Menolak Cahaya

PUISI, LK --- Beberapa orang mati di tangan puisi. Lainnya tumbal di jemari kaku sang mantan kekasihnya di waktu itu. 

Ada luka di setiap tawa penguasa. Miris dari rasa yang tertinggal sebelum menua jadi kata. 

Lihatlah beberapa orang di sekitarmu. Bulu matanya rontok akibat melototi pantat tetangganya yang bahenol. 

Sementara lapar dan derita anak terlantar tak pernah berubah warna. 

Tapi kita memang dilahirkan beragam, kau kaya dan tampan, lantaran aku miskin dan patah. 

Semua terjadi bukan tanpa sebab. Ada tangga awal menuju puncak, ada jarak butuh disebut kangen. 

Pemimpin itu gila karena lupa, wajahmu semrawut perihal cahaya. Dan kita bukan apa apa dalam genangan. 

By: Sesepuh Lorong Kata