Marak Pergaulan Bebas? Islam Solusinya

Lorong Kata --- Pergaulan bebas menjadi problem utama remaja saat ini. Pasalnya paham liberal telah membuat banyak remaja kehilangan mimpi mereka di masa muda. Pernikahan di usia dini menjadi jalan keluar ketika si remaja wanitanya hamil diluar nikah. Sebagai contoh kasus pernikahan diusia dini yang terjadi di kamp. pengungsian di Palu, Sulawesi Tengah kedua remaja yang masih berumur 17 tahun harus mengubur mimpinya untuk lanjut kuliah, karena sang wanita hamil diluar nikah, dilansir dari kompas.com.

Tidak hanya itu, hamil diusia dini sangat mempengaruhi perilaku dan psikis remaja, dengan pemikiran yang belum stabil, dapat memicu perbuatan yang tidak diinginkan. Misalnya kejadian pembunuhan bayi didalam toilet yang dilakukan oleh seorang remaja putri karena tidak siap menikah serta mempunyai anak (okenews).

Banyak faktor yang menjadi pemicu utama masalah remaja kini, seperti suguhan film yang banyak mempertontonkan pergaulan bebas, lingkungan yang acuh terhadap kondisi remaja, serta kurangnya pengawasan dan perlindungan dari pemerintah (negara). Faktor-faktor ini menjadi asalah utama, sebab peran masyarakat dan negara sangatlah penting. Negara disini harus mampu membentuk remaja yang berkarakter dan mampu melindungi remaja dari pengaruh sekulerisme dan liberalisme.

Namun pada faktanya sistem demokrasi yang dianut negara ini justru memberi ruang pada remaja untuk mengakses dan mengikuti budaya barat yang kental akan kebebasan, mulai dari gaya pacaran, sikap bergaul yang terkesan campur baur (ikhtilat) yang sebenarnya Islam telah mengatur tentang pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Islam menutup celah untuk terjadinya kemaksiatan dengan beberapa aturan yakni kewajiban menutup aurat bagi perempuan (QS. Al-Ahzab: 59 dan QS. An-Nur: 31).

Allah juga berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’ [17] : 32).

Dengan demikian, untuk mengatasi problem remaja saat ini maka diperlukannya sistem yang dapat menjamin dan menjaga remaja dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Sistem yang menjadikan Al-Quran dan As-Sunah sebagai tolak ukur dalam mengatur manusia termasuk juga dalam mengatur pergaulan remaja.

Tinta sejarah mengukir bukti Islam telah mampu melahirkan remaja yang berkarakter, hal ini dapat kita ambil contoh dari pemuda muslim yang di usia 22 tahun mampu menaklukkan Konstatinopel, siapa lagi kalau bukan Muhammad Al Fatih,hidup dibawah naungan sistem Islam, lingkungan yang Islami yang menjadikan ia sebagai salah satu pemuda muslim yang patut dijadikan motivasi bagi remaja muslim saat ini. Apa yang terjadi pada Muhammad Al Fatih ini tentunya tidak lepas dari didikan orangtua yang mampu mendidiknya menjadi generasi shalih kemudian ditopang oleh lingkungan tempat ia hidup.

Sebab pilar penting dalam mewujudkan generasi Islam bisa ditempuh melalui 4 cara; individu-individu yang taqwa termasuk didalamnya orangtua harus memiliki kualitas taqwa yang baik terlebih dahulu.

Setelah individu yang taqwa perlu adanya masyrakat yang memiliki visi dan frekuensi yang sama dalam membentuk generasi Islami. Perlu adanya control masyrakat inilah sebagai perwujudan lingkungan yang “sehat” bagi generasi muda ini.

Kemudiab harus adanya penerapan aturan yang sama untuk mengatur masyarakat, yakni aturan Islam yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah. Maka bukan hal yang tidak mungkin kegemilangan generasi muda terdahulu dapat terulang dimasa saat ini. Melalui tangan-tangan merekalah peradaban Islam dapat dibangun.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. Al-A’raf: 96). Wallahu ‘alam bishowab.

Penulis: Nur Syakiyyah.