Tutupilah Pahamu Dan Cukup Kopi Yang Membuat Candu

Lorong Kata --- Menjadi seorang perempuan bukan perkara mudah, berpakaian tertutup ataupun terbuka tetap saja akan ada yang mengkritiknya. Berpakaian minim akan dihujat dengan alasan moralitas. Sementara yang berpakaian tertutup pun akan dihujat dengan alasan tidak mengikuti perkembangan.

Di kampung tempat saya dilahirkan, saya masih bisa menikmati kopi di teras rumah tanpa harus menduakan candunya. Sementara di perkotaan yang pernah saya singgahi, saya tidak lagi mampu menikmati kopi dengan khusyuk. Di kampung, pakaian terbaik adalah yang menutup area selangkang sementara sebagian wanita di perkotaan dengan sengaja memamerkan area selangkang. Sehingga menikmati kopi di kedai kopi di perkotaan membuat candu tidak lagi setia pada kopi, sebab selangkang pun ikut membuat candu.

Sayangnya, tidak semua wanita merasa senang jika selangkangnya dinikmati. Sebagai contoh, waktu itu, saya sedang berjalan di bibir pantai kuta yang mayoritas pengunjungnya mengenakan bikini (pakaian renang yang hanya dua potong super mini). Pria setengah paru dengan sengaja berdiri tepat di belakang wanita berbikini tampak memandanginya cukup lama, setelah wanita itu sadar, ia lantas pergi dengan ekspresi yang tidak menyenangkan, seperti sedang terganggu.

Sementara di warung kopi, beberapa wanita yang melintas dengan pakaian terbuka memperlihatkan bagian paha dan selangkangan tidak merasa risih dengan tindakan para pria yang menikmatinya lewat pandanga yang cukup lama. Bahkan sebagiannya hanya tersenyum.

Dulu bahkan sekarang, saya sering mendengar frasa "Cewek Murahan" dari sahabat-sahabat saya di kampung. Frasa itu tertuju pada perempuan yang suka memperlihatkan bagian terpenting di tubuhnya secara bebas seperti paha dan bentuk buah dada yang ditonjolkan.

Bagi saya, sebagai manusia yang beradab maka sudah sepantasnya menjaga moralitas itu penting agar tidak menimbulkan stigma sosial di masyarakat karena menganggap hal tersebut melanggar moralitas.

Sebagian orang beranggapan bahwa hak dan kebebasan seseorang tidak boleh dibatasi. Setiap manusia berhak berhak berekspresi lewat gaya hidup. Namun, harus disadari pula bahwa lewat gaya hidup yang melanggar moralitas mampu menimbulkan hukuman sosial lantaran menyalahi peradaban di masyarakat.

Menurut saya, bergaya, bahkan meniru peradaban barat adalah sah-sah saja, tetapi jika sudah menyangkut pelanggaran moralitas maka sebaiknya mempertahankan peradaban kita adalah tidakan yang sudah sangat benar. Bukankah dalil agama bahkan sudah sangat jelas mengatur hal tersebut?

Mohon maaf, tulisan ini bukan bermaksud mendiskreditkan budaya orang barat, tapi perlu diketahui bahwa mereka tidak begitu mempersoalkan penampilan dan sebaliknya budaya ketimuran kita tidak begitu cocok dengan penerapan gaya hidup yang kebarat-baratan.

Tulisan ini juga tidak bermaksud mendiskreditkan wanita yang berpakaian seksi. Saya hanya ingin mengajak agar paha hingga selangkang dapat tertutupi dengan baik sebab saya dan beberapa yang lainnya tidak bisa khusuk menikmati kopi lantaran candu telah berselingkuh di bagian paha dan selangkang.

Jika masih ngotot pengen pamer paha dan selangkang maka jangan salahkan si pria berotak bejat jika pandangannya tidak ingin bergeser dari bagian yang enggan kalian tutupi karena pria tidak akan mungkin berjalan dengan mata tertutup atau wajah menengadah kelangit.

Yah, tidak salah memang jika semua orang menuntut kebebasan. Termasuk para wanita yang ingin bebas mengenakan apapun. Namun, pada akhirnya tindakan moralitas yang betentangan di masyarakat kita akan mendapat konsekuensi tentang hukuman sosial.

Tidak hanya soal hukuman sosial, pakaian terbuka setidaknya mampu mengundang kejahatan seksual. Meskipun telah banyak yang melakukan survei yang telah berusaha membuktikan bahwa pakaian terbukan bukan penyebab utama lahirnya kejahatan seksual, tetapi perlu diketahui bahwa kejahatan seksual lahir, juga karena adanya godaan dari para korban lewat cara berpakaian yang terbuka.

Apabila kejahatan dinilai dari bentuk eksploitasi, maka wanita yang memperlihatkan bentuk tubuhnya secara terbuka adalah kesalahan dan pria yang mengeksploitasinya secara bebas lewat tatapan adalah kejahatan seksual. Lagipula, apa susanya sih, jika mengenakan pakaian tertutup?

Dalam ajaran agama, sudah sangat jelas mengatur kebebasan setiap orang. Bagaimana seseorang berpakaian hingga tidak menimbulkan kejahatan. Lagipula, bukan suatu kemunduran jika seseorang menutup bagian tubuh yang seharusnya tertutup.

Kejahatan tidak pernah lahir dengan sendirinya, selalu ada penyebab yang menjadi penggerak lahirnya tindakan kejahatan. Salah satu cara menghindari kejahatan adalah dengan tidak menciptakan penggeraknya.

Saya tidak bermaksud mendiskreditkan kaum perempuan yang berpakaian terbuka lewat tulisan ini. Saya hanya ingin mengajak agar perempuan lebih memperhatikan moralitas dalam berpakaian. Sebab, penilaian utama lahir dari pandangan dan kejahatan lahir karena adanya kesempatan dan godaan dari para korban. Perlu diketahui bahwa pelecehan seksual bukan hanya lewat sentuhan melainkan juga lewat tatapan yang disengaja terhadap objek vital yang seharusnya tertutupi.

Paha dan selangkangan adalah aurat bagi kaum muslim yang harus ditutupi karena menjadi dosa jika dipertontonkan dan dosa pula bagi kaum lelaki yang bukan mahram jika menikmatinya dengan segaja sebagai objek seksual.

Sebagai tambahan, pengalaman saya di warung-warung kopi, pakaian terbuka selalu menjadi topik yang lebih menarik untuk dibicarakan sebagai objek seksual semata yang menimbulkan candu. Ingat, bahwa kejahatan seksual lahir tidak hanya karena ada kesempatan, tetapi karena ada godaan dari cara berpakaian korbannya.

Sekali lagi, pesan saya adalah jaga paha dan selangkanganmu agar tidak membuatku candu, cukup kopi saja yang membuatku candu. Sembunyikan bentuk paha dan selangkanganmu untuk mereka yang berani menikahimu. Jangan menumpuk dosa lantaran selangkangan terlalu banyak yang menikmatinya.