Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Sedekah Dengan Adab Yang Baik

Selasa, 28 April 2020 | 11:57 WIB Last Updated 2020-04-28T03:57:26Z
Desi Wulan Sari (Revowriter Bogor)
LorongKa.com - Sedekah merupakan perbuatan yang terpuji. Saat seseorang ingin bersedekah pastinya karena mengharapkan kebaikan yang datang bagi dirinya sendiri, yaitu meraih amalan kepada sang Maha Pencipta. Pemberian sedekah kepada orang lain dilakukan secara sukarela, ikhkas dan tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu.

Namun, satu kejadian yang sangat disayangkan telah membuat kecewa hati umat muslim, ketika satu yayasan di bidang sosial melakukan pembagian nasi bungkus, namun nasi bungkus itu membuat geger masyarakat tanjung priok yang mendapatkan nasi bungkus tersebut dengan cap/tulisan "nasi anjing". Disebutkan, yayasan Qahal ikut ambil bagian dalam membantu membagikan makanan kepada warga Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang terdampak wabah virus corona. Tapi, kali ini, ada anggota yang berinisiatif mengganti logo dengan gambar anjing. Namanya pun menjadi 'Nasi Anjing' (kumparan.com, 27/4/2020).

Dari namanya saja rasanya amat sangat janggal di dengar. Ketika sedekah dibagikan kepada umum sebagian besar komunitas muslim, tetapi bentuknya sangat kontroversial. Padahal jelas bahwa umat muslim mengharamkan hewan anjing sebagai makanan. Walaupun nasi bungkus yang dibelikan dinyatakanhalal tetapi tetap diberikan kepada komunitas muslim dengan melampirkan gambar yang haram, seperti anjing dalamn bungkusannya menjadi keragu-raguan dan sesuatu diluar adab atau etika dalam memberikan sedekah bagi masyarakat.

Dimanakah adab ketika kita ingin menjalin ikatan sosial dengan manusia satu dengan lainnya? Mengapa adab harus dikesampingkan saat amal kebaikan ingin ditebar dalam bentuk pemberian nasi bungkus tersebut?

Adab adalah norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama, terutama Agama Islam. Sebutan orang beradab sesungguhnya berarti bahwa orang itu mengetahui aturan tentang adab atau sopan santun yang ditentukan dalam agama Islam. Sehingga harus di garisbawahi bahwa adab atau sopan santun dalam berinteraksi satu sama lain merupakan satu keharusan. Itulah yang menciptakan keharmonisan dalan bermasyarakat.

Hari ini semua aturan tidak ada yang pasti. Karena aturan sistem kapitalis dan turunannya yang digunakan kini hanya mementingkan materi semata. Aturan-aturan yang mengatur hubungan antar masyarakat umum ataupun berbeda komunitas tidak memiliki aturan yang jelas dan tegas. Siapapun bebas melakukan tindakan-tindakan sesuka hatinya. Bahkan jika itu dapat menyakiti orang lain pasti tetap akan dilakukan tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Sistem kapitalis terbukti memang merusak tatanan hidup mulai dari individu, masyarakat, hingga negara. Tak ada satupun yang mampu membuat rakyat dan negara ini menjadi lebih baik dalam menghadapi semua problematika umat.

Lalu, bagaimanakah adab ini seharusanya bisa ditempatkan dalam kehidupan manusia? Pentingkah kedudukan adab tersebut? Siapakah yang mampu memberikan solusi hakiki?

Jawabannya hanya satu, Islam rahmatan lil alaamiiin. Karena Islam telah mengajarkan pentingnya adab dan akhlak seorang muslim. Adab (etika) dan akhlak (budi pekerti) adalah dua hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, Islam menaruh perhatian yang sangat tinggi akan dua hal ini. Tidak mengherankan jika para ulama dahulu menasehati para penuntut ilmu untuk belajar adab sebelum belajar yang lainnya. Seorang muslim hendaknya selalu menjaga adab dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia dalam berinteraksi dengan siapapun. Akhlak yang mulia menjadi tolok ukur kebaikan seseorang. Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya di antara yang terbaik dari kalian adalah yang paling mulia akhlaknya.” (HR. Bukhari no. 3559 dan Muslim no. 2321).

