Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Apakah Inflasi Negara Menuju Revolusi?

Rabu, 06 Mei 2020 | 09:59 WIB Last Updated 2020-05-06T01:59:56Z
Apakah Inflasi Negara Menuju Revolusi?
Haswi Ardiansyah Hasan (Mahasiswa Prodi Sosiologi, Universitas Negeri Alauddin Makassar)
LorongKa.com - Dalam beberapa selang waktu kemarin negara sempat digemparkan dengan adanya suatu wabah/virus yang banyak merenggut nyawa, di mana sangat membuming di seluruh negara, salah satunya juga indonesia.

Wabah/virus ini dinamai dengan Covid-19 atau sering dikenal Corona, yang mengakibatkan beberapa negara harus melakukan pembaharuan dari populasi sampai ekonomi, hadirnya virus ini sangat merugikan negara dari situasi yang sangat mencengkam. Yang dapat mengancam populasi dunia.

Dengan mencengkam pandemi covid-19 jelas negara tak tinggal diam. Tetapi, sebelum wabah ini ada. Pernah terjadi di negara Eropa tepatnya di AS, ternyata wabah serupa pernah terjadi sebelumnya di Amerika serikat (AS) US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 2009-2010, membuat 60,8 juta orang AS terjangkit. Menurut data CDC jumlah orang yang dirawat di rumah sakit mencapai 274.304 dan membunuh 12.469 orang, ini mengakibatkan berkurangnya populasi manusia pada saat itu, dengan ciri khas yang sama yaitu Flu tetapi bukan flu biasa melainkan perpindahan dari wabah hewan ke manusia.

Para alih-alih mengatakan Menurut CDC, telah terjadi 40.414 kematian di AS selama minggu ketiga tahun 2018. Dari jumlah tersebut 4.064 di antaranya disebabkan oleh pneumonia atau influenza. Sama apa yang terjadi di beberapa negara hari ini bahwa wabah ini adalah regenerasi dari apa yang terjadi sebelumnya.

Menyebar luasnya wabah tersebut mengakibatkan banyaknya orang meringis akan ketakutan. Banyaknya yang beranggapan bahwa wabah ini pertama muncul di negara Cina di Wuhan, pasar hewan laut di Wuhan. Dilansir dari The Guardian, dua laboratorium di Wuhan yang meneliti kelelawar sebagai sumber virus corona menjadi sorotan.

Institut Virologi Wuhan (WIV) dan Pusat Pengendalian Penyakit Wuhan, berlokasi tidak jauh dari pasar ikan, telah mengumpulkan spesimen virus corona kelelawar. Beberapa teori dimunculkan. Pertama, dan paling liar, adalah para ilmuwan di WIV terlibat dalam percobaan virus corona kelelawar, yang melibatkan yang disebut penyambungan gen, dan virus itu kemudian lepas dan menginfeksi manusia. Versi kedua, adalah kecerobohan biosekuritas staf laboratorium dan dalam prosedur, kemungkinan saat pengumpulan atau pembuangan spesimen hewan, mengeluarkan virus liar.

Konsensus ilmiah membantah virus direkayasa. Dalam sebuah surat kepada Nature pada Maret, sebuah tim di California yang dipimpin profesor mikrobiologi Kristian Andersen mengatakan "data genetik menunjukkan bahwa (Covid-19) tidak berasal dari tulang belakang virus yang sebelumnya digunakan. Mereka mengatakan sangat memungkinkan virus muncul secara alami dan menjadi lebih kuat melalui seleksi alam. Lantas bagaimna negara lain menyikapi masalah ini ?

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim memiliki bukti bahwa virus dikembangkan disebuah laboratorium di Wuhan, China, yang menjadi pusat wabah. Tetapi, ini masih jadi perbincangan hangat global sehingga ahli-ahli saling mengklaim tentang penyebaran virus ini.

Dengan kehadiran covid-19 banyak yang menafsirkan tentang asal muasalnya dan sebab akibat kehadiran pandemi ini, tetapi, dengan mengingat tentang teori Thomas Mhaltus salah satu pemikir ekonomi klasik penguat dari teori Adam Smith dan David Ricardo tentang teori Laissez Faire, dimana malthus bercerita tentang negara yang mengatakan tentang laju pertumbuhan penduduk, Ia menyatakan "Laju pertumbuhan penduduk itu seperti deret ukur, dan laju pertumbuhan pangan seperti deret hitung" . Yang artinya laju pertumbuhan penduduk lebih cepat dibandingkan laju pertumbuhan pangan. Dan dampaknya, dalam jangka waktu panjang manusia akan mengalami krisis sumber daya alam dan berebut untuk mendapatkan pangan jika laju pertumbuhan penduduknya tidak ditekan.

Maka kesimpulanya bahwa ketika hari ini laju penduduk sudah tak seimbang dengan persediaan pangan maka angka kelahiran harus ditekan dan menambah angka kematian. Ini sangat relevan dengan adanya pandemi covid-19 yang banyak membrangus populasi cina. Ada pula yang beranggapan bahwa ini adalah revolusi ekologi, yang berasal dari dalam hutan, beberapa ahli-ahli mengklaim bahwa wabah ini bertempat di hutan tetapi karena banyaknya hutan yang dibabat hingga mereka kehilangan tempat berkembang biak, hingga harus mencari inang (tempat tinggal) agar mereka dapat berkembang dan tak punah, ini adalah pembaharuan dari alam yang mengstalbilitaskan dirinya.

Tetapi, kita tak boleh menghukumi karena ini masih menjadi perbincangan hangat dan banyak pula teori-teori konspirasi sehingga manusia bingung untuk membenarkan dari asal muasal virus covid-19.

Di indonesia hal serupa terjadi di mana pandangan liberal kerap muncul, hingga lari-larinya ke agama. Dengan banyaknya keresahan masyarakat hingga pemerintah tak berdiam diri dan mengambil langkah yang sebaik-baiknya untuk rakyat. Peran pemerintah harus andil dalam perlindungan rakyatnya apa lagi dengan memakan ribuan korban.

Beberapa kebijakan pemerintah mengakibatkan seluruh intensi negara banyak yang ditutup untuk sementara. Mulai dari perusahan, pabrik, sampai ke pusat perbelanjaan. Tetapi, dengan penerapan yang dibuat pemerintah mengakibatkan rakyat menjadi lebih baik, dan virus dapat di atasi?

Yah, jelas tidak! Kita melihat bukan hanya populasi tetapi dari sektor ekonomi di Indonesia pun ikut anjlok bahkan menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi tahunan hingga Maret 2020 mencapai 2,96%. Ekonom Bank Permata, Josua Pardede pun memperkirakan, inflasi di akhir tahun 2020 pun tak akan banyak bergerak dari posisi saat ini.

Prediksi Josua, inflasi Indonesia di akhir bisa berada di kisaran 2,9%-3,3%. Level ini masih dalam rentang target laju inflasi yang dipatok Bank Indonesia di 3,1%. Anjloknya mata uang dalam perekonomian negara mengakibatkan banyaknya buruh di PHK hingga angka pengangguran melonjak tinggi. Bahkan, bahan pangan juga banyak di naikkan, banyak buruh upah tak bekerja karena kurangnya pemasokan.

Sementara itu dari sisi supply push inflation, kebijakan pemerintah yang memberlakukan physical distancing dan potensi karantina wilayah dibeberapa daerah di Indonesia secara khsus di pulau Jawa akan sedikit mengganggu distribusi barang dan jasa secara umum.

Kita bahkan mengetahui bahwa langkah presiden yang dilakukan terlalu lambat, bahkan banyak merugikan kaum buruh, mulai dari raskin yang tak merata, pembahasan omnibus Law Cilaka sampai dengan kebijakan pelepasan napi. Bahkan baru-baru ini sebuah berita menghebohkan masyarakat di tengah-tengah banyaknya buruh lokal yang di PHK presiden memasukan buruh dari luar yang mengakibatkan buruh sangat tidak menerima atas apa yang dilakukan presiden, hari ini buruh sadar bahwa ternyata presiden tidak pro terhadap rakyat, terjadinya inflasi pada perekonomian negara mengakibatkan buruh tidak akan diam.

Marx pernah mengatakan bahwa kesadaran buruh akan dipantik dari beberapa aspek ekonomi salah satunya adalah inflasi, dan ketika dalam sebuah negara sudah terjadi sebuah inflasi dan inflasi ini membuka kedok negara tengtang neoliberalisme yang sangan pro kapitalis maka baru akan melakukan gerakan-gerakan menuju revolusi. Karl marx adalah salah satu pemikir ekonomi yang melahirkan marxsisme serta ekonomi politik, yang melahirkan teori sosial mendobrakan kesadaran buruh tentang kapitalisme. Negara akan bertanggung jawab atas kehidupan yang mensejahterakan dan memanusiakan manusia, bukan negara yang berbau neoliberalisme yang disokong kapitalisme.

Penulis: Haswi Ardiansyah hasan (Mahasiswa Prodi Sosiologi, Universitas Negeri Alauddin Makassar)
×
Berita Terbaru Update