Integrasi Keilmuan dan Keimanan

Lorong Kata - Berbicara tentang keilmuan, Islam sebagai Diin yang syamil dan kamil telah menempatkan ilmu ini dalam posisi sangat penting. Salah satunya al-Qur’an menyebut kata ‘ilm dan deravisanya sebanyak 750 kali. Sehingga orang berilmu menempati posisi mulia.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Subhanahu Wata’ala Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11).

Dalam satu hadits dijelaskan, mencari ilmu juga mendapatkan tempat yang mulia; “Barang siapa yang mencari ilmu maka ia di jalan Allah Subhanahu Wata’ala sampai ia pulang.” (HR. Tirmidzi).

Bangunan pemikiran Islam tidak pernah memisahkan antara iman dan ilmu pengetahuan. Karena pada hakikatnya ilmu pengetahuan dipelajari bermuara pada satu tujuan penting, mengenal Allah Subhanahu Wata’ala, beribadah kepada-Nya dan memperoleh kebahagiaan hakiki di akhirat.

Sekarang kita bawa pemahaman tadi ke realitas hari ini. Tak sedikit kita jumpai hari ini, banyak kaum muslimin yang memiliki title keilmuan justru malah menjadi pelaku amoral bahkan kriminal. Hal tersebut dapat kita buktikan dari penampakan kasus pergaulan bebas, narkoba, LGBTQ, inses, praktik aborsi, pornografi-pornoaksi, atau budaya kekerasan yang nampak kian lekat dalam kehidupan masyarakat hari ini dan rata-rata pelakunya dari kalangan generasi terdidik.

Kasus lain yakni perilaku koruptif yang juga kian parah menjangkiti para pejabat negeri. Bahkan diantara mereka ada yang rela menjual kedaulatan negara dan berkhidmat untuk kepentingan aseng maupun asing. Padahal mereka, lagi-lagi merupakan kaum terdidik.

Mirisnya lagi ketika perilaku degradasi adab dan degradasi moral yang sudah semakin memprihatinkan dikalangan terdidik, justru dibuat berdampingan dengan agenda deradikalisasi. Padahal jelas, perilaku amoral yang terjadi dan terus mengalami peningkatan ini disebabkan karena semakin dijauhkannya ajaran agama dari kehidupan.

Pendidikan sekularistik yang telah berlangsung hingga saat ini nyaris gagal membawa nilai-nilai kebaikan. Pendidikan yang ada selama ini hanya mampu mengasah skill dan kecerdasan, tapi nyaris mengasah keluhuran adab dan ketinggian moral. Banyak ilmuwan yang diproduksi, tapi kebanyakan dari mereka semua yang punya ilmu justru tidak menjadikan keilmuan tersebut sebagai stimulus dalam mengkristalkan keimanan dan membuahkan akhlak mulia.

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah petunjuknya, maka tidak akan bertambah kecuali dia akan makin jauh dari Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR. al-Dailami).

Maksudnya, orang yang bertambah informasi pengetahuannya, namun tidak bertambah imannya, maka orang tersebut dijauhkan dari petunjuk Allah Subhanahu Wata’ala. Naudzubillah...

Habitat pendidikan sekuleristik ini juga semakin memperparah kondisi kaum muslim terdidik yang amat silau terhadap peradaban barat. Alhasil, kesilauan itu menjadikannya latah dan tidak mampu lagi membedakan 2 hal dalam pengetahuan. Yaitu ilmu dan tsaqafah.

Ilmu adalah pelajaran yang mencakup hukum alam yang bekerja mengatur benda-benda mati. Seperti ilmu fisika, matematika, kimia, dan semacamnya. Sedangkan tsaqafah adalah pelajaran yang cakupannya mengenai hukum-hukum yang bekerja pada manusia dan hubungannya dengn manusia yang lain. Seperti sosiologi, antropologi, atau semacamnya. Makanya, bagi kita yang muslim perlu hati-hati disini. Jangan sampai akibat kesilauan kita pada dunia barat justru menjadikan kita sulit memilah antara ilmu dan tsaqafah.

Sebab, peradaban barat hingga hari ini memperlakukan keduanya sama. Ilmu sebagai sains dan tsaqofah sebagai sosial sains. Dalam menggali pengetahuan terkait sains maupun sosial sains, barat menerapkan metode penelitian experimental. Ini juga menunjukkan bahwa barat memang tak mampu membedakan antara benda mati dan manusia.

