Jasa Daeng Sangnging Terhadap Fakultas Bermartabat UIN Alauddin Makassar

Lorong Kata - Di tengah lalu lalang para mahasiswa di salah satu kampus Negeri di Makassar, nampak seorang wanita paruh baya dengan pakaian sederhananya sibuk dengan tugasnya membersihkan lantai koridor di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM). Nampak wajah yang begitu tenang dan santai sambil membalas sapa orang-orang yang mengenalnya baik itu mahasiswa, dosen, maupun staf-staf yang bekerja di tempat yang sama.

Wanita kelahiran 1975 itu bernama lengkap Jumiati Daeng Sangnging, merupakan ibu dari dua orang anak hasil pernikahan dengan suaminya bernama Ruslan. Anak pertama seorang perempuan dan anak kedua seorang laki-laki.

Beliau telah bekerja sebagai petugas kebersihan di FDK sejak 9 tahun yang lalu. “2010 ku masuk, jadi 9 tahun. Di sini teruska di Fakultas Dakwah tidak pernahka pindah-pindah,” ucapnya dengan logat Makassar yang kental.

“Dulu saya hanya jadi Ibu Rumah Tangga, tapi ada panggilan untuk kerja disini jadi masukka. Hitung-hitung juga untuk meringankan beban suami toh,” ucapnya sambil tersenyum. Selain bertugas untuk membersihkan area fakultas, beliau juga kerap kali mendapatkan tugas untuk membuatkan minuman bagi para staf dan tenaga pengajar. “Di sini menyapuka, biasa disuruhka dosen bikin kopi, teh sembarang apa disuruhkan,”.

Upah perbulan yang ia dapat sekarang sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. “Baru pi itu 1,2 juta ini tong pi tahun, dulu 500 ribu yang pertama toh baru naik 700 ribu hingga 800 ribu,”. Kenangnya.

Walau dulu upah tak seberapa Daeng Sangnging tetap berupaya agar bisa menyekolahkan kedua anaknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi karena menurutnya rezeki itu sudah di atur oleh Tuhan. “Dulu waktu masih sedikit gaji tidak ada ta’ tabung. Kalau adapi kasih-kasihka dari dosen rejekiku begitu kusimpanmi. Ku ingatki itu anakku mau sekali kuliah tapi tidak mampuka toh jadi kubilang biarmi,” tuturnya.

Mempunyai anak yang berprestasi tentu saja membuat orang tua merasa sangat beruntung. Salah satunya Anita Rahayu, putri pertama dari Daeng Sangnging dan Ruslan. Sebelumnya, Anita berkuliah di kampus yang sama dengan tempat kerja ibunya, ia merupakan mahasiswa yang mendapat beasiswa langsung dari jurusan. Pernah mencoba peruntungan daftar beasiswa bidikmisi tetapi ia tidak lulus dikarenakan hanya dua bersaudara. “Kalau bidikmisi tidak karena dua orangji bersaudara, lulusji di tes wawancara tetapi tidak tidak lulusmi lagi di tahap selanjutnya karena kartu rumah tangga yang menentukan,”.

Anita mendapat peringkat dua tertinggi di kelasnya dari jumlah siswa 46 orang dan sukses meraih gelar cumlaude. Hal tersebut membuat kedua orang tuanya merasa sangat senang dan bangga. Karena jerih payah kedua orang tuanya dan kecerdasan yang ia miliki, ia lantas di terima untuk kerja di salah satu sekolah dasar di gowa, yaitu di SDN Paccinongang Unggulan. Walaupun honorer tapi menurutnya itu merupakan jalan awal menuju kesuksesan.

Daeng Sangnging bukan orang yang bersekolah tinggi, ia hanya lulusan SD. Namun, ia selalu memberikan pengasuhan, didikan, dorongan, motivasi dan semangat serta nasihat kepada kedua anaknya.

Setiap pagi sebelum pukul 5 sholat subuh, Daeng Sangnging sudah bersiap-siap untuk bekerja. Jarak yang ditempuh dari rumah ke FDK lumayan jauh, kurang lebih 2 km. Dengan menembus dinginnya pagi tidak menyurutkan langkahnya untuk sampai di tempat kerja. Udara dingin yang menusuk di pagi hari banyak membuat orang terlena untuk tidur kembali, tapi tidak dengannya. Walau dingin disertai hujan sekalipun tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap berangkat kerja agar bisa membantu perekonomian keluarga.

Setelah sampai ia kemudian mengepel lantai koridor dan menyapu. Lalu melanjutkan pekerjaan lainnya, hingga pulang dari bekerja pada pukul 5 sore Daeng Sangnging tetap berjalan kaki “Kalau pulang tetap jalan kaki, tapi biasa juga ada mahasiswa yang memberi tebengan, siapa saja itu asal mahasiswa ya saya naik,” tuturnya sambil tertawa.

Ia sendiri merasa selama ini nyaman-nyaman saja sebagai tukang bersih-bersih di fakultas. Tidak pernah ada mahasiswa, dosen, maupun staf yang menegurnya atau mencemohnya. “Tidak adaji keluhanku, andaikan ada tidak lamaka disini, toh, hehehe,”.

Dia murah senyum dan suka menyapa. Tak heran jika hampir semua dosen, staf, dan mahasiswa FDK menyayanginya. Setiap urusan dia selesaikan dengan baik.

Di era sekarang dengan daya persaingan dan kebutuhan hidup yang tinggi, Daeng Sangnging tidak memiliki pilihan pekerjaan lain. Pendidikan terakhirnya yang hanya sampai sekolah dasar membuatnya sulit mencari pekerjaan. Walau dengan penghasilan yang pas-pasan ia tetap bertahan pada pekerjaannya. Tak terbayangkan olehnya jika harus kehilangan pekerjaan yang telah bertahun-tahun ia geluti. Karena pekerjaannya ini, Daeng Sangnging begitu dikenal di FDK.

Mahasiswa dan dosen sangat menghargai tugas Daeng Sangnging, karena membantu mereka untuk nyaman dalam melakukan aktivitas masing-masing. Seperti halnya yang diutarakan oleh Pak Haidir, salah satu dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi. “Ya, beliau sangat berjasa buat kita. Dia juga ibuku, ibu yang membantu kami agar nyaman dalam bekerja di fakultas. Terima kasih Daeng Sangnging, ibu yang penuh perhatian,” di kutip dari salah satu media online.

Harapan Daeng Sangnging, semoga terus diberi kesehatan oleh Allah SWT dan umur yang panjang. Ia pun berharap semoga kedua anaknya kelak akan sukses dan terangkat menjadi PNS.

Citizen Reporter: Ratu Zalkiah S.