-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pendidikan di Atas Kasur, Karena Hasrat Atau Diperkosa?

Senin, 04 Mei 2020 | 09:39 WIB Last Updated 2020-05-04T01:39:55Z
Pendidikan di Atas Kasur, Karena Hasrat Atau Diperkosa?
Andi Ahmad (Oce) Mahasiswa Hukum Tata Negara UINAM, Semester 4.
LorongKa.com - Mungkin ini adalah waktu yg tepat untuk kita merenungkan apa arti sebuah pendidikan yang tiada hentinya diperbincangkan baik di sosial media sekalipun. Kemarin 2 Mei adalah hari pendidikan nasional Indonesia ditengah-tengah negara kita giatnya melawan Covid 19 dan sebagai eksistensi seorang terdidik untuk memperlihatkan kepada khalayak ramai bahwa ialah seorang yang mempunyai label dituliskan dalam sebuah kertas pengakuan (ijazah).

Pendidikan ialah sebuah perjalanan panjang untuk mencari identitas kedirian seseorang agar dia tahu mau ke mana dan bagaimana kelak ia menghadapi perjalanan waktu, maka tak aneh rasaya ketika banyak kita jumpai karakteristik yang berbeda dan beragam inovasi yang dapat kita rasakan. Seperti pula di negara kita, Indonesia. Yahh, satu negara berkembang bersimbol negara kepulauan, berbagai suku, ras dan agama di dalamnya yang tidak lepas dari orang-orang yang berpendidikan dan berintelektual.

Problemnya kemudian, apakah pendidikan yang telah diterapkan Indonesia telah layak dan sesuai untuk karakteristik dan kepribadian setiap peserta didik itu sendiri? Sedang kita ketahui Indonesia sendiri menerapkan gaya pendidikan pada setiap jenjang pendidikan merujuk kepada acuan kurikulum yang mesti diselesaikan dengan jangka waktu yang telah ditetapkan. Ibarat ketika kita melihat monyet, sapi, kambing, ayam dan ikan dalam waktu bersamaan diinstruksikan untuk memanjat pohon yang ada di depannya dan siapapun diantara mereka yang mampu memanjat pohon yang ada di depannya hingga mencapai puncak maka akan mendapatkan buah atau dalam artian kata mendapatkan predikat peringkat 1 sebagai gelar kehormatan karena telah menyelesaikan studi dengan tepat waktu, menyelesaikan studi dengan nilai tertinggi, tanpa melihat bahwa setiap insan membutuhkan waktu dalam menangkap dan mencerna sesuatu itu berbeda-beda.

Pendidikan nasional Indonesia sendiri telah tertuang pada UUD 1945 di alinea keempat bahwa "kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia" Kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa ini perlu digaris bawahi, sebab pendidikan nasional dinilai tidak efektif dan bersifat memaksa untuk mengkonsumsi pendidikan yang sama walaupun kita tidak mencoba memunafikkan bahwa Indonesia telah melaksanakan itu sebagai bentuk cita-cita luhur bangsa.

Olehnya itu, penulis menilai bahwa pendidikan kita layaknya pendidikan diatas kasur, yah antara hasrat atau memang kita diperkosa dan dipaksa untuk menikmati pendidikan dengan gaya yang telah ditetapkan oleh para pemangku kekuasaan. Hal ini saya sampaikan sebab masih banyak di luar sana kita jumpai orang yang duduk pada birokrasi pemerintahan adalah orang yang dipaksa untuk dewasa tanpa siap atau tidaknya ia mengembang amanah itu, ini juga merupakan dosa sejarah yang sukar untuk diubah karena telah mendarah daging selaras dengan apa yang termaktub dalam QS. Al Ahzab: 72.

Jangan didik anakmu untuk berkuasa, tapi didik ia untuk bijaksana jikalau nanti hasilnya tak sesuai harapan, jangan pernah sesali itu sebab anaka-anak yang kita lahirkan adalah anak-anak sejarah penghuni masa depan, sementara orang tua adalah ibu masa lalu sebagaimana ladang sawah tempat bibit disematkan. Banyak kita jumpai bahwa ada yang salah dari pendidikan sejak lahir, orang tua kita telah memaksa kita untuk memahami dirinya dan harus seperti mereka kelak, pendidikan tak menjadikan materi kecuali bahasa dan narasi-narasi yang tak terpahami oleh orang tua kita meski telah membayar ongkos dendam, harapan dan cucur air mata. Kita kadang miss komunikasi persoalan anak dan orang tua sebab harapan hanya boleh untuk orang tua dan tidak untuk anak. Layaknya pendidikan kita diatas kasur yang dipaksa bersikap seolah-olah itu hasrat kita tetapi dibalik kepalsuan dan dendam itu kita dipaksa menikmati dan menjalaninya selayaknya pula orang yang diperkosa.

Semakin tinggi kekuasaan, semakin banyak orang yang terkorbankan, semakin tinggi kekuasaan, semakin canggih melakukan penyelewengan apatalagi dalam menyembunyikan belangnya. Semua itu disebabkan harapan yang bukan kehendaknya, melainkan kehendak orang tua dan siapa yang mengatur kurikulum itu. Sudah berpendidikan apakah kita hari ini? Sudah berapa title yang kita peroleh? Apakah pendidikan hanya untuk melanggengkan kebodohan? Biarkan kita renungkan.


Penulis: Andi Ahmad (Oce) Mahasiswa Hukum Tata Negara UINAM, Semester 4.
×
Berita Terbaru Update