Adab bagi seorang muslim harus selalu dijaga. Secara umum kalau dilihat dari objeknya maka adab seorang muslim dapat dibagi menjadi empat: adab kepada Allah, kepada RasulNya, kepada diri sendiri dan adab terhadap makhluk yang llainnya.

Pertama, adab terhadap sang Khaliq: Diantara adab kepada Allah adalah beribadah kepadaNya dan mensyukuri nikmatNya. Allah telah memberi kita berbagai kenikmatan maka sudah selayaknya kita mensyukurinya, ini adalah bagian dari adab. Allah berfirman,

“Dan apa saja ni’mat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (QS. An Nahl: 53)

Kedua, Adab terhadap RasulNya: Nabi Muhammad diutus sebagai rasul yang terakhir dan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah mengutus beliau untuk mengajarkan petunjuk bagi manusia agar bahagia dunia akhirat. Allah juga mewajibkan manusia untuk mencintai dan mentaati beliau. Maka sudah selayaknya kita beradab pada beliau shallallahu alaihi wasallam. Allah juga mengajarkan beberapa adab terhadap beliau sebagaimana dalam surat Al Hujurat ayat 1-4. Di antara bentuk adab terhadap beliau adalah mencintainya dan mentaati perintahnya. Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (QS. Muhammad: 33)

Ketiga, Adab terhadap diri sendiri: Salah satu kunci utama mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah dengan beradab terhadap diri sendiri yaitu dengan mensucikan jiwa (tazkiyatun nafs) dan memperbaiki kekurangan yang ada. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams: 9-10). Diantara cara untuk memperbaiki diri adalah dengan taubat, muraqabah (merasa diawasi Allah), muhasabah (intropeksi diri), dan mujahadah (bersungguh-sungguh).

Keempat, Adab terhadap makhluk yang lain: Seorang muslim hendaknya menjaga adab dengan semua orang. Terutama terhadap orang-orang terdekat mulai dari orang tua, anak, pasangan suami/istri, saudara, kerabat, dan tetangga. Setelah itu hendaknya berusaha menjaga adab terhadap sesama muslim secara umum. Diantara adab terhadap sesama muslim adalah dengan menunaikan hak-haknya sebagaimana disebutkan dalam hadits:

“Hak muslim atas muslim lainnya ada enam. Beliau ditanya, apa itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: Jika engkau menjumpainya maka ucapkan salam, jika ia mengundangmu maka penuhi, jika minta nasehat maka nasehati, jika dia bersin dan mengucapkan Alhamdulillah maka jawab yarhamukallah, jika dia sakit maka jenguklah dan jika meninggal maka ikuti (pengurusan) jenazahnya.” (HR. Muslim no 2162)

Jelas bagi umat Islam, dalam berbuat, bersikap, dan berinteraksi kepada masyarakat harus menggunakan adab sehingga amalan yang ingin kita raih akan bermanfaat, meraih amal salih, dan kebahagiaan bagi sesama.

Begitupun yang seharusnya dilakukan oramg-orang ataupun komunitas yang memberikan nasi bungkus "nasi anjing" alangkah baiknya jika perbuatan sedekahnya dibarengi dengan adab yang terpuji. Kasus seperti ini tidak akan terjadi jika negara mampu memberikan edukasi, pendidikan, dan mengatur hak serta kewajiban individu dalam masyarakat. Karena Islam dengan Daulah khilafahnya telah membuat satu paket dalam meriayah (mengurus) umatnya dengan cara melindungi dan memberikan pendidikan pada seluruh rakyatnya termasuk pendidikan adab terkait hak dan kewajiban dalam berinteraksi sesama individu, komunitas bahkan negara. Siapapun dirinya, jika saling menjaga adab masing-masing maka akan tercipta suasana harmonis demi kemaslahatan umat. Wallahu a'lam bishawab.

Penulis: Desi Wulan Sari (Revowriter Bogor)
×
Berita Terbaru Update