex bebas.

Bukankah memberikan edukasi bisa melalui pendidikan karakter berbasis spritual?. Pendidikan seperti ini mampu memberikan kontribusi yang mendalam untuk mendidik anak terkait kesehatan reproduksi, namun sayang enggan untuk dilirik apalagi mau diterapkan. Padahal pendidikan inilah yang telah mencetak generasi muda pada zaman keemasannya ketika pendidikan islam diterapkan. Jika pendidikan islam diterapkan, maka kita mendapatkan nilai yang universal. Agama islam memberikan kebaikan kepada semua insan manusia termasuk generasi muda.

Namun, hal itu menjadi utopis terwujud dalam sistem saat ini. Karena sistem yang diadopsi oleh negara hari ini berdasar pada sistem aturan buatan manusia yang sangat lemah. Sistem kapitalisme yang memisahkan peran agama dalam kehidupan telah meyengsarakan hidup manusia. Sistem inilah kemudian mensuburkan praktek penjajahan pengerukan kekayaan melalui media perfilman. Bisnis ini akan terus dijalankan dengan rakus dan serakah selama masih menguntungkan lidah para kapitalis.

Sistem liberal hari ini yang menghendaki kebebasan (tanpa ada hak negara untuk mencampuri urusan disegala lini) termasuk dalam media perfilman. Karya seni dalam hal ini mereka menghendaki pembuatan film akan di arahkan dan digiring untuk memunculkan pundi-pundi bisnis, yang mendatangkan keuntungan.

Sekalipun pembuatan film itu akan merusak dan menghancurkan generasi menjadi tidak diperhatikan oleh para kapitalis yang rakus dan suka menjajah.

Ditambah negara tidak pernah muncul perannya sebagai pengurus dan pelayan umat. Negara tidak memberikan perlindungan kepada generasi muda, apabila kemudian akidah dan moral mereka ternodai akibat dari tontonan film yang ditampilkan. Tidak nampak filter dari negara untuk memilah program-program tayangan mana yang diperbolehkan dan tak boleh disajikan kepada generasi. Kemudian tidak ada sanksi yang tegas dari negara kepada pengusaha perfilman apabila memberikan tayangan yang merusak moral generasi.

Inilah bukti bahwa rezim saat ini tidak berdaya mengendalikan arus liberalisasi yang menghancurkan generasi melalui film.

Film dalam islam untuk dakwah dan edukasi

Dalam rangka untuk melejitkan dakwah dan menyebarluaskan diinul islam serta memberikan edukasi kepada masyarakat, negara memiliki peran utama dan sangat vital dalam mengendalikan produksi film. Negara memanfaatkan film sebagai media untuk menyampaikan syiar-syiar islam dan memberikan edukasi kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan ketaqwaan tiap individu rakyat.

Bukan untuk keperluan yang lain, oleh karena itu negara sangat memberikan keluwesan kepada industri perfilman maupun industri lainnnya untuk menciptakan sebuah karya yang dapat memberikan kontribusi yang positif kepada negara. Sebab film adalah karya seni, merupakan perkara mubah dan boleh untuk di ambil asal tidak bertentangan dengan hukum syarah.

Setiap usaha yang akan dilakukan menyudutkan agama dan menyebabkan moral dan akidah generasi muda rusak, termasuk dalam perkara media perfilman ditampilkan untuk melanggengkan ide-ide pergaulan bebas dan semisalnya harus disingkirkan. Negara akan memastikan dan menjaga media-media untuk tetap berada pada jalan untuk mencerdaskan umat.

Saatnya campakan kapitalisme yang merusak akidah umat, lalu diganti dengan ideologi islam sebagai aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk dalam perkara media perfilman. Wallahu'alam bisawwab.

Penulis: Sumarni, S.Pd (Pendidik)