Menghijaulah Alamku

Menghijaulah Alamku
Muchtar (Mahasiswa Sinjai)

Burung-burung terbang dengan riangnya, kicaunya seolah berdendang, menari dan bernyanyi seperti menyambut sekaligus memberikan ucapan selamat datang di tempat tinggalnya yang masih terlindungi dan jauh dari tangan-tangan jahil penguasa.

Aku kagum dengan mereka yang tak terikat dengan hukum, bebas tanpa merasakan beban hidup yang di atur pemerintah. Terbang dari dahan ke dahan mencari tempat teduh untuk melanjutkan senduannya, merdu
dan nyaris menghipnotis para tamu kunjungan alam.

Kulanjutkan perjalananku, setapak demi setapak kujejaki. Kadang kuberhenti untuk mengumpulkan stamina. Hutan kususuri, sungai kusebrangi, lembah kutaklukkan, serta pendakian yang menjadi rintangan indah seolah memaksa keringat bercucuran membasahi tubuh.

Jejeran pohon menjadi topik utama perbincangan kami. Lumut hijau yang menyelimuti batang pohon seolah siap memberi kehangatan saat hujan membasahi. Sinar dari sang fajar kini tak mampu lagi menembus dedaunan yang begitu lebat dan menjadi atap para mahluk kecil.

Siang berganti malam, dan rembulan tetap bertahan di kegelapan. Bintang seakan terus berganti warna, namun keindahan itu terbatasi oleh kemenangan sang kabut. Hanya angin malam yang berpihak pada langit dan berulang kali meniup gumpalan asap itu.

Aku keluar dari tenda, menatap kilauan lampu-lampu yang jauh di sana, namun dingin memaksaku untuk kembali. Munkin hanya kopi hitam yang bertahan menghangatkan tubuh pada malam itu, ataukah kopi yang akan menjadi musuh saat ingin kuterbaring menutup mata.

Terima kasih tuhan. karena engkau sehingga aku masih bisa menghirup udara segarmu, semoga amanah yang kau berikan pada penguasa-penguasa kecil tidak pernah merampas tempat teduh mereka para binatang kecil, yang belajar mandiri dan jauh dari rahim sang ibunya.