Bendera Tauhid Disasar, Kekhawatiran Yang Tak Wajar

Lorong Kata --- Apakah anda mengetahui maraknya perbincangan terkait foto pengibaran bendera tauhid oleh siswa-siswa madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Sukabumi? Jika demikian, anda pasti bisa merasakan ada kekhawatiran yang tak wajar. Ya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin langsung tanggap dengan memerintahkan tim khusus untuk menelusuri maksud dari pengibaran bendera tauhid tersebut. Mengapa demikian?

Direktur kurikulum, sarana, kelembagaan dan kesiswaan (KSKK) madrasah kementrian agama A Umar mendapat tugas langsung dari mentri Lukman untuk mengkonfirmasi foto pengibaran bendera tauhid kepada kepala MAN 1 Sukabumi serta kepada para siswa yang terlibat pada kegiatan tersebut. (Suara.com, 22/7)

Berdasarkan keterangan sejumlah pihak, A Umar dalam kesimpulan sementaranya menyatakan bahwa tidak ada indikasi keterkaitan dengan pihak HTI. Kejadian ini lebih karena ketidakpahaman siswa terhadap sensitivitas penggunaan bendera yang mirip dengan bendera ormas terlarang.

Akan tetapi Umar menegaskan, pihaknya menaruh perhatian serius terhadap persoalan ini. Terbukti, kemenag sedang menggencarkan internalisasi nilai agama yang selaras dengan nilai keindonesiaan terutama dilingkungan pendidikan.

Pun disepakati juga, kepala Kankemenag Sukabumi akan segera melakukan pembinaan keseluruh madrasah setempat agar tidak terjadi kasus serupa serta tidak terpapar paham ekstrem dan pengaruh ormas terlarang. (Liputan6.com, 22/7)

Kekhawatiran mentri Agama dengan langsung melakukan investigasi kepada sejumlah pihak yang terlibat dalam pengibaran bendera tauhid sangat disayangkan. Bukankah satu hal yang wajar bila generasi Islam berbangga diri dengan identitas muslimnya dan menampakkan simbol keislamannya, lalu apa yang perlu dikhawatirkan?

Mengutip apa yang disampaikan wakil kepala sekolah (Wakasek) bidang kesiswaan MAN 1 Sukabumi, Ade Suepudin bahwa semua siswa membawa panji sesuai dengan ekstra kurikuler. Pramuka bawa panji pramuka dan atribut lainnya, dari olahraga juga sama dan kebetulan dari rohis mereka membawa bendera tauhid tersebut.

Kata Ade, sangat disayangkan jika menag harus "repot-repot" mengurusi siswa MAN 1 ini, padahal ini bukan remaja tawuran, bukan korban narkoba, bukan sedang minum miras, bukan gay atau LGBT. Namun hanya sekedar mengungkapkan kecintaannya kepada bendera tauhid yang lapadznya sering diucapkan oleh setiap kaum muslim. (Detikcom, 21/7)

Sebagai seorang muslim, harusnya kita memahami bahwa bendera bertuliskan kalimat tauhid adalah simbol persatuan umat Islam, bukan simbol organisasi tertentu. Maksudnya siapapun dari umat Islam boleh menggunakannya.

Tindakan menag yang mengirim tim investigasi dinilai tidak wajar, berlebihan, tidak adil dan tidak pada tempatnya. Bukankah lebih bijak apa yang dilakukan siswa-siswi MAN 1 Sukabumi tersebut diapresiasi bukan malah diinvestigasi seolah pelaku tindak kriminal.

Berbeda dengan tindakan menag terhadap pelaku LGBT. Menag meminta memberi ruang gerak dan menghargai apa yang ada pada mereka. Dan jelas ini bentuk ketidakadilan rezim terhadap umat Islam.

Terlalu sering umat Islam disakiti hatinya oleh rezim. Dan ini menambah daftar kekecewaan umat terhadap pemerintah. Juga menghilangkan kepercayaan umat pada penguasa negeri ini.

Sistem sekuler yang diterapkan di negeri ini menjadikan standar perbuatan baik buruk, benar salah acap kali dipengaruhi oleh kepentingan. Sehingga yang berkuasa memiliki kuasa untuk mencap baik buruk, benar salah sesuai dengan kepentingannya. Bahkan dengan terang-terangan bendera tauhid yang berlapadzkan kalimat agung dianggap sebagai simbol radikalime. Pembawanya memiliki pemahaman ekstrem dan dikatakan sebagai teroris.

Hal tersebut, sangat berbeda ketika Islam diterapkan. Standar baik buruk, benar salah dikembalikan kepada syara' yaitu hukum syariat. Para penguasa memimpin dengan dasar iman kepada Allah bukan karena kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok. Kepentingan penguasa hanya untuk menjalankan perintah Allah dengan menjalankan dan menerapkan hukum syariah.

Dalam pandangan syara'nya bendera tauhid adalah simbol persatuan ummat. Milik kaum Muslim tanpa terkecuali. Bendera tauhid berwarna hitam dinamakan Ar-Royah dan yang berwarna putih dinamakan Al-Liwa'. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi SAW,  dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhu : “Panjinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam, dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah”.” (HR. Ath-Thabrani)

Dengan demikian, keadilan tak akan pernah kita dapatkan dalam sistem hidup sekuler. Dan tidak ada jalan lain untuk menegakkan keadilan kecuali berjuang untuk menjadikan syari'at Islam mengatur seluruh lini kehidupan. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis: Ikhwa Laila (Member Kelas Menulis WCWH)