Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Surat Titipan ‘Critical Thinking’

Sabtu, 13 Juli 2019 | 18:41 WIB Last Updated 2019-07-13T10:41:42Z
Lorong Kata --- Kehidupan semakin keras dengan berjalannya sang waktu dan masa silam. Abad-abad pun berceloteh dengan segala hasil argumentasinya oleh zaman. Harus ada sebuah solusi utama dalam kehidupan yang semakin menjulang tinggi tak tahu pamrih. Apalagi pergaulan yang semakin akrab dengan dunia kebebasan. Benih-benih masa depan yang harusnya menjalankan cita tinggi hanya tinggal kenangan pada buku-buku yang berdebu. Pemuda yang dibina untuk masa depan ummat, sebagai tulang punggung peradaban kini menggenggam diri dengan mental lemah dan bodoh. Ada apa dengan abad 21?

Ternyata penyerangan-penyerangan tanpa disadari telah merajut luka yang pedih. Orang-orang barat telah menyerang pemikiran-pemikiran kaum muslim dan dikhususkan kepada pemuda. Karena mereka tahu induk dari suatu Negara adalah pemudanya. Bahkan menjadi lirikan prioritas perjuangan.

Akar permasalah manusia saat ini adalah penyerangan terhadap pemikiran, sehingga problem solving yang dirujuk berada pada pemikiran pula. Tidak dengan diam, tidak dengan kekerasan apalagi sampai terjadi pemberontakan di segala arah.

Diperlukan metoda khusus mendidik generasi Islam di abad 21 yang penuh tantangan, dilema dan banyak faktor yang bisa menjauhkan mereka dari agama mereka.

“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu” (Ali Bin Abi Thalib)

Target generasi kita saat ini adalah generasi umatan wasathan (umat paling mulia), sebagaimana disebut dalam al Baqarah 143

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”

Salah satu yang dibutuhkan adalah menanamkan modal berfikir kritis. Dan berfikir kritis diawali dengan penanaman aqidah Islam yang mampu menuntun membedakan haq dan batil. Islam mengajarkan berfikir mendalam atas setiap persoalan, tidak boleh taqlid dan sekedar mengikuti pendapat kebanyakan orang. Berfikir Kritis dilakukan dengan cara menguji setiap hal yang dihadapi (fakta, informasi, pemikiran) untuk dilihat bukti dan kebenarannya.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam bukunya ‘Hakekat Berfikir’ yang diterjemahkan oleh Taqiyuddin as-Siba’i membagi pemikiran menjadi tiga bagian, yaitu berfikir dangkal (at-tafkir as-sathi), berfikir mendalam (at-tafkir al-‘amiq) dan berfikir cemerlang (at-tafkir al-mustanir). Dan yang harus dimiliki oleh setiap individu adalah berfikir cemerlang. Yang pastinya sangat enggan manusia saat ini mau menjalankan hal tersebut. Berfikir cemerlang berfikir secara mendalam serta memikirkan fakta lain yang berkaitan dengan fakta tersebut untuk bisa sampai pada kesimpulan yang benar. Tanpa kecemerlangan dalam berfikir, akan menjadikan kita terbiasa berfikir mendalam saja, atau terbiasa berfikir dangkal, dan bahkan akan terbiasa berfikir rendah (at-tafkir as-sakhif, stupid thinking).

Anak-anak harus dilatih berfikir kritis (cemerlang) atas semua hal yg dihadapi. Yakni menguji semua informasi dengan standar Islam. Contoh, bila sekarang dikampanyekan faham liberal, manusia bebas berpendapat dan berbuat bagaimana mungkin bisa lahir sikap hormat terhadap wanita, perlindungan terhadap anak dan sebagainya.

Contoh lain, evolusi materi. Bila dianggap peran Tuhan tidak ada Karena semua benda di alam adalah hasil evolusi materi lain, termasuk manusia adalah evolusi dari primate dan seterusnya. Pertanyaan kritisnya, apakah bisa sebuah batu berevolusi menjadi rumah tanpa adanya tangan-tangan lain? Teori konyol ini jangan sampai membuat manusia konyol dan menafikan keberadaan Allah yang tak bisa dilihat mata Zat Nya, keberadaan Allah adalah nyata dari ciptaan-ciptaanNya. Teori evolusi yang digemborkan oleh Darwin : Manusia berasal dari kera, ini menjadikan fokus anak-anak kerap tak lagi peduli dengan hal lain. Padahal teori ini telah terbantahkan, tetapi tetap saja menjadi pelajaran penting yang ada di sekolah.

Ini adalah kejahatan pendidikan yang mencekok pemikiran para pemuda saat ini. Alhasil, selalu dibutuhkan kerja sama dua pihak dalam sebuah tindakan kejahatan yang sempurna. Pertama, pelaku kejahatan. Kedua, mereka yang mendiamkannya.

Sejak manusia mengenal tindak kejahatan untuk pertama kalinya sampai sekarang, kejahatan selalu menobatkan “diam” sebagai mitranya paling setia. Diam adalah salah satu sumber energi kejahatan. Sampai para ulama menasehati: “Mendiamkan kejahatan laksana setan bisu.” Dan kejahatan merajalela bukan hanya karena semakin banyak orang jahat, tapi karena semakin banyak orang baik yang mendiamkan kejahatan. Lalu siapakah musuh kejahatan yang paling ditakuti? Bersuara. Berfikir kritis dan menyuarakan kepada ummat semua kebenaran yang tersembunyi.

Tak ada modal lain yang harus disodorkan kepada ummat selain menjadikan Islam sebagai aktor utama dalam pembentukan kepribadian dan kebangkitan kaum muslim saat ini. Sistem pendidikan Islam menjadikan para pemuda sebagai sosok Critical Thinking yang menjadi pondasi agar tak membabi buta. Ditanamkan sakhsiyah dan nafsiyah Islam untuk menghasilkan suluk (tingkah laku) yang telah digariskan hukum syara’. Dan sistem pendidikan Islam hanya bisa diterapkan di atas sistem pemerintahan Islam (khilafah) yang menunjang secara menyeluruh penerapan syariat Islam.

Penulis: Rahmi Ekawati
×
Berita Terbaru Update