Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Restorasi Pendidikan Sekarang Juga

Senin, 11 Mei 2020 | 09:27 WIB Last Updated 2020-05-11T01:37:57Z
Restorasi Pendidikan Sekarang Juga
Muh.Nurhidayat.S (Kader Gerakan Rakyat Dan Mahasiswa Indonesia atau Disingkat Gerak Misi)
"Mati Karena Tertindas Atau Mati Karena Melawan, Itu Pilihan Anda"
(Muh.Nurhidayat.S)

LorongKa.com - Saat ini di dalam lingkup negara Indonesia masih banyak polemik yang kemudian belum terselesaikan. Salah satunya di dunia pendidikan yang kini terpilah menjadi pendidikan formal dan pendidikan non formal.

Pendidikan formal yaitu bentuk pendidikan yang diberikan secara terorganisir dan berjenjang, misalnya Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas hingga masuk dalam jenjang Perguruan tinggi yaitu kampus.

Kemudian pendidikan non formal yaitu pendidikan yang biasa dilakukan dimana saja, misalnya diskusi di taman, kantin, di perpustakaan, dll. Nah, itu sebagian dari stimulasi agar supaya imajinasi berfikir kita lebih aktif lagi untuk mengetahui mengapa pendidikan dapat terpilah menjadi formal dan non formal.

Kita meneropong lebih mendalam terkait dengan tujuan di hadirkannya pendidikan dalam bentuk formal dan singkronisasi dengan segi politik serta kelancaran system ekonomi kapitalisme.

Dalam pembahasan mengenai politik, kita harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana politik itu sendiri berperan. Prof. Miriam Buadiarjo sebagai dekan fakultas ilmu sosial dan ilmu politik di Universitas Indonesia pada tahun 1974-1979 dalam bukunya dasar-dasar ilmu politik menjelaskan bahwa politik adalah usaha mencapai kehidupan yang lebih baik dan untuk mencapai tujuan yang mulia itu terlebih dahulu harus menduduki sebuah kekuasaan dalam suatu negara.

Namun, mereka yang sudah menduduki bangku kekuasaan, harus menjalankan yang disebut sebagai functional state diantaranya yaitu mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran. Dilain sisi ketika di kerucutkan pada dunia pendidikan, Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat 3 sudah jelas tertera bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kemudian mengapa bisa melancarkan system ekonomi kapitalisme. Dalam bukunya negara kapitalisme dan masyarakat yang di tulis oleh Nur Sayyid Santoso Kristeva Ma, Dudley juga mengatakan bahwa ada tiga hal yang kemudian menjadi faktor pemicu dari perkembangan kapitalisme, hal tersebut salah satunya adalah konspirasi kelas borjuasi dengan negara karena dalam negara terdapat suatu pemerintahan yang pada dasarnya memiliki otoritas untuk membuat suatu kebijakan.

Ketika mengacu pada rentetan pembahasan di atas, artinya bahwa seseorang di tuntun untuk menempuh suatu pendidikan dalam bentuk formal agar supaya mereka mendapatkan sebuah kertas berbentuk ijasah untuk modal masuk dalam dunia kerja.

Tetapi sebelum sampai pada pencapaian yaitu mendapatkan lembaran ijasan, seseorang terlebih dahulu berkompetisi dalam hal menentukan siapa layak dan siapa tidak layak menepuh sebuah pendidikan (formal) yang bergaya bank. Mengapa ada bahasan layak dan tidak, coba kita mengambil pandangan dari salah satu tokoh pengkritik pendidikan yaitu Paulo Freire dari Brazilia.

Paulo memandang pendidikan semacam itu sama seperti halnya jalan tol yang hanya bisa di lalui oleh kelas-kelas tertentu saja, jika seseorang tidak memiliki modal yang cukup mereka tidak layak untuk melaju di dalam jalan tol. Kalaupun semisal salah seorang sudah memenangkan kompetisi tersebut, mereka akan masuk tahap atau proses penjinakan dalam pendidikan formal semisal tepat waktu, berpakaian rapi, dan sebagainya.

Alasan dari penjinakan itu karena ketika sudah masuk dalam dunia kerja maka mereka akan lebih mudah di atur oleh pemilik usaha. Jadi saat ini, pendidikan formal hanya di jadikan sebagai sarana produksi untuk mencetak para pelengkap mesin-mesin produksi yaitu proletariat.

Rentetan historis dari tujuan dilahirkannya suatu pendidikan yaitu pengisi waktu senggang atau tempat seseorang melakukan transformasi ilmu pengetahuan dan pengembangan potensi yang ada di dalam dirinya tanpa ada pendiktean dan pembatasan untuk menggali suatu ilmu pengetahuan.

Tetapi, saat ini tujuan tersebut sudah cukup memudar karena diakibatkan oleh adanya proses kapitalisasi pendidikan. Bukan hanya dari system pendidikan formal yang menjadi soal, sebagian orang yang berada dalam pendidikan formal juga kini menjadi soal karena amat sangat cepat terhegemoni dengan varian-varian yang berbau kapitalistik.

Misalnya kita mengambil salah satu sampel di Sulawesi selatan tepatnya di kota makassar, dalam buku Sosiologi Waktu Senggang yang ditulis oleh Muhammad Ridha disitu menjelaskan bahwa terdapat tiga tempat di kota makassar yang di pergunakan masyarakat untuk berwaktu senggang, berdiskusi dan sebagainya, namun kita tempat tersebut sudah penuh dengan varian-varian yang berbau kapitalistik sehingga seseorang juga ikut terjerumus dalam varian tersebut.

Dengan maraknya persoalan-persoalan yang ada di dalam dunia pendidikan, kini harus dilakukan restorasi sekarang juga. Artinya sesuatu yang sudah berantakan, sekarang juga harus dipulihkan ke bentuk semula. Yakin saja bahwa banyak pertanyaan yang akan muncul terkait dengan cara memulihkannya ke keadaan semula. Baiklah kita membuat simulasi,

"Dalam negara terdapat dua kelas, penindas dan ditindas. Seorang penindas adalah orang yang memiliki kepentingan individual atau kelompoknya, kemudian orang yang di tindas adalah orang yang dirampas hak-haknya. Pertanyaannya, siapa yang berpotensi melakukan perlawanan? tentunya mereka yang berada dalam kondisi tertindas karena mustahi kelas penindas ingin bersikan baik."

Dari simulasi itu kita mengambil gambaran bahwa yang paling berpotensi untuk mengubah suatu tatanan pendidikan yang berbau kapitalistik menjadi pendidikan yang di idam-idamkan, yaitu orang yang melandasi dirinya suatu kesadaran. Mengapa bisa kesadaran yang di jadikan landasan, karena suatu kebobrokan tercipta akibat tidak adanya kesadaran seseorang.

"Restorasi Pendidikan Sekarang Juga Melalui Anarchy Epistemology"

Penulis: Muh.Nurhidayat.S (Kader Gerakan Rakyat Dan Mahasiswa Indonesia atau Disingkat Gerak Misi)
×
Berita Terbaru Update