Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Jadilah Penulis Ideologis Islam Yang Menegakkan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar

Minggu, 15 Maret 2020 | 10:39 WIB Last Updated 2020-03-15T02:39:57Z
Ilustrasi
“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan laranglah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”
(QS, Luqman 17)

Lorong Kata - Ayat tersebut menjelaskan bahwa menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar adalah suatu kewajiban bagi manusia. Apa sih yang dimaksud Amar ma'ruf nahi mungkar? Menurut Wikipedia Amar makruf nahi mungkar (bahasa Arab: al-amr bi-l-maʿrūf wa-n-nahy ʿani-l-munkar) adalah sebuah frasa dalam bahasa Arab yang berisi perintah menegakkan yang benar dan melarang yang salah. Dalam ilmu fikih klasik, perintah ini dianggap wajib bagi kaum Muslim. "

Dengan cara apa menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar tersebut?

Dari Abu Sa’id Al Khudry -radhiyallahu ‘anhu- berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49).

Dari hadist tersebut, diberikan sesuai kemampuannya. Lantas sudahkah Anda mengenal kemampuan apa yang telah dimiliki, untuk ikut dalam menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar. Jika kemampuan Anda sebagai penguasa tegakkan itu dengan kekuasaannya, jika seorang penulus tegakkanlah dengan lisannya, yang diwakilkan oleh tulisannya, dan jika ada seseorang yang tidak memiliki kemampuan apa-apa cukup dengan hatinya.

Allah memberikan kemudahan bagi hambanya. Hanya ingin mengetahui seberapa besar kemampuan usaha hambanya, dalam menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar. Dan saat ini banyak perang pemikiran (ghozul fikri) melalui tulisan yang mencoba menyesatkan pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan hukum syara. Maka dengan itu kewajiban bagi para pejuang literasilah untuk ikut terjun, dalam melawan hal tersebut dengan tulisan lagi.

Karena orang-orang yang memusuhi islam, tidak akan berhenti berperang baik dari perang fisik maupun dalam pemikiran. Sampai umat islam mengikuti langkah mereka. Usaha-usaha yang digencarkan tujuannya tidak lain adalah untuk memadamkan cahaya islam, agar generasinya lemah dan tunduk pada perintah manusia, yang membanggakan kehidupan duniawi mengejar materi yang tidak pernah abadi. Sehingga melupakan kehidupan akhirat yang sejatinya memberikan keabadian. Kembali kepada Allah meraih ridhaNya.

Sesuai dengan surat Al-Baqarah ayat 217
Allah Subhanau wa Ta’ala berfirman :

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (Al Baqarah : 217).

Tidak heran sekarang sudah nampak permusuhan demi permusuhan oleh mereka terhadap unat islam. Mereka sengaja menggecarkan islam phobia juga terhadap diri umat muslimnya sendiri, agar tidak percaya dan patuh dengan aturan Allah yang mengatur kehidupan manusia, bahkan agar umat muslin sampai membenci agamanya sendiri.

Hingga akhirnya memisahkan kehidupan dengan agamanya sendiri. Hal itu dilancarkan melalui media agar mudah tersebar. Dengan tindakan menjatuhkan karakter muslim itu sendiri.

Sunguh miris bukan? Maka sejatinya untuk para penulis, jadilah kegiatan menulus itu sebagai sarana dakwah menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar yang memiliki sisi pemikiran ideologi keislaman.

Mengatasnamakan aturan Allah lah yang sesungguhnya harus digunakan, sebagai pedoman dalam menjalan kehidupan di dunia. Dan itu tidak mudah, dibutuhkan kemampuan yang tajam dan kuat untuk mendapatkan pengetahuan demi pengetahuan dalam segala aspek kehidupan.

Bagaimana cara penulis ideologi islam mampu menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar sebagai sarana dakwah diantaranya:

Pertama. Penulis muslim berideologi islam harus memiliki ketaqwaan penuh kepada Allah, agar segala yang dituliskannya adalah bentuk amanah yang nanti akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat sehingga benar-benar mencari sumber berita yang aktual, terpercaya dan valid.

Kedua. Penulis muslim berusaha tabayyun untuk menulis hal-hal yang terjadi, selalu dikaji secara seksama, teliti dan hati-hati.

Ketiga. Penulis ideologi islam harus meyakini bahwa hanya islamlah sebagai akidah yang aplikatif yang menghasilkan peraturan-peraturan (nizham) secara integral dan universal. Sehingga ia memiliki fikrah (pemikiran) dan thariqah (cara untuk menyelesaikan permasalahan. Dicarikan solusinya dengan mengembalikan segala aturan kehidupan di dunia pada pedoman muslim yaitu Al-quran dan As-sunnah. Karena hanya hukum islam hukum Allah, yang mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi.

Keempat. Penulis ideologi islam terus istiqomah menebarkan kebenaran dan menyampaikan bahwa tidak ada hukum buatan manusia yang sempurna, mampu mengatur kehidupan manusia di dunia. Hanya hukum aturan Allah yang sempurna sebagai petunjuk sebagai pengatur.

Seperti yang tetuang dalam surat An-Nahl ayat 89: Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

Hal demikian semoga menjadi landasan untuk para penulis ideologi islam, untuk bersungguh-sungguh menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar, sesuai mabda islam sebagai sarana dakwah menjaring jariyah meraih ridha Allah.

Penulis: Asri Mulya
×
Berita Terbaru Update