Refleksi Isra Mi'raj: Meneladani Cara Nabi Saw Menangani Wabah

"Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.”
(Al-Ahzab: 21)

Lorong Kata - Ada momen yang luar biasa di bulan Rajab, bulan yang selalu dinanti umat Islam dan banyak peristiwa sejarah di dalamnya. Bulan penghantar pada Ramadhan, maka tak heran sering dijumpai doa-doa agar umat Islam sampai pada bulan Rajab dan Sya'ban, dua bulan sebelum Ramadhan.

Peristiwa sejarah yang unforgatable di bulan Rajab salah satunya ialah Isra Mi'raj, hasilnya ialah kewajiban sholat lima waktu. Namun, yang utama ialah bagaimana umat Islam dapat meneladani apa saja yang pernah dicontohkan Rasul selama hidup baik sebagai utusan Allah, kepala negara, kepala keluarga, dan sebagainya.

Umat Islam merasa senang merayakan peringatan Isra Mi'raj, perayaan kali ini bertepatan dengan musibah yang melanda negeri ini yaitu wabah atau virus Corona. Virus yang potensi mematikannya tidak terlalu besar tapi penyebarannya luar biasa pesat. Maka refleksi umat Islam pada peringatan Isra Mi'raj kali ini hendaknya meneladani bagaimana cara Rasul dahulu dalam menangani wabah yang menular dan belum ditemukan obatnya.

Sabda Baginda Nabi Saw: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari)

Di zaman Rasululullah SAW pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra. "Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta." (HR Bukhari).

Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. Di zaman Rasulullah SAW jikalau ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha'un, Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk.

Tha'un sebagaimana disabdakan Rasulullah saw adalah wabah penyakit menular yang mematikan, penyebabnya berasal dari bakteri Pasterella Pestis yang menyerang tubuh manusia. Jika umat muslim menghadapi hal ini, dalam sebuah hadits disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit. "Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya)." (HR Bukhari).

Konsep yang dilakuakan oleh Nabi Saw adalah isolasi (lockdown), hanya dengan isolasi wabah tidak menyebar ke tempat lain. Nabi Saw kekasih Allah Swt, sangat yakin Allah Swt akan menghilangkan wabah ini, dan keyakinan ini dibarengi dengan sikap menjaga kaidah kausalitas. Berdoa tetap dilakukan sebagai sebuah pengharapan dan penghambaan hanya padaNya.

Di sisi lain, Islam tetap harus mengajarkan kaidah kausalitas, bahwa ketika di sebuah daerah terdapat wabah maka jangan keluar dari daerah tersebut agar wabah tidak menyebar. Begitupun sebaliknya, daerah yang tidak ada wabah jangan masuk ke daerah yang ada wabah agar tidak terjangkit. Jadi kurang tepat jika ada ungkapan, manusia hanya takut kepada Allah bukan wabah. Takut pada Allah benar ini hal yang sangat utama berkaitan dengan keimanan.. Namun, takut kepada wabah bukan dimaksudkan pada keimanan tapi pencegahan agar tidak terjangkit wabah.

Betapa Islam sangat detil, aturan preventif dan pencegahan sudah dicontohkam Baginda Nabi Saw ketika wabah nyata terjadi di suatu tempat. Bahkan, Islam mengajarkan konsep kebersihan seperti mencuci tangan, berwudhu, menutup aurat, mandi besar dan kecil, ketika bepergian hendaknya memiliki wudhu begitupun tidur sebelumnya berwudhu, sebagai bagian preventif agar tidak mudah kena penyakit apapun.

Semoga umat Islam di negeri ini bisa meneladani Baginda Nabi Saw dalam menangani wabah, terutama pemerintah yang memegang otoritas dan kebijakan. Karena pemimpin dalam Islam ibarat penggembala yang mengurusi gembalaannya, dan amanahnya akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah Swt. Allahu A'lam bi Ash Shawab

Penulis: Sherly Agustina, M.Ag (Revowriter Waringin Kurung)