-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ambisi Negara Kapitalis, Qasseem Soleimani Tewas

Kamis, 09 Januari 2020 | 19:02 WIB Last Updated 2020-01-09T11:02:50Z
Lorong Kata - Dikutip dari Wikipedia.com, Qassem Soleimani lahir pada 11 Maret 1957. Sejak 1998 ia memimpin pasukan Al Quds, unit militer khusus di tubuh Pasukan Pengawal Revolusi Iran. Pasukan Al Quds memiliki tugas menjalankan operasi-operasi bantuan militer maupun politik di luar wilayah Iran, demi kepetingan negara tersebut. Qassem merupakan veteran perang Irak-Iran. Sebagai kepala pasukan ekstrateritorial, Qassem memiliki hubungan sangat dekat dengan milisi Hezbollah di Lebanon.

Jakarta, CNN Indonesia -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam tindakan Amerika Serikat membunuh perwira tinggi militer Iran Mayor Jenderal Qassem Soleimani di Baghdad, Irak. Soleimani tewas dalam serangan pasukan AS bersama pemimpin milisi Hashed al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis.

"Pembunuhan yang dilakukan secara terencana oleh pemerintah AS ini tentu jelas  akan memantik ketegangan dan ancaman baru," kata Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas dalam keterangan tertulis, Minggu (5/1).

Abbas menyatakan Iran sebagai negara yang berdaulat tidak akan tinggal diam dan akan melakukan pembalasan terhadap pemerintah AS. Menurutnya, serangan Iran ini sangat mungkin tak terdeteksi oleh AS maupun negara lain.

"Sehingga tidak mustahil hal demikian akan  bisa menimbulkan bencana dan malapetaka yang jauh lebih besar lagi," ujarnya.

Dilansir juga dari CNBC Indonesia, Donald Trump selaku presiden AS mengeluarkan statement bahwa :"Kami mengambil tindakan untuk menghentikan perang," kata Trump dalam sebuah pidato perdana pasca insiden tersebut di stasiun televisi, dikutip CNBC.com, Sabtu (4/1/2020).

"Kami tidak mengambil tindakan [meluncurkan serangan udara] untuk memulai sebuah perang. Soleimani menjadikan kematian orang-orang tak berdosa sebagai hasrat miliknya," jelas Trump.

"Kami menangkapnya dan menghentikannya," tegas Trump, yang tidak membuka satupun tanya jawab dengan awak media terkait pernyataannya di resort miliknya, Florida.

Kematian sang jendral yang amat dramatis menimbulkan reaksi serius dari pemerintah Irak. Dalam sebuah pernyataan setelah kematian Soleimani, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengatakan, "Kepergiannya tidak mengakhiri jalannya atau misinya, tetapi pembalasan dendam yang kuat menunggu para penjahat yang membunuhnya dan para martir lainnya semalam dengan tangan mereka."

Parlemen Irak akan mengadakan pertemuan darurat pada hari Minggu (5/1/2020). Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi menyebut serangan rudal itu sebagai "pelanggaran kedaulatan Irak dan serangan terang-terangan terhadap martabat bangsa".

Bahkan, selain Soleimani di sana Pemimpin milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis juga tewas dalam serangan itu. Pasca serangan udara yang dilakukan AS mampu membunuh Qassem Soleimani ketegangan antara Iran dan AS semakin menjadi. Mengingat banyak tersiar kabar akan adanya serangan balik dari pihak pendukung sang Jendral. Maka, tak lama berselang waktu #WW3 (World War 3) menjadi trending topik di twitter.

Mendalami Akar Masalah

Menjadi seorang jendral yang diakui keahliannya dalam strategi perang membuat Amerika Serikat selaku Polisi dunia meradang. Pasalnya pergerakan dari Qassem Soleimani dianggap menjadikan pengaruh AS di wilayah Timur Tengah terancam melemah keberadaannya. Dengan demikian sebagai penjaga perdamaian AS ingin menghentikan hal yang terindikasi mengacaukan ikatan kemaslahatan mereka. Maka sang polisi dunia kapitalisme pun beraksi dengan berlindung atas nama perdamaian.

Soleimani dianggap sebagai teroris nomor satu paling berbahaya bagi AS. Musababnya adalah ia adalah seorang jendral ahli strategi perang yang bahkan sekaliber ISIS pun mampu dipukul mundur olehnya. Dengan hal ini lah AS merasa terancam eksistensi serta pengaruhnya di wilayah Timur Tengah. AS begitu berambisi memperkuat pengaruhnya di Timur Tengah, perihal tersedianya ladang minyak dan gas alam terbesar keempat di dunia di wilayah ini.

Soleimani telah bertahun-tahun dipandang sebagai arsitek dari banyak kegiatan Iran di Timur Tengah, termasuk upaya untuk menempatkan pijakan di Suriah dan serangan roket ke Israel, menjadikannya salah satu target paling dicari Israel dan AS.

Telah menjadi tabiat kapitalisme untuk menguasai sebanyak-banyaknya materi demi berlangsungnya proses kehidupan tanpa memandang apakah caranya halal atau haram, karena standarisasinya adalah bermanfaat atau tidaknya hal tersebut. Melalui sistem kehidupan yang dianutnya sekularisme yakni memisahkan aturan agama dari aturan kehidupan sosial maka pembunuhan sang jendral adalah sah-sah saja bagi mereka. Apalagi sang jendral merupakan batu sandungan bagi pengaruhnya di Timur Tengah. Mengapa pengaruh menjadi sangat penting bagi AS? Sebab ada minyak dan gas alam melimpah yang sejak dahulu sudah dibidiknya. Lagi-lagi tentang materi, tentang keuntungan dan manfaat. Padahal jika kita mundur ke beberapa tahun silam Amerika sempat mengecam aksi hukuman mati di Indonesia bagi pengedar narkoba jaringan internasional. Mereka mengatas namakan hak asasi manusia. Lalu hari ini mereka menghianati kesepakatan deklarasi human right yang mereka banggakan.

Pembunuhan jendral Qassem bukan semata karena untuk menghentikan terorisme atau menghentikan perang yang hendak dimulai. Namun, ini adalah bentuk posisi Amerika Serikat yang semakin merasa terancam keberadaannya. Negara adikuasa yang tentu saja sesuai asas kapitalisme hanya berpikir bagaimana seluruh keuntungan dan penguasaan strategis ada di pihaknya. Semua ini demi mempertahankan eksistensi negaranya sebagai super power bersama dengan ideologi yang diembannya. Maka sebisa mungkin hal apa pun yang mengancam keberadaannya tersebut dan kali ini dianggap melekat pada pasukan Quds harus dilenyapkan dengan cara melemahkan pemimpinnya melalui pembunuhan.

Pandangan Islam

Perihal pembunuhan, Islam tentu saja sangat melarang menghilangkan nyawa seseorang secara sembarangan. Jiwa seorang manusia dalam Islam sangat dimuliakan. Menjaga jiwa termasuk dalam tujuan pokok syariat yang mulia. Begitu banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadits Nabi saw yang memerintahkan untuk menjaga nyawa dan melarang keras dari segala hal yang dapat melukai atau mencederainya, apalagi sampai menumpahkan darahnya. Nabi Muhammad Saw bersabda: Hilangnya dunia beserta isinya sungguh lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim dengan tidak benar. (HR. Tirmidz)

Bahkan dalam kondisi perang sekali pun Islam telah mengatur secara ketat tentang siapa-siapa yang boleh diperangi. Bahkan pada suatu masa yang dapat dipetik dalam buku Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah, seorang tentara yang tak bersenjata dan dalam keadaan sudah tak berdaya pun tidak boleh diperangi. Sehingga para tentara yang terluka parah banyak yang mendatangi tenda pengobatan kaum muslimin. Pembunuhan di luar kondisi perang adalah sangat dilarang.

Wacana World War 3 telah Menggema di mana-mana. Dunia semakin mencekam sebab huru-hara di Irak ini berpengaruh pada naiknya harga kilang minyak dunia. Maka hal ini mempengaruhi perekonomian dunia secara sistemik. Segala permasalahan di atas dapat dirampungkan sekaligus dalam sekali tahap mana kala manusia tak lagi sesuka hati mengatur kehidupan ini. Sudah saatnya segala bentuk pengaturan baik sistem ekonomi, sistem pergaulan, sistem kehidupan sosial di ambil dari sumber Yang Maha Benar. Jika sistem ini digunakan secara keseluruhan bukan hanya nyawa saja yang akan dimuliakan, tapi berbagai aspek lainnya pun akan terpenuhi seperti harta, nasab, kemuliaan dan lain sebagainya. Kabar pembunuhan Jendral Soleimani telah menjadi kabar duka sekaligus pemberitahuan kepada kita bahwa saat ini yang merajai kapitalisme telah merasa terancam. Semoga ini adalah salah satu tanda Dari-Nya bahwa sebentar lagi akan turun tholabun nushro. Di mana kapitalisme semakin terdesak hingga akhirnya tumbang digantikan mabda Islam yang agung. Aamiin Allaahumma Aamiin

Penulis: Sindy Utami (Mahasiswa Fakultas Hukum USN Kolaka)
×
Berita Terbaru Update