Padahal, benda mati tak memiliki akal dan hati. Makanya tidak relevan jika mencampuradukkan hukum dalam pengaturan kehidupan manusia disamakan dengan cara kita menghukumi benda mati dan diuji dalam bentuk eksperimen. Makanya, disinilah urgensi menjadikan akidah sebagai asas dasar kita dalam menuntut ilmu. Sebab, hanya berangkat dari pemahaman aqidah islam yang benar maka kita bisa fokus mengorientasikan tujuan dasar kita menuntut ilmu untuk mencapai ridha Allah Subhanahu Wata’ala Subhanahu Wata’ala, bukan sekedar demi tuntutan duniawi. Apalagi jika hanya sekedar mencari nilai dimata manusia.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Berikut ini beberapa tips singkat dalam mengintegrasikan keilmuan dengan keimanan adalah:

1. Niat yang benar.
Niat kita menuntut ilmu adalah lillah karena ini sebagai perwujudan ibadah kepada Allah. Bukan karena yang lain.

2. Doa
Jika niat sudah benar, maka doa tetap kita perlukan. Berdoa agar senantiasa dijaga niatnya, berdoa aga senantiasa dimudahkan dalam segala proses belajar.

3. Pelajari Islam mulai dari aqidah
Pondasi Islam ada pada aqidah. Pembelajaran untuk menginternalisasikan aqidah islam ke dalam diri kita agar mengkristal diperuntukkan agar kita tidak menjadi muslim yang latah dan mampu memilah. Mana ilmu teknis dan mana ilmu yang memiliki muatan pandangan hidup yang bertentangan dengan islam. Ilmu yang jelas bermuatan pandangan hidup yang bertentangan dengan Islam tidak bisa kita jadikan sebagai pemahaman. Karena itu sarat dengan pendangkalan aqidah

4. Banyak pupuk kesabaran
Tidak dapat kita pungkiri, dalam menuntut ilmu pasti slalu ada ujian niat. Yakinlah bahwa, tiap ujian yang kita hadapi dalam proses menuntut ilmu adalah cara Allah menempah kita agar tidak putus asa. Ingat, kemahiran lahir dari keamatiran yang terus ditempah dalam tekanan yang panas.

PertolonganNya pun selalu saja datang tepat pada waktunya. Saat dimana kita sendiri nyaris nyerah. Tapi lagi-lagi, karena dari awal niat kita sudah benar, maka Allah seketika berikan kita kekuatan dan kemudahan lulus ke level ujian berikutnya.

Bagaimanapun, tidak ada ilmu yang diperoleh dari hasil yang biasa-biasa. Semua pasti butuh pengorbanan dan keseriusan kita. Makanya banyak sabar, setelah berupaya keras dan banyak doa agar kita tidak mudah bosan dalam menuntut ilmu.

5. Butuh support system
Layaknya hijrah, menuntut ilmu juga memerlukan sebuah support system. Support system itu bernama jama’ah. Dengan jama’ah, kita bisa dibantu agar kita senantiasa stay on the right path.

6. Jangan lupa berbagi
Poin ke enam ini terlihat sepeleh. Namun percayalah... kadang menurut kita, ilmu yang kita miliki hingga saat ini masih bersifat receh, tapi ternyata setelah kita share ke publik, orang lain justru menganggap bahwa ilmu kita yang kita share tersebut tidaklah receh dan justru dibutuhkan oleh orang lain. Pokoknya, selalu ada masa dalam part berbagi ilmu ini, Allah tambahkan limpahan kesyukuran luar biasa karena telah berbagi apa yang kita miliki.

Berbagi ini juga menjadi salah satu dari tanggungjawab keilmuan yang kita miliki. Dengan berbagi, kita juga biasanya mendapatkan feed back dari audiens. Pada tahap ini, tentunya akan terus berlangsung proses pembelajaran lagi dan pengembangan ilmu yang diharapkan bisa semakin menambah keimanan.

Sebab betapa banyak inovasi yang lahir dari hasil diskusi sederhana. Jadi, jangan sepelehkan untuk berbagi ilmu dengan niat lillah. Kita tak pernah tahu, pada fragmen mana lagi dalam hidup ini yang bisa menjadi moment dimana Allah beri kita petunjukNya.

Sebagai penutup, penulis ingin kembali mengutip salah satu hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

“Orang yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Mereka adalah orang-orang yang berakal.”

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala memudahkan kita semua menjadi orang yang cerdas, sebagaimana yang dimaksudkan dalam hadits tersebut. Aamiin Allahumma Aamiin

Penulis: Despry Nur Annisa Ahmad (Aktivis Muslimah, Pengajar, dan Peneliti)