Lebaran Kelam di Palestina

Lorong Kata --- Idul Adha merupakan salah satu hari raya umat muslim. Semestinya dilaksanakan dengan suka cita dan beribadah dengan nyaman. Namun berbeda di Palestina. Seperti yang dikutip dari laman media online cnnindonesia.com, 11/8/2019

“pada Minggu 11 Agustus 2019 kepolisian Israel dan kelompok warga palestina dilaporkan terlibat bentrok. Insiden ini terjadi ketika umat Muslim di Palestina tengah merayakan Lebaran Haji. Ribuan warga Palestina juga melaksanakan salat Idul Adha di Masjid Al Aqsa.”

Insiden ini memakan korban luka. The Red Crescent melaporkan 61 orang Palestina teluka, 15 diantaranya dibawa ke rumah sakit (suara.com, 12/8/2019). Adapun pemicunya, dilansir kantor berita AFP, Minggu (11/8/2019) dikarenakan konsentrasi banyaknya massa umat Muslim dan Yahudi di Kompleks Al-Aqsa. 

Perayaan Idul Adha tahun ini memang bertepatan dengan hari libur umat Yahudi yang dikenal dengan Tisha B'av. Saat perayaan Tisha B'av, banyak orang Yahudi yang mengunjungi kompleks Al Aqsa (cnnindonesia.com, 11/8/2019).
Mestinya saat umat Islam sedang beribadah jangan diganggu, apalagi saat merayakan hari raya Idul Adha. Perkara toleransi yang selalu digaungkan memang menjadi seolah redup ketika menyangkut umat Islam. Adanya kesalahpahaman dalam memandang toleransi sering ditarik ulur sesuai kepentingan tertentu. Sungguh toleransi beragama yang tidak patut dicontoh.

Betapa miris melihat kejadian tersebut. Bahkan dunia seolah tutup mata. Selalu nihil dalam upaya menyelesaikan konflik di sana. Seolah-olah berita duka muslim di Palestina hanyalah berita usang yang tak perlu ditanggapi. Lantas dimanakah PBB? HAM? Ataukah pemimpin Negeri-negeri Muslim? Bukankah sesama umat Islam ibarat satu tubuh?

Dari kejadian ini membuktikan kepada kita bahwa umat muslim membutuhkan sistem dan sosok pemimpin yang taat pada syariat-Nya. Pemimpin (Khalifah) yang dapat memberikan perlindungan dan keamanan bagi umat muslim di dunia. Tidak tersekat oleh batas-batas nasionalisme, ras, warna kulit dan sebagainya. Khalifahlah yang berani memimpin jihad dan tak gentar kecuali pada Allah semata. Layaknya sang Khalifah Mu’tashim billah yang mengirimkan pasukan berkilo-kilo meter demi membela kehormatan seorang muslimah.

Khalifah juga akan menjaga dan memberikan perdamaian, karena dalam Islam memberi jaminan pelaksanaan ibadah bagi setiap agama. Sebagaimana Rasulullah SAW. diutus Allah SWT sebagai rahmat bagi sekalian alam. Mengajarkan hakikat kehidupan, dan membawa petunjuk yang akan membawa kebahagiaan dunia-akhirat. Tercermin dari sejarah bagaimana Nabi saw. memberikan perlindungan atas jiwa, harta, dan agama penduduk yang mayoritas beragama Kristen di Ailah, Jarba’, Adzrah dan Maqna. Juga pada penduduk yang mayoritas beragama Yahudi di Khabair.

Tidak ada permusuhan dan pertikaian meskipun mereka menganut tiga agama besar yang berbeda; Islam, Kristen, dan Yahudi. Inilah toleransi beragama yang patut dicontoh.
Selain itu, Islam telah terbukti sukses menciptakan kehidupan gemilang di masa lampau. Meski ada upaya masif pengaburan sejarah Islam, namun masih ada yang menuliskannya dengan jujur. Salah satunya adalah Will Durant dalam bukunya yang berjudul “The Story of Civilization”. Banyak hal ia tuliskan, diantaranya adalah pemerintahan Islam telah mampu memberi kesejahteraan dan keamanan pada seluruh rakyatnya selama berabad-abad. Yang tidak pernah ditemukan dimasa selainnya (Masa Depan Peradaban Islam, Eramuslim.com 5/2/2010).

Hal ini menunjukan, penerapan syariah Islam berhasil menciptakan keadilan, kesetaraan dan rasa aman bagi seluruh warga negara, baik Muslim maupun non Muslim. Sehingga orang-orang yang memeluk agama yang berbeda bisa menjalani ibadah keagamaan dan kehidupannya dengan saling percaya dan bersaudara tanpa ada konflik dan perselisihan.

Inilah Islam, yang memiliki sifat komprehensif (menyeluruh). Karena mengatur hubungan manusia secara totalitas. Baik itu menyangkut hubungan manusia dengan Allah (akidah & ibadah), hubungan manusia dengan dirinya (makan, minum, berpakaian, akhlak), serta mengatur hubungan dengan sesamanya (bermuamalah seperti berekonomi, sosial, interaksi pria & wanita, berhukum, berpolitik berbangsa & bernegara). Sungguh Islam tidak pernah mengajarkan kebencian pada umat lain. Bahkan berniat menegakkan aturan islam juga untuk melindungi mereka, karena Islam adalah rahmat seluruh alam.

Penulis: Normayanti Thamrin Mardhan, S.Pi.,M.Pi