Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Sadar Tidak Sadar, Waras Tidak Waras

Minggu, 03 Mei 2020 | 18:45 WIB Last Updated 2020-05-03T10:59:21Z
Sadar Tidak Sadar, Waras Tidak waras
Muhammad Iqbal, Mahasiswa Sosiologi Agama, UIN Alauddin Makassar
LorongKa.com - Kesadaran naif dan stigma negatif para kaum oposisi terhadap segelintir orang yang memperjuangkan haknya di jalanan.

Teruntuk pengetahuan manusia yg relatif berubah. Kenapa saya berbicara seperti ini, karena saya sadar betul bahwa menjadi seokor bunglon sangat tepat dibanding menjadi sapi sebab seekor bunglon sadar akan situasi. Yah, begitulah kira kira yang menjadi tamparan keras bagi mahasiswa saat ini, bahkan banyak daripada mereka mengatakan bahwasanya "Perbaikimi dulu dirimu". Itu salah satu contoh yang defisit moral yang tidak peka atas penindasan serta perbudakan di zaman 4.0 ini.

Mengapa demikian, Jika membenturkan kondisi realitas sekarang banyak sekali yang menjadi probelematika dalam kehidupan bermasyarakat, saya ingin menarik sebuah benang merah tentang labour (buruh) yang kian hari kian tambah merintih itu, mereka hanya memperjuangkan haknya dan tidak lebih dari itu, tapi negara sampai saat ini masih saja tak tau diri tentang nasib buruh.

Baru kemarin dirayakan hari buruh sedunia atau biasa di sebut May Day dimana semua kalangan pekerja labour diliburkan dan menuntut hak yang selemana ini diselewenangkan oleh para kaum capitalism (pemilik modal) mereka hanya sibuk memperkaya diri mereka tanpa menengok sisi kehidupan dari para buruh.

Seperti yang kita ketahui bersama seorang buruh tidak mendapatkan hak-haknya atas apa yang telah ia lakukan dalam sektor industri semisal upah yang sangat minim, jam kerja yang cukup panjang, kadang juga kerja lembur dan hanya ada tambahan gaji yang tidak sepadan dengan curah keringat yang dikeluarkan oleh buruh kenapa demikian karena motif awal keuntungan dari para kaum kapitalis adalah pengeksplotasian buruh, para kaum kapitalis berpendapat bahwa semakin lama buruh bekerja dalam perusahaannya maka semakin banyak keuntungan yang diraih.

Salahsatu tokoh yang memperjuangkan nasib buruh yaitu Karl Marx menawarkan sebuah rancangan bahwa jika semua sektor industri alat-alat produksi yang mengelolah adalah buruh itu sendiri. Maka tidak ada pertentangan antar kelas-kelas dalam kehidupan masyarakat. Maka dari itu rebut alat-alat produksi dan berikan hak penuh pengelolahan kepada buruh.

Mengapa saya mengankat judul Kesadaran naif dan stigma negatif kaum oposisi terhadap segelintir orang yang memperjuangkan haknya di jalanan. Bukan kaum buruh yang saya maksud di sini tapi posisi segelintir orang yang oposisi terhadap semua gerakan buruh dan gerakan mahasiswa ketika sedang memperjuangkan hak hak mereka.

Salahsatu ritual ketika menyambut hari buruh adalah aksi yang dilakukan oleh buruh dan mahasiswa walaupun mungkin hari buruh kali ini berbeda karna adanya pandemi covid 19. Kebanyankan orang beranggapan bahwa ketika buruh dan mahasiswa turun menutup sebagian jalanan pandangan negatif pasti telah tertuju pada semua massa aksi. Entah dalang dari kemacetan panjang, polusi, menghambat pekerjaan semua dari sundut pandang dari segelintir orang yang oposisi ini adalah negatif dan sangat keliru mereka tidak memikirkan tupoksi dari manusia itu sendiri.

Yang ingin saya jelaskan bahwa menurut catatan sejarah jam kerja waktu buruh atau pekerja dan lain sebagainya awalnya memiliki waktu kerja kisaran 18 sampai 20 jam perhari bisa anda banyangkan betapa bosannya anda jika berada di posisi itu tapi berkat gerakan gerakan yang di buat oleh kaum buruh dan mahasiswa mampu menekan dari 18-20 jam menjadi 8 jam dan waktu ini juga dinikmati oleh para kaum pengajar dosen, guru atau apalah namanya.

Banyaknya stigma yang negatif dari para kaum pekerja dalam ruangan ber AC itu menganggap apa gunanya mahasiswa turun kejalan? sebenarnya sudah menunjukkan sikap hipokritnya, atau kesadaran naifnya bahwa ia melupakan catatan sejarah yang sebenarnya, Ataukah mungkin mahasiswa saat ini sudah mati dan sudah binasa dikarenakan kehidupan hedon yang makin membelenggu

Bukan cuma itu ketika kaum buruh memperjuangkan adanya tunjangan hari raya (THR) yang membuahkan hasil karena tuntutannya dipenuhi. Itu juga dinikmati oleh para kaum pekerja dalam ruangan ber AC.

Maka dari itu sepatutnya hilangkan stigma negatif tentang buruh atau mahasiswa yang turun menutup jalan karena jika perjuangannya membuahkan hasil maka anda sendiri yang merasakan manfaatnya

Mengutip salah satu perkataan aktifis 1998 yang hilang bak jarum di tengah kepulan buih lautan Wiji Thukul "Apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk mengibuli, apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu"

Penulis: Muhammad Iqbal, Mahasiswa Sosiologi Agama, UIN Alauddin Makassar.
×
Berita Terbaru Update