-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Lebaran Secara Filosofis Dan Rekonstruksi Jiwa 'Sipakaatau'

Sabtu, 23 Mei 2020 | 16:28 WIB Last Updated 2020-05-23T08:30:39Z
A. Ikhsan Mahasiswa Jurusan Hukum Tatanegara UINAM. Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gowa Raya
"kita merawat akal, nafsu, dan diri agar gerakan kita senantiasa searah dengan hembusan nafas kebaikan"
-A. Ikhsan-

LorongKa.com - Ramadhan adalah bulan yang suci bagi orang beragama (Islam). Setelah mencapai hari akhir ramadhan akan menuju hari raya. Hari raya ialah bonus dari ibadah "puasa", pendakian spiritual menuju puncak kesempurnaan jiwa yang suci.

Kita sudah melalui bulan yang suci, bulan yang penuh berkah ini. Lalu, sudahkah kita sadar tentang hikmah bulan ramadhan itu. Tentu saja ramadhan yang dilalui bukanlah sekedar hanya menahan lapar dan dahaga. Tapi, tentunya kita sedang berusaha menguasai diri untuk menuju pada diri yang lebih baik.

Memaknai Segala Sesuatu di Balik Idul Fitri

Jika mendalami makna dari kata idul Fitri, tentunya kita tidak sekedar memaknai dengan hari raya dengan banyaknya hidangan seperti ketupat, buras, Coto dan hidangan lainnya. Tapi kita seharusnya sampai pada hakikatnya. Hakikat hari raya Idul Fitri adalah perayaan kemenangan iman dan ilmu atas nafsu di pertarungan melawan kebiasaan buruk, dan segala hawa nafsu di bulan Ramadhan.

Idul Fitri (kembali ke fitrah) artinya menuju kepada manusia yang suci. Perjalanan spiritual dari manusia biologis "Al-Basar" menuju Manusia yang memanusiakan manusia lainnya (An-Nas), lalu menuju pada hakikat fitrah manusia yang sesungguhnya yaitu manusia sempurna "Al-insan)"

Manusia biologis adalah manusia yang tidak bisa menyeimbangkan diri dan lebih condong kepada hawa nafsu, sehingga perbuatannya seolah seperti binatang. Tidak puas dan segalanya, dan cenderung melakukan apa saja untuk kebutuhan fisik saja "Biologis".

Perjalanan itulah yang perlu kita lakukan. Perjalanan kemudian adalah menuju "An-Nas". Menjadi manusia yang cenderung berjalan sesuai fitrahnya. Memanusiakan manusia lainnya adalah manifestasi sifat "Rahman dan Rahim Tuhan". Menguasai nafsu dan paham atas tugas menjadi Khalifah adalah tentang nilai-nilai kemanusiaan.

Ketika sudah mampu menguasai diri sendiri, mengedepankan nilai sosial, maka akan sampailah pada wujud manusia yang sempurna (Al-insan/insan kamil). Selalu berjalan sesuai dengan fitrah manusia adalah wujud kembali pada hakikat penciptaan manusia. Inilah makna kata "Idul Fitri".

Semua manusia mampu menujunya, karena semua manusia terlahir suci. Terlahir di rahim yang "non Islam" tetap suci karena manusia selalu memiliki fitrah. Maka semua manusia bisa menuju fitrahnya. Tapi beda dengan kesadaran akan kepercayaan kepada Tuhan yang "ESA"

Kesan di Hari Lebaran Menuju Peleburan

Kebiasaan di Indonesia hari raya idul Fitri akrab dengan sebutan hari Lebaran berasal dari akar kata lebar yang maknanya tentu agar di hari raya kita harus melebarkan dada. Melebarkan dada sama dengan melapangkan dada. Sehingga kita harus mampu berlapang dada.

Moment terindah adalah moment saling memaafkan. Hari raya membuka jalan untuk saling memberi maaf atas kesalahan sesama. Meskipun maaf di hari yang bukan hari raya adalah anjuran, tapi akan berbeda rasanya jika itu di lakukan di hari raya idul Fitri.

Memaknai lebaran bukan hanya moment silaturahim, tapi menuju apa hikmah dan kebahagiaan di balik silaturahim. Tentunya ada pertemuan, lalu menuju pada hakikat "cinta" dari jiwa yang menyatu. Silaturahim mengarah pada hubungan vertikal (Tuhan) dan Horizontal (sosial).

Leburan atau peleburan bermakna adalah habis dan larut. Maksudnya pada momen Lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain. Setelah melebur antara satu jiwa dan jiwa lainnya. Saling membuka lalu melebur dan menjadi satu kesatuan sesuai dengan makna "ESA" kesatuan. Sehingga akan membentuk hubungan segitiga. Manusia ke tuhan, Manusia ke manusia hingga mendapatkan kasih tuhan untuk seluruh manusia. Inilah yang disebut "sipakatau" dalam bahasa Makassar.

Dari 'Sipakatau' Menuju 'Sipakainga' Dan 'Sipakalebbi'

Sipakatau adalah sifat yang tidak saling membeda-bedakan, semua manusia sama, tidak ada perbedaan derajat, kekayaan, kecantikan, sehingga apapun yang memungkinkan perbedaan. Dalam kehidupan, kita tidak selayaknya membedakan manusia satu dengan manusia lainnya. Kita harus saling menghargai dan menghormati sesama dan tidak memandang Suku, ras, dan agama.

Ketika kita sudah mengedepankan sifat ini maka menuju pada Sipakalebbi. Sikapalebbi artinya sifat yang tidak membeda-bedakan dan saling menghargai. Lalu dengan penghargaan itu kepada sesama akan kembali kepada diri sendiri. Maka kata Bugis Makassar ini sangatlah tinggi maknanya.

Setelah memahami sifat ini, maka kecenderungan kita untuk 'sipakainga' yang berarti saling mengingatkan satu sama lainnya. Memberi peringatan ketika manusia perilaku manusia lainnya keluar dari batas wajar. Dengan kita selalu mengedepankan sifat ini, kehidupan sosial kita akan menuju pada hubungan yang harmonis.

Problematika Sosial Yang Dipicu Oleh Hilangnya Budaya

Melihat keadaan di sekitar, problematika ummat dan bangsa mulai bermunculan. Hubungan antara pemerintah dan rakyatnya semakin pudar, juga dengan hubungan manusia satu dan manusia lainnya. Sangat bermunculan perubahan di tengah-tengah sosial.

Budaya gotong royong, Sipakatau, Sipakalebbi, sipakainga mulai hilang apalagi di tengah kota besar. Berjalan sendiri dan fokus pada kebaikan diri sendiri lalu lupa pada yang lainnya. Budaya saling mengasihi, saling menghargai, dan saling mengingatkan sudah pudar. Bahkan sangat mulai bermunculan sifat serakah ditengah sosial.

Problematika ini terjadi karena kurangnya kesadaran diri manusia untuk kembali pada fitrahnya. Ramadhan memberikan jalan untuk bertaubat, saling mengingatkan, saling peduli, dan menahan segala hawa nafsu. Manusia dituntut untuk beribadah, dituntut untuk saling memaafkan guna menuju kesadaran manusia pada hakikat penciptaannya.

Di hari yang Fitri ini, hari kemenangan manusia dalam pendakian spiritual. Tentu saja ini adalah bagi mereka yang menang dalam menguasai diri sendiri. Kemenangan itu tidak bisa di ukur, tapi tentunya dengan melakukan pendakian spiritual (berpuasa) akan mengembalikan Manusia pada fitrahnya (jika melakukan). Atas berkat kasih sayang Tuhan kepada hambanya, maka selalu ada moment untuk peringatan universal dengan adanya bulan suci ramadhan.

Sebagai manusia yang Berkepercayaan dan yakin dengan kasih tuhan, kita akan paham dengan kembali pada fitrah kita. Kehidupan yang sesuai dengan fitrahnya adalah paduan utuh antara aspek duniawi dan ukhrawi, individu dan sosial serta iman, ilmu, dan amal dalam mencapai kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat. Maka dengan ini akan menuju pada masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT (kutipan makna Mukaddimah Konstitusi HMI).

Atas pengharapan kasih sayang dari hikmah yang di petik di bulan suci ramadhan yang di tutup di hari yang fitri. Tentu tidak lepas dari usaha manusia (ikhtiar) untuk mengubah nasib dan takdir dengan persatuan antara sesama dengan diri yang di yakinkan dengan iman, lalu mengusahakan dengan ilmu, dan disampaikan atau pengimplementasian dengan amal. Tentunya kita akan menuju pada manusia yang sempurna (insan Kamil).

Selamat hari raya idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah

Penulis: A. Ikhsan Mahasiswa Jurusan Hukum Tatanegara UINAM. Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gowa Raya.
×
Berita Terbaru Update