Generasi Produk Sekuler, Minim Karakter

Lorong Kata --- Melihat fenomena generasi muda saat ini, begitu masifnya pergaulan yang mengarah pada pergaulan bebas. Dari sisi fakta disekitar kita banyak kita jumpai remaja yang tidak malu mempertontonkan aktivitas pacaran yang kebablasan sampai tidak sedikit yang berujung pada kehamilan yang tidak diinginkan hingga melakukan aborsi atau bahkan dengan tega membunuh bayinya sendiri.

Seperti yang dilansir dalam okezone.com, kasus pembunuhan terhadap anaknya sendiri yang dilakukan oleh remaja berinisial SNI (18) didalam toilet Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) pada Rabu 24 Juli, dipicu karena SNI merasa belum siap menikah dan punya anak lantaran umurnya yang masih muda.

Paham sekulerisme dan liberalisme memberi ruang kebebasan pada remaja dalam berperilaku kemaksiatan yang mencabut fitrah manusia. Sehingga wajar banyak kita temui generasi muda yang liar dan tak memiliki karakter. Sebab gagasan yang mereka bangun menafikkan syariat dalam mengatur pergaulan dengan lawan jenis. Sebagaimana asas sekulerisme bahwa peran agama hanya berlaku dalam ranah privasi, bukan untuk mengatur urusan publik terlebih memberlakukannya dalam mengatur urusan negara. Karena sekulerisme pasti mendiskreditkan ajaran agama dalam kehidupan manusia, bahkan menjadikan agama sebagai penyebab munculnya problematika masyarakat.

Melalui ide sekulerisme, mereka dicetak untuk menjadi sosok yang cerdas secara intelektual dan emosional, akan tetapi secara spiritualnya kosong. Kebebasan yang tanpa memandang agama tersebut menciptakan gaya hidup pemuda yang bablas. Besarnya potensi generasi yang mampu mengguncang dunia kini telah ‘mati’ karena sekulerisme yanag menjauhkan generasi dari Ilahi.

Tatanan bermasyarakat  yang ada  memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada pemenuhan hak dan kepentingan setiap individu. Kebebasan individu harus ditegakkan karena menurutnya itu adalah hak, tidak peduli kendati itu harus melanggar tuntunan agama. Kehidupan yang sekularistik nyata-nyata  telah menjauhkan  manusia dari hakikat  visi dan misi penciptaannya.

Misalnya, pandangan sekulerisme tentang cinta tidak lain adalah sebagai dalih dalam pelampiasan syahwat. Maka menjadi keharusan untuk diumbar salah satunya dengan jalan pacaran karena menurutnya hidup menjadi berwarna, tidak kering. Mereka justru mendiskreditkan hukum Islam tentang pacaran yang haram, sehingga tidak perlu berdakwah kepada orang-orang yang ingin pacaran. Seolah-olah mereka berhak mengganti hukum Allah berdasarkan kecerdasan akalnya saja, dengan mengatakan bahwa aktivitas yang mendekatkan kepada zina tersebut bisa bernilai positif tidak semuanya nagatif.

Padahal budaya pacaran yang menjalar dikalangan remaja, telah membuat mereka lupa jati dirinya. Dari mulai kehilangan kesuciannya karena aktivitas pacaran, kehamilan yang tidak dikehendaki dan berujung pada maraknya aborsi. Ini bukti bahwa kedunguan konsep sekulerisme dalam menjawab pemenuhan naluri manusia, yang pada akhirnya justru merusak generasi.

Negara sebagai pelindung pun gagal mendidik remaja berkarakter yang siap bertanggung jawab pada pilihannya sendiri dan melindungi remaja dari kemaksiatan. Mendidik mereka dengan karakter syakhsyiyah Islam yang siap bertanggung jawab dihadapan Allah dalam menjalani kehidupan dunia.

Inilah akar persoalan yang selama ini membelit generasi. Jika ingin menyelamatkan generasi, maka butuh solusi fundamental untuk menuntaskan problematika hingga akarnya, yakni mengganti sistem sekuler-demokrasi yang menjauhkan manusia dari agama dengan sistem yang membuat manusia senantiasa tunduk pada agama.

Dan Islam satu-satunya yang mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas intelektual dan emosional saja, akan tetapi juga unggul secara spiritual. Karena pembentukan kepribadian generasi dalam Islam berlandaskan aqidah Islam, yakni terdiri dari pola pikir dan pola sikapnya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat yang mampu mewujudkan kecintaan kepada agama. Wallahu’alambisshowab.

Penulis: Miniarti Impi, ST (Member WCWH)