Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Campakkan Dolar, Kembali Kepada Sistem Moneter Islam

Kamis, 16 Januari 2020 | 14:22 WIB Last Updated 2020-01-16T06:22:32Z
Lorong Kata - Seiring berjalannya waktu kepercayaan dunia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tampaknya semakin terkikis. Reuters pada Sabtu (21/12/2019) lalu mewartakan Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad dalam Konferensi Nikkei Future of Asia mengajak Iran, Malaysia, Turki dan Qatar agar ramai-ramai meninggalkan dolar dalam transaksi perdagangan mereka. Mahathir menyampaikan argumennya di hadapan petinggi masing-masing negara yang menghadiri konferensi tersebut dan mengajak mereka untuk beralih menggunakan mata uang emas sebagai solusi perdagangan bersama dan digunakan secara global oleh negara Timur Jauh. Gagasan ini dianggap sebagai strategi efektif untuk menghadapi embargo ekonomi AS sebagaimana yang saat ini menimpa Iran dan Qatar.Mahathir menghimbau agar Malaysia dan negara lainnya harus ingat bahwa keputusan sepihak untuk mengenakan sanksi serupasuatu saat dapat pula menimpa mereka.

Jauh sebelum seruan Mahathir, ada China yang merupakan salah satu negara paling gencar dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar, disamping juga ada Rusia dan Uni Eropa. China sebagai salah satu raksasa ekonomi Timur banyak melakukan interaksi perdagangan dengan AS yang tentunya juga menggunakan dolar dalam skala besar selama transaksi. Akibatnya China masih bergantung pada dolar AS dan tidak dapat lepas begitu saja dari pengaruhnya. Menyadari hal tersebut, negeri tirai bambu pun mengambil langkah ‘membuang’ dolar atau dedolarisasi dengan mendiversifikasi sebagian cadangan devisanya ke dalam mata uang lain selain dolar AS.

Bagaimana dengan Indonesia? Dilansir tirto.id, bank sentral Indonesia juga telah berusaha mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Beberapa langkah yang ditempuh adalah dengan memberikan banyak instrumen bagi investor asing agar mulus berinvestasi di Indonesia. Pemerintah sendiri mengambil peran dengan caramengelola fiskal secara optimal. Namun tetap saja upaya ini tidak mampu membebaskan Indonesia dari ketergantungan terhadap dolar secara utuh.Hal ini tampak pada cadangan devisa negara yang masih distandarkan pada dolar.

Sistem Moneter Kapitalisme Biang Masalah

Tidak dapat dipungkiri bahwa sampai saat ini sistem moneter dunia berada di bawah kendali Amerika Serikat dengan mata uang dolarnya. AS yang merupakan sarang ideologi kapitalisme menjadikan dolarsebagai alat untuk merajai panggung ekonomi dunia.Dolar AS pertamakali ditetapkan sebagai mata uang internasional bersandingkan emas pada Juni1944 dalam perjanjian Bretton Woods sebagai upaya untuk keluar dari kekacauan sistem moneter pasca perang dunia. Namun, pada tahun 1971 AS memutuskan secara sepihak bahwa nilai dolar AS tidak lagi dijamin dengan emas. Sejak saat itu greenbackmenjadi senjata ampuhbagi AS untuk merajai aset internasional di pasar dan mencengkeram kekayaan tersebut.Dari laporan US Trust tahun 2013 tercatat bahwa dolar AS yang merupakan mata uang cadangan dunia menyumbang sekitar 62 % dari cadangan bank sentral global pada kuartal IV 2012. Data IMF tahun 2019 pun menunjukkan dolar AS mencakup 58 % dari total mata uang cadangan devisa di dunia dan sekitar 40 % dari utang dunia dalam mata uang dolar. Ini menunjukkan dominansiyang begitu besar dari dolar AS atas negara-negara lain di dunia.

Dampak yang tidak kalah mengerikan dari penetapan tersebut adalah kurs pertukaran mata uang menjadi tidak stabil dan kerapkali berubah secara drastis. Sebab cengkeramannya yang sangat kuat, maka apa yang terjadi pada dolar AS akan mempengaruhi perekonomian negara-negara lain, termasuk negara berkembang. AS dapat memanipulasi kurs mata uang dunia hanya dengan menaikkan suku bunga yang akan menjadi pancingan bagi para investor untuk membawa investasi ke AS. Prinsip ekonomi kapitalisme yang dikendalikan berdasarkan hukum permintaan dan penawaran pun berlaku atas dolar AS. Ketika investor masyarakat dunia ramai-ramai menukarkan mata uang mereka dengan dolar, maka secara otomatis persediaan dolar akan menipis. Hal ini akan membuat dolar mengalami apresiasi dimana nilai tukarnya menguat, disaat yang sama mata uang negara lain akan melemah (depresiasi) terhadap dolar.

Depresiasi kurs mata uang suatu negara terhadap dolar akan menyebabkan inflasi. Inflasi mengandung implikasi bahwa uang tidak lagi berfungsi sebagai satuan hitungan yang adil dan benar. Sistem moneter akan menjadi tidak efisien dan akan menimbulkan ongkos moneter yang dipikul oleh masyarakat seperti meningkatnya pajak pertambahan nilai. Inilah yang kerapkali menimpa negara-negara lain termasuk negara berkembang sebagai konsekuensi internasionalisasi mata uang dolar. Rupiah pun tidak luput dari pengaruh dolar. Sepanjang sejarahnya, kurs rupiah terhadap dolar pernah bersujud di titik terendahnya pada tahun 1998 dimana hitungan rupiah mencapai Rp.16.000 per USD.Di pasar valuta asing saat ini kurs rupiah masihbermain-main di angka Rp.13.500 hingga Rp.14.000 per USD.Inflasi menyebabkan kemerosotan daya beli rupiah terhadap komoditas lainnya sebab nilainya mengalami depresiasi secara drastis.Harga barang dan jasa pun semakin lama semakin lepas kendali. Hal ini tentu memberatkan Indonesia yang masih berteman akrab dengan perdagangan internasional melalui aktivitas impor.

Inflasi merupakan keniscayaan bagi negara-negara penganut sistem moneter kapitalisme. Dolar AS yang sejatinya merupakan uang kertas (fiat money) secara intrinsik tidak berharga sama sekali. Fiat money hanyalah ilusi yang tidak memiliki nilai apapun kecuali secarik kertas.Ia berharga hanya karena dilindungi oleh undang-undang yang ‘memaksa’ masyarakat menerimanya sebagai alat pembayaran yang sah. Modal utama fiat moneyhanyalah sebuah kepercayaan. Asal kepercayaan terhadap mata uang mereka tetap baik, maka negara-negara seluruh dunia akan suka rela menerimanya. Negara-negara dengan sumber daya yang melimpah berupa minyak dan gas, produk tambang, produk perikanan dan pertanian akan mudah ditarik ke AS dan ditukar dengan dolar.Sungguhfiat money merupakan penipuan ekonomi paling kejam yang dilakukan oleh elit kapitalis untuk menguasai panggung ekonomi dunia.



Mengapa Harus Sistem Moneter Islam?

Bagaimana pun kuatnya cengkeraman dolar AS dalam panggung ekonomi dunia, suatu saat fiat money ini akan kolaps karena nilainya yang semakin lama semakin anjlok, disamping keberadaannya yang juga manipulatif. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu sistem moneter yang perkasa dan tidak manipulatif. Saat ini sistem mata uang emas menjadi solusi yang menarik perhatian dunia.

Emas merupakan logam mulia yang nilai intrinsiknya ada pada emas itu sendiri. Kesetimbangan molekul emas menjadikannya berharga dan diincar oleh setiap kalanganguna dijadikan sebagai perhiasan hingga industri dan teknologi.Emas juga diketahui sebagai mata uang anti inflasi. Kalaupun mengalami inflasi, hanya sekitar 0,1 % sejak emas digunakan sebagai mata uang. Berikutnya nilai emas terus meroket sebab nilainya yang istimewa.Sepanjang tahun 2019, harga emas meningkat tajammencapai 18 %, yaitu rentang USD 1281- USD1515 per troy ons.Dengan demikian, perbandingan emas dengan fiat money bagai langit dan bumi.

Emas sebagai alat tukar menukar sebenarnya telah dikenal sejak 2000 tahun yang lalu. Di masa Rasulullah SAW, emas dijadikan alat barteryang disebut dinar dan berdampingan dengan dirham (perak). Sistemmoneter ini terus berlanjut hingga 13 abad lamanya.Allah Swt mengharamkan segala jenis tindakan manipulatif dalam aktivitas ekonomi sehingga sistem moneter dinar dan dirham dipilih untuk mengambil alih roda perdagangan. Selain keberadaannya yang perkasa karena anti inflasi, pemberlakuan sistem moneter dinar dan dirham terutama adalah wujud ketaatan kepada Allah Swt.Oleh karena itu, sistem moneter dinar dan dirham tidak dapat diterapkan secara parsial, melainkan disertai dengan sistem ekonomi Islam.

Memang tidak mudah untuk lepas dari cengkeraman dolar AS, sebab Paman Sam tidak akan turun dari singgasana negara adidaya begitu saja.Dibutuhkan sebuah negara dengan kekuatanindependen dari segi politik, ekonomi,pendidikan, teknologi, militer dan lain-lain yang dapat melawan dominansi AS. Negara seperti ini hanya dapatdiwujudkan jika negeri-negeri muslim bersatu di bawaah kekuatan Khilafah Islamiyah. Wallahu ‘alam.

Penulis: Nurul Wahyuni Agustina (Mahasiswi Fakultas MIPA)
×
Berita Terbaru Update