-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Refleks Bullying, Menggurita di Sistem Sekuler!

Kamis, 21 Mei 2020 | 20:43 WIB Last Updated 2020-05-21T12:52:28Z

Ika Rini Puspita, S.Si (Alumni Jurusan Biologi Fakultas Saintek- UIN Alauddin Makassar)
Bullying. Perkara ini sederhana bagi sebagian orang, namun dampaknya sangat luar biasa baik di kehidupan sekarang maupun dimasa yang akan datang. Bagi sebagian orang, bullying mungkin sekedar seru-seruan, mengisi kekosongan juga karena ingin eksis. Tidak bisa dianggap remeh eksis ini, apalagi di era digital yang semuanya menjadi lebih mudah. Cara instan bagi yang gila eksistensi, yah dengan bullying. Kalaupun sekedar seru-seruan, apakah pantas melakukan hal tidak manusiawi? Hewan saja, saling mengasihi lah manusia nuranimu kau gadaikan dimana?

Seperti kisah pilu bocah penjual 'jalangkote' yang mendapat perlakuan tidak pantas oleh beberapa pemuda. Ia menjadi korban bullying dan kekerasan. Kejadian itu viral di media sosial yang terjadi di Bonto Bonto, Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkajene Kepulauan Sulawesi Selatan. Para pelaku dengan teganya menyiksa bocah lalu direkam sambil tertawa terbahak-bahak. Pelaku kemudian diciduk oleh kepolisian Sulsel (Suara.com, 18/5/2020).

Kasus bullying penjual 'jalangkote' di atas bukanlah kali pertama terjadi, tapi jauh-jauh hari kasus ini kian menggurita tiap tahunnya. Selalu berulang, kalau bukan berujung di penjara paling tidak permintaan maaf pun melayang, selesai masalah. Maka wajar jika kasus ini kian beranak-pinak. "Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat dalam kurun waktu 9 tahun dari 2011 sampai 2019 untuk kasus bullying baik di pendidikan maupun sosial media angkanya mencapai 2.473 laporan dan trennya terus meningkat".

Bullying Subur Melalui Media

Peran media memang sangat penting bagi kehidupan di zaman revolusi industri 4.0 ini. Sebagaimana penelitian Nielsen (Okezone.com, 5/3/2019) menyebutkan konsumen Indonesia menghabiskan waktu rata-rata 5 jam setiap harinya untuk konsumsi konten (baik media konvensional maupun internet), sedangkan nonton TV rata-rata 4 jam 53 menit.

Tidak jarang stasiun televisi tidak mengindahkan esensi dari sebuah siaran yang mengedukasi. Justru demi mengejar rating tinggi, ia rela menabrak norma agama dan norma kehidupan. Konsumsi media yang terus berulang ini, tentu akan berpengaruh cepat kepemikiran sang penikmat baik secara sadar atau tidak. Tayangan-tayangan bullying yang sering di pertontonkan media (menghina fisik, mengejek walau nada bercanda, prank-prank, pengisi acara yang saling lempar cacian dan lain-lain) secara sistemik setidaknya bisa direkam (contoh) oleh memori ingatan.

Salah satu faktor suburnya bullying selain karena gila eksistensi, jika sudah terkenal maka pundi-pundi materi pun begitu cepat mendarat ke saku baju. Faktor lain karena ide sekularisme setidaknya sudah merasuk dalam sendi-sendi kehidupan. Berbicara agama hanya pada ranah ibadah ritual semata, selebihnya jangan bawa-bawa agama untuk mengatur kehidupan.

Maka, jika ada individu yang dianggap berbeda dari yang lain ia akan menjadi korban bullying secara refleks ia lakukan karena pengaruh media, pemahaman, dan materi tersebut. Sebagaimana pendapat Sosiolog FISIP Universitas Padjajaran (Unpad) Ari Ganjar menyatakan "Bullying rentan terjadi kepada individu yang dianggap berbeda. Semisal terjadi kepada minoritas, penyandang disabilitas atau memiliki orientasi seksual yang berbeda. Lebih lanjut ia menuturkan, pendidikan karakter yang digaungkan pemerintah melalui sekolah belum cukup untuk mengatasi bullying". Jadi, kasus bullying subur salah satunya karena media, ide sekularisme, dan materi.

Bullying-Krisis Perhatian

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah harus di bullying dulu baru diperhatikan? Setelah kasus ini viral, kemudian banyak orang berlomba-lomba memberikan beasiswa/bantuan kepada korban. Korban ini sial, juga beruntung! Beruntung karena dapat bantuan, sialnya karena di bullying dan disiksa. Sebagaimana perhatian orang nomor satu Sulsel (Nurdin Abdullah) yang diunggah dalam akun fb-nya, secara khusus mengundang ananda Rizal korban bullying Pangkep ke rumah jabatan Gubernur. Ia memberikan beasiswa selama 3 tahun serta sebuah motor listrik untuk orang tua Rizal.

Bantuan tersebut sangat positif, namun sampai kapan kita begini terus. Lalu bagaimana yang di bullying tapi tidak viral akankah diperhatikan juga? Bukankah ini tidak adil, viral dulu baru diperhatikan? Bullying, viral, tangkap pelaku, dan ber-empati menolong korban.

Jika ini tidak diseriusi korban-pelaku berikut, berikut dan berikutnya lagi akan bertambah banyak. Kejadian ini mesti kita zoom secara serius, ada apa dan apa yang salah? Padahal pelaku di tangkapi namun tidak dapat memutus mata rantai kejahatan.

Fakta mengguritanya kasus bullying di atas bukanah sesuatu yang mengherankan dalam sistem kapitalis-sekuler. Krisis perhatian, karena sistem yang tidak tegas, juga karena menjauhnya umat dari nilai agama (sekularisme). Sedangkan jika kita berbicara sistem Islam, akidah umat Muslim sangat diperhatikan. Muslim lain bersaudara ibarat satu tubuh yang saling mengasihi karena diikat oleh ikatan akidah. Sistem Islam pun sangat tegas ke pelaku kejahatan.

Seperti diceritakan dalam ar-Rahiq al-Makhtum karya Syaikh Shafiyurrahman Mubarakfury, saat itu ada seorang wanita Arab yang datang ke pasarnya orang Yahudi Bani Qainuqa. Tiba-tiba beberapa orang di antara mereka hendak menyingkap kerudung yang menututpi wajahnya sampai auratnya tersingkap. Muslimah itu spontan berteriak dan seorang laki-laki Muslim yang berada didekatnya melompat dan membunuh pelaku itu.

Orang Yahudi kemudian membalas dengan mengikat laki-laki Muslim itu lalu membunuhnya. Kejadian ini membuat kesabaran Rasulullah Saw. habis. Rasul dan para pasukannya pun berangkat menuju tempat bani Qainuqa dan mengepung mereka dengan ketat. Bani Qainuqa yang pongah dan sombong akhirnya bertekuk lutut setelah dikepung 15 hari. Luar biasa sistem Islam dalam penjagaan kepada umatnya, ini bukanlah romantisme sejarah. InsyaAllah dengan terterapkannya aturan Islam (Allah Swt.) dalam kehidupan, insyaAllah kasus bullying tidak akan subur seperti sekarang. Wallahu a'lam.

Nama: Ika Rini Puspita, S.Si (Alumni jurusan Biologi Fak. Saintek- UIN Alauddin Makassar)
×
Berita Terbaru Update