Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Di Rumah Aja

Kamis, 09 April 2020 | 14:56 WIB Last Updated 2020-04-09T06:56:10Z
Lorong Kata - Kalimat "Di rumah aja" menjadi wajah baru yang diperbincangkan di layar publik. Dari iklan hingga berita, dari kantor hingga kos-kosan.

Nyanyian klakson di jalan umum tak terdengar, sunyi menyelimuti setiap ruang, dan gerak pun menjadi terbatas, terbatas karena harus di rumah aja.

Hiruk pikuk emak-emak di pasar ikan tak terdengar, Masjid-masjid ditutup, suara adzan pun berkurang, ini tak lain mengikuti himbauan di rumah aja.

Keselamatan adalah penting. Kondisi darurat membolehkan kita ibadah di rumah, kata Ulama. Sinonimnya, di rumah aja.

Di rumah aja adalah baik bagi mereka yang berkecukupan, buruk bagi mereka yang kekurangan. Dua ketakutan menghantui mereka yang hidup serba kurang, takut korona dan takut atas himbauan pemerintah.

Bila keluar mati karena corona, bila dirumah mati karena lapar, itulah yang terbayang dalam kepala mereka yang hidup serba kurang.

Pedihnya rasa di benak publik tak dapat sentuhan hangat dari mereka yang berkuasa. Penghuni istana sibuk berkicau membebaskan nara pidana koruptor.

Sunggu memprihatinkan. Di tengah pandemi covid-19 yang bayak melahap manusia, penguasa hanya terlihat beracah-acah.

Untuk menimbun elektabilitas dan memperkokoh eksistensi kekuasaan, hadirnya corona pun dimanfaatkan.

Di parasmanan media, tak sedikit sajian berita memperlihatkan kekakacauan penguasa dalam menanggapi pandemi yang menimpa bangsa ini.

Aksi lapor-melapor dan caci-mencaci masi saja mengihiasi ruang publik, di saat ketegangan masyarakat mencapai titik puncak dalam menghadapi pandemi covid-19.

"Jaga jarak, dirumah aja" terus di dengungkan tanpa henti, agar publik tahu, mereka (penguasa) sangat serius menyikapi persoalan pandemi yang sedang berlangsung.

Hingga kini, suara keluh masi terdengar dari lorong ke orong, dari rumah ke kerumah. Apakah mereka (penguasa) tidak mendengar?

"Di rumah aja" kini perlahan berubah menjadi kalimat yang peyorasi, akibat kebijakan penguasa tidak berdampak positif bagi warganya.

Kata lain "di rumah aja" adalah siapkan dirimu untuk dicekik penguasa. Begitulah kira-kira tafsiran dari mereka yang serba kurang.

Melarang keluar rumah mencari nafkah artinya menyuruh mereka membunuh keluarganya. Bila pemerintah tak mampu menjamin kehidupan masyarakat selama wabah covid-19 ini berlangsung, maka selama itu pula tak semua masyarakat mengikuti himbauan di rumah aja, dan itu pertanda ketidak mampaun pemerintah menjamin kesejahteraan warganya dalam situasi darurat.

Hadirnya corona (covid-19) memperlihatkan kepada kita, betapa lemahnya pemerintah dan miskin akan gagasan dalam penanggulangan masyarakat dalam kondisi darurat.

Dalam kondisi darurat, berikanlah ruang pada intelek yang diyakini mampu menghasilkan berbagai ide cemerlang dalam menanggulangi persoalan. Meskipun para intelek tersebut dari pihak oposisi. Peristiwa semacam ini bukan upaya untuk menyelamatkan suatu pemerintahan, tapi untuk menyelamatkan rakyat.

Tak semua yang tergabung dalam pemerintahan  merupakan para intelek yang diyakini dapat melahirkan kebijakan yang pro rakyat. Sebab itulah, dalam kondisi darurat seperti ini lepaskanlah ego kekuasaan dan libatkan mereka yang mempunyai kapasitas keilmuan yang cukup dalam menciptakan iklim kesejahteraan bagi masyarakat ditengah mewabahnya virus corona (covid-19).

Persoalan keselamatan warga negara seharusnya menjadi prioritas tunggal dalam kondisi seperti sekarang ini, jangan di cemari dengan kepentingan politik. momen ini bukanlah kompetisi menyedot untung.

Menjadi sulit untuk sampai pada puncak penyelesaian masalah, bila setiap penanggulangan masalah masi disisipkan kepentingan dan pameran kebaikan demi menyedot simpati publik demi mengamankan citra politik.

Kibijaksanaan diperlukan, egoisme disingkirkan, keselamatan rakyat diutamakan, namun semua itu tak terlihat saat menaggulangi persoalan wabah covid-19 ini. Yang terlihat adalah pameran figur, menyedot untung, dan menimbun elektabilitas, hingga kita sampai pada tindakan penanganan wabah yang tak berkualitas.

Sungguh berbahaya, bila budaya semacam ini masi terus terlestari, secara alamiah akan terwarisi pada generasi yang akan datang, dan kehidupan semacam itulah akan menghantarkan kita pada satu penderitan ke penderitaan yang lain.

Salah satu harapan leluhur pendiri bangsa adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hendaklah direalisasikan, dan itu poin penting yang harus di pahami oleh mereka yang berkuasa.

Namun, hingga kini, tak terlihat distribusi keadilan yang merata oleh penguasa disaat warga tengah menglami penderitaan.

Gejalah ini merupakan pertanda krisis penguasa atas nilai luhur yang dibangun oleh pendahulu sebagai landasan berwarga negara, itu terjadi karena kekurangan pengetahuan. Penguasa yang tak berpengetahuan adalah bencana, dan bencana harus dimusnahkan.

Penulis: Ikbal Tehuayo
×
Berita Terbaru Update