-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kapitalisme Pemicu Resiko Bunuh Diri?

Rabu, 17 Juni 2020 | 17:58 WIB Last Updated 2020-06-17T09:58:02Z

LorongKa.com - Maraknya kasus bunuh diri akibat tak terpenuhinya kebutuhan perekonomian di masa pandemi kian memambah peningkatan kasus bunuh diri yang ada di Indonesia. M Anwar (40) seorang pria berkeluarga tewas gantung diri dalam kamar mandi di rumah kos, Jalan Jamin Ginting,6 Kompleks Pamen Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara. Dia ditemukan istrinya yang baru pulang ke rumah usai mencari pinjaman untuk kebutuhan hidup sehari-hari (News.id).

Kasus bunuh diri selalu terjadi berturut-turut, Pelakunya mulai dari pelajar, mahasiswa sampai orang dewasa.

Menurut data dari WHO, seperti dikutip dari Komunitas advokasi, penelitian, dan edukasi terhadap pencegahan bunuh diri, Into the Light Indonesia, lebih dari 800.000 orang di seluruh dunia meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya (WHO, 2014). Tingkat bunuh diri di Indonesia berada pada peringkat keenam di Asia. 6,1% penduduk Indonesia berusia 15 tahun menderita depresi, namun hanya 9% penderita yang menjalani perawatan atau pengobatan medis (Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2018). Ada indikasi, dari satu orang yang meninggal akibat bunuh diri, ada lebih dari 20 orang yang melakukan percobaan bunuh diri.

Di Jerman sendiri, para pakar kesehatan mental memperingatkan bahwa selama sosial distanting dan Lockdown di terapkan maka konsekuensinya bisa mematikan. Kombinasi isolasi yang dipaksakan, peningkatan kecemasan, kekhawatiran keuangan, dan berkurangnya akses ke terapi dapat membuat mereka menderita sendirian. Data menunjukkan Antara 9.000 dan 10.000 orang di Jerman melakukan bunuh diri setiap Tahunnya akibat depresi. Survei menemukan bahwa 50,9% mengatakan mereka lebih mudah menjadi marah dan 29% merasa lebih marah dan lebih agresif.

Jika kondisi new normal tak membuahkan hasil untuk meningkatkan perekonomian negara dan mencukupi kebutuhan masyarakat, apakah hastag #JanganPanik akan masih berlaku? Ataukah justru akan membuat masyarakat makin panik?

Kecemasan rakyat membuahkan depresi tingkat tinggi ditengah pandemi covid 19 yang semakin luas. Bagimana tidak, "besar pasak daripada tiang". Boro-boro memikirkan besok mau makan apa, hari ini saja sepertinya harus banting pikiran. Apalagi dengan kondisi hanya di rumah saja tanpa bekerja, makin menambah beban. Tak hanya itu, PHK besar- besaran yang dilakuakan kepada para karyawan di berbagai daerah semakin membuat stres masyarakat.

Maraknya bunuh diri menjadi bukti bahwa masyarakat dalam keadaan tidak baik-baik saja atau dikatakan tidak beres dengan kondisi kejiwaannya. Ini menunjukkan bahwa tingkat kecemasan/stres rakyat semakin terpuruk, yang semakin hari semakin meningkat. Penyakit mental terutama depresi, pelecehan, kekerasan, latar belakang sosial dan budaya merupakan faktor resiko utama penyebab bunuh diri. Perilaku bunuh diri dapat dijadikan salah satu pendekatan untuk prevalensi ganguan kesehatan mental di suatu negara.

Tak heran, hidup di sistem kapitalisme yang menghamba harta, pastilah meniscayakan kehidupan yang berstandar fisik. Memiliki banyak kekuasaan serta materi adalah poros kebahagiaan hanya di pusatkan pada capaian nominal. Kapitalisme sangat tidak manusiawi mengelola eksistensi diri orang-orang yang yang bernaung dengan tata aturannya.

Betapa mirisnya hidup di sistem kapitalisme yang Kehidupan masyarkatnya individualis dan penuh persaingan dalam mendapatkan materi, yang kian hari kian sulit. Si kaya semakin kuat dan si miskin makin lemah. Yang kuat berjaya, sementara yang lemah gigit jari. Sehingga pemicunya pun tak dapat dihindari.

Tak adanya keseriusan dalam penanganan kebijakan pada rakyat adalah sikap para penguasa yg abai dan remeh temeh. Apalagi peran negara tak lagi menentingkan kehidupan rakyatnya. Sementara SDA yang berlimpah dirampok dan diserahkan kepada asing atas nama investasi. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak," (QS. Ibrahim 14: Ayat 42)

Perilaku bunuh diri adalah sesuatu yang tercela dan dilaknat oleh Allah swt.

Dalam daulah islam, bunuh diri adalah kasus yang sangat langka terjadi karena kehidupan rakyat yang terpenuhi dengan baik serta ketenangan dan kesejahteraan yang nyata jauh dari depresi. Tak ada rasa cemas akan keamanan dan perekonomian keluarganya karena penjaminan kehidupan yang diberikan seorang khalifah sungguh tidak main-main. Keseriusan dalam menangani setiap masalah yang dihadapi rakyatnya semata-mata karena mengharap ridho Allah swt untuk menjalankan tugas yang mulia.

Inilah mengapa sedemikian urgennya muara pengelolaan eksistensi diri manusia dikembalikan pada posisi manusia sebagai seorang hamba. Yang tak lain, ