Revisi, Bikin Sakit Hati

Lorong Kata - Keputusan Kementrian Agama (Kemenag) yang didukung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) tentang perombakan 155 buku pelajaran agama, benar-benar memprihatinkan. Pasca gaduh wacana larangan cadar dan celana cingkrang bagi Aparatur asipil Negara (ASN), kini menyasar ke arah pendidikan.

Semula Kemenag menyatakan, tidak ada lagi materi tentang perang dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di madrasah. Hal itu akan diimplementasikan pada tahun ajaran baru 2020. Akan tetapi kemudian terjadi perubahan. Sejarah perang tetap ada, namun dimodifikasi sesuai keinginan penguasa, yaitu menampilkan sisi humanisnya saja.

Hal ini menunjukkan masih adanya persepsi buruk terhadap Islam. Sebagian umat yang tidak mempelajari sirah nabawiyah, tidak akan mengerti bahwasanya Rasulullah menuntun berjihad, bukan karena keinginannya semata. Namun sebagai tuntutan dakwah, sebab Islam memang harus disebarkan ke seluruh muka bumi.

Futuhat yang dilakukan Rasulullah, berbeda dengan penjajahan atau isti'mar. Penjajahan akan menghabisi fisik, psikis dan kekayaan alam di negeri yang diperangi. Sedangkan futuhat semata-mata untuk dakwah. Negeri yang dimerdekakan oleh Islam, akan dibebaskan dari penerapan hukum kufur.

Adapun perang atau qital yang menyertai jihad, sebab futuhat ada kalanya harus berhadapan dengan tentara musuh-musuh Islam. Maka diperlukan kekuatan yang setara untuk melenyapkan kezaliman, yaitu dengan kekuatan pasukan. Inilah yang tampak hingga sekarang.

Opini Barat menggelincirkan pemikiran umat, bahwasanya Islam disebarkan dengan darah dan pedang. Barat membuat framing buruk terhadap Islam, seolah Islam adalah pelaku kejahatan. Padahal yang terjadi, malah sebaliknya. Di seluruh penjuru dunia, ketika umat menjadi minoritas, justru dihabisi oleh musuh Islam.

Penderitaan muslim Palestina, Rohingya, Kashmir, Suriah dan lainnya tidak lagi terlihat, dan tidak dicarikan jalan ke luar. Lebih dari itu, Islam dijadikan 'musuh bersama'. Sehingga berbagai upaya kebangkitan umat selalu ditekan. Barat tahu, jika kebangkitan terjadi maka Islam kembali menjadi negara adi daya.

Maka kini, alih-alih membela sesama muslim, para penguasa negeri muslim malah melakukan upaya membuat umat menjadi lebih moderat. Padahal Islam jika dijadikan sebagai asas bertingkah laku, maka akan menghasilkan pribadi yang berkualitas. Melahirkan calon pemimpin yang kokoh dan tangguh menghadapi tantangan zaman.

Jika kini kita dapati umat terpuruk, disebabkan tidak lagi menjadikan Islam sebagai asas perbuatannya. Moderasi membuat umat jauh dari jati dirinya sebagai seorang muslim. Opini buruk telah berhasil merusak kepribadian umat. Bahkan umatpun asing terhadap agamanya sendiri.

Perombakan buku pelajaran agama SD hingga SMA, menurut penguasa adalah sebagai usaha untuk membentuk toleransi, nasionalis, respek, demokratis, kepedulian terhadap kondisi Indonesia. Dari sinilah peluang masuknya pemikiran kufur, sebab nilai yang akan dibentuk bukan berasal dari Islam.

Oleh karenanya, jika revisi diarahkan pada penguatan akidah demi terbentuknya kepribadian Islam, tentu akan menghasilkan kebaikan. Namun jika nilai sekularisme yang ditanamkan, maka akan semakin jauh umat dari kemampuannya berpikir cemerlang. Yaitu berpikir secara menyeluruh dan mendasar, menyelesaikan persoalan umat hanya berlandaskan iman kepada Allah.

Akhirnya demi menjaga pemikiran dan perasaan generasi agar tetap bersih berlandaskan Islam, dibutuhkan dakwah yang masif di tengah umat. Sebab jika tidak, bergesernya arah pandang anak-anak bangsa akibat pendidikan yang tidak tepat, serta mengarah pada ide-ide Barat, akan membawa umat pada kehancuran. Wallahu 'alam.

Penulis: Lulu Nugroho, Muslimah, Penulis dari Cirebon.