Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Generasi Millenial Terpapar Sekulerisme Radikal, Bagaimana Solusinya?

Sabtu, 22 Februari 2020 | 08:53 WIB Last Updated 2020-02-22T00:53:02Z
Fahira Arsyad (Aktivis Back to Muslim Identity)
Lorong Kata - Remaja saat ini seolah kehilangan jati dirinya, slogan agen of change hanya tinggal kenangan saja. Bagaimana tidak, kenakalan remaja telah menjadi perbuatan yang lazim dan kian marak terjadi di Indonesia. Mulai dari kasus tawuran, sex bebas, pengeroyokan hingga kasus bullying yang kerap kali terjadi di kalangan terpelajar yang sampai saat ini tidak ada tindakan nyata untuk mencegah kasus bullying tersebut.

Kasus terbaru terjadi di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Purworejo, Jawa Tengah. Sebuah video yang beredar di dunia maya tampak menayangkan tiga orang siswa laki-laki membully seorang siswi perempuan yang notabene nya teman sekolahnya sendiri. Dalam video tersebut, mereka menendang dan memukul korbannya secara bergantian bahkan ada yang memukul dengan gagang sapu. Sedangkan korban yang tampak tidak berdaya hanya bisa menundukkan kepala di mejanya sambil menangis. Diketahui unggahan video yang berdurasi 28 detik itu seketika viral. (12/2/2020).

Tentu saja, kejadian miris ini membuat banyak pihak merasa prihatin. Ganjar Pranowo selalu gubernur Jawa Tengah bahkan turun tangan untuk memantau lansung kasus tersebut. Ganjar mengaku segera menelepon kepala sekolah tempat kasus tersebut terjadi hingga memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk datang ke Purworejo.

Seperti yang dilansir oleh REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, sepanjang tahun 2009 hingga 2019 KPAI mencatat ada 37.381 pengaduan mengenai anak. Terkait dengan kasus perundungan, baik di media sosial maupun di dunia pendidikan, laporannya mencapai 2.473 laporan. Bahkan Januari sampai Februari 2020, setiap hari publik kerap disuguhi berita fenomena kekerasan anak. Seperti siswa yang jarinya harus diamputasi, kemudian siswa yang ditemukan meninggal di gorong gorong sekolah, serta siswa yang ditendang lalu meninggal.

Jika melihat segala macam kasus penyimpanan diatas, tentu akan muncul ke khawatiran yang besar jika perbuatan tersebut terjadi secara terus menerus. Sebab jika gambaran remaja saat ini dibiarkan begitu saja, tanpa adanya solusi tuntas maka dampaknya akan begitu besar bagi kehidupan negara kedepannya.

Ketika kita menelusuri kembali, tentu problematika kejadian yang ada saat ini tidak terjadi begitu saja. Dikarenakan secara tidak sadar remaja milenial saat ini telah terpapar pemikiran yang rusak dari segala arah.

Di mulai dari akar persoalan yaitu pola pendidikan yang sekulerisme-liberal (memisahkan agama dari kehidupan) hingga setiap siswa bebas dalam menjalani kehidupan yang di ingin tanpa ada pembatasan yang tegas singgah hal tersebut berdampak pada perilaku yang buruk.

Disisi lain media informasi dibarengi konten tontonan saat ini cenderung merusak moral dan tidak mencerdaskan. Adengan sinetron yang menampilkan aktivitas pacaran, tawuran dan semacam nya tanpa sadar akan mempengaruhi pola pikir lalu setelah nya aktivitas tersebut dianggap menjadi suatu hal yang lumrah dan patut untuk di tiru.

Selanjutnya ialah lingkungan yaitu keluarga dan orang sekitar. Sekiranya orangtua memang menjadi benteng pertahanan utama setiap remaja, selain membentuk karakter dan pola pikir yang baik hendaknya orangtua juga memberikan pemahaman yang kokoh dan benar sesuai dengan apa yang di gambarkan dalam Islam.

Tetapi ada juga sebagian remaja yang nyatanya telah di berikan pendidikan yang baik berupa moral dan pemikiran yang benar nyatanya tetapi akan rusak ketika berada di lingkungan masyarakat.

Maka sejatinya Islam memandang bahwa untuk menjaga generasi bukan hanya tugas orang tua maupun guru, akan tetapi perlu peran khusus dari negara juga masyarakat. Sebab negara memiliki andil yang sangat besar juga sebagai kontrol untuk menciptakan perilaku yang baik pada generasi. Begitu pula masyarakat, mereka memiliki andil dalam menasehati juga mencegah kepada hal yang buruk.

Oleh karena itu, selain di butuhkan andil besar dari orang tua, masyarakat dan negara juga memerlukan solusi tuntas dalam menyelesaikan kasus bullying tersebut. Hanya saja solusi yang diinginkan tak akan terwujud jikalau tata aturan kehidupan yang di ambil bersumber dari tata kehidupan sekuler-liberal.

Karena bukti nyata telah terpampang jelas di depan mata, aturan tersebut telah gagal membangun sistem pendidikan yang ada, membentuk individu yang bebas tanpa adanya aturan yang mengontrol juga menjadikan masyarakat cenderung abaikan dan bersifat permisif. Maka dari itu mendudukan Islam sebagai poros dalam menjalankan segala aktivitas kehidupan sejatinya akan melahirkan individu dan generasi yang bertaqwa disertai kepribadian yang baik sesuai dengan visi yang islam ajarkan.

Penulis: Fahira Arsyad (Aktivis Back to Muslim Identity)
×
Berita Terbaru Update