Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Menggantung Harapan Pada Ilahi, Benarkah Solusi Terakhir Rakyat?

Jumat, 03 April 2020 | 10:28 WIB Last Updated 2020-04-03T02:28:38Z
Lorong Kata - Ditengah pandemi Covid-19 yang semakin hari semakin bertambah, ada sebuah keresahan bilamana harapan rakyat yang tak kunjung terealisasikan. Harapan tersebut di gantungkan pada sang pemimpin negeri ini, dimana tahun lalu rakyat berbondong - bondong memilihnya dengan rasa antusias. Hal tersebut pun dimaknai sebagai simbol perwujudan pesta demokratis yang damai.

Namun setelah terpilih dan menjadi pemimpin negeri ini. Sungguh, ada yang berbeda sikapnya saat tahun lalu ketika sedang menghadapi pemilihan. Dimana, rakyat di eluk- elukan oleh calon pemimpin tersebut dan para pendukungnya pada waktu itu. Janji manis pun menjadi senjata untuk bisa dipilih.

Kini harapan rakyat seolah tak berjalan sebagaimana mestinya, ketika sekarang rakyat sedang membutuhkan sosok pemimpin yang telah dipilihnya untuk hadir ditengah kegelisahan mereka guna untuk membantu baik secara moril maupun material tetapi sayangnya itu hanya sebuah mimpi disiang bolong.

Mengapa demikian, kebijakan atas pandemi covid-19 membuka mata rakyat betapa lemahnya rasa cinta pemimpin pada rakyatnya. Saat pemimpin dibelahan negeri lain antusias memikirkan nasib rakyatnya bahkan melakukan Lockdown diawal masuknya wabah covid-19 berbeda halnya dengan pemimpin di negeri ini yang masih memikirkan ekonomi ketimbang nyawa rakyatnya yang setiap hari berguguran.

Padahal, secara akal bisa terpikirkan bahwa ada dan tidaknya wabah pasti akan terjadi krisis ekonomi yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan dalam menghadapi hal tersebut. Berbeda halnya, dengan rakyat yang merenggang nyawa akibat wabah ini. Meskipun kematian adalah hal yang pasti namun pokok permasalahannya bukanlah kematiannya melainkan mereka mati meninggalkan bekas yakni penularan penyakit pada orang yang sehat.

Adapula, kebijakan social distance atau stay at home selama 14 hari yang ditawarkan oleh pemerintah untuk menimalisir penyebaran wabah ini. Dilansir media detik.com, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar masyarakat melakukan social distance guna mencegah penularan virus corona atau COVID-19. Hal itu disampaikan Jokowi pada Minggu (15/3/2020).

Jokowi juga meminta agar masyarakat untuk tidak panik. Kegiatan yang biasa dilakukan di luar, seperti bekerja, belajar dan beribadah bisa dilaksanakan di dalam rumah. "Saat ini yang penting social distance, menjaga jarak. Dengan kondisi itu, kita kerja dari rumah, belajar dan ibadah di rumah," jelas dia.

Tujuan dari itu pun sangat mulia bagi rakyat tetapi itu hanya bisa dilakukan oleh kalangan berduit sedangkan rakyat biasa yang menggantungkan hidup melalui buruh kasar tak memberikan efek apapun malahan mereka akan lebih memilih mati karena wabah covid-19 atau mati karena kelaparan. Pilihan yang membingungkan bagi rakyat memilih taat pada pemimpin dengan tinggal dirumah dengan tujuan menjaga jarak ataukah membiarkan istri, anak- anak dan sanak keluarganya mati kelaparan didepan matanya.

Seharusnya, ketika pemerintah ingin didengar oleh rakyatnya dengan tetap berdiam diri dirumah dan menjaga jarak maka yang perlu dilakukan adalah memberikan bantuan berupa bahan makanan pokok hal itu pun akan menimalisir pergerakan mereka karena sudah mempunyai alasan untuk tetap tinggal dirumah dan rakyat pun akan merasa bahwa pemimpin mereka hadir di atas kebingungan mereka selama ini.

Namun kemudian, sampai sekarang pun belum ada kebijakan seperti itu. Sehingga, rakyat pun semakin ngeyel pada pemimpinnya. Sikap rakyat yang seperti itu adalah hal yang wajar mengingat mereka butuh makan dan makanan adalah kebutuhan primer bagi tubuh sebagai penumpang kelagsungan hidup manusia.

Kini, saat harapan rakyat tak diwujudkan oleh pemegang kekuasaan negeri ini maka satu - satunya jalan adalah mengantung harapan pada sang pemilik jagat raya ini. Harapan kepada Ilahi yang sangat mustahil menghianati mereka. Anggapan itu, terlihat ketika mereka harus keluar rumah untuk tetap bekerja demi keluarganya, dengan berserah diri pada perlindungan Allah akan hal apa yang akan mereka temui.

Salah satunya kisah Dede, salah satu kurir itu, mengaku cemas tetap beraktivitas di luar rumah. Meski begitu, ia lebih khawatir tak memberi nafkah keluarganya ketimbang tertular virus corona dari salah satu pelanggannya."Saya ada rasa takut, tapi kalau tidak masuk kerja, saya enggak digaji. Kurir digaji per jumlah antaran. Kalau antaran banyak, gaji lumayan besar, kalau sepi ya gaji kecil," ujar Dede."Jadi mau enggak mau saya tetap kerja, anak-istri enggak makan kalau saya enggak kerja," tuturnya. (Dilansir, VIVAnews.com. Rabu, 25/03/2020).

Walaupun demikian, anggapan itu agak sedikit salah mengingat rezeki setiap manusia sudah ditentukan oleh Allah. Bekerja dan tidak bekerjanya seorang hamba tidak akan menghilangkan ataupun mengurangi rezeki yang telah ditetapkan untuknya. Salah kaprah dalam masalah rezeki agaknya belum dituntaskan oleh manusia, termasuk rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, harapan demi harapan akan membuahkan hasil jika hadir kesadaran almustanir pada rakyat. Salah satunya adalah menganalisis penyebab dari ketidakpeduliaan pemimpin pada mereka yang sejatinya telah mereka pilih sendiri. Bukan itu saja, harus pula dicermati pedoman yang dijadikan rujukan dalam memilih pemimpin.

Kalau hal itu, sudah terpecahkan maka secara otomatis rakyat akan punya kesadaran bahwa pedoman yang selama ini mereka gunakan untuk memilih pemimpin sungguh tidak layak dipakai lagi. Karena, rakyat akan terlihat seperti emas jika menghadapi pemilihan namun terlihat beban jika sudah terpilih. Ironis! Hidup dalam kubangan sistem sekuler yang mengusung ide demokrasi dalam menetapkan pemimpin karena hasilnya hanya akan memihak pada kaum Borjuis lain halnya dengan pemimpin yang di pilih dari sistem Islam akan memberikan Rahmat bagi seluruh alam.

Dan hal tersebut tercermin pada Nabi Muhammad Saw, Sebagaimana Firman Allah SWT:
“Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Qs Al-Anbiya: 107)

Penulis: Anhy Hamasah Al Mustanir (Pemerhati Media)
×
Berita Terbaru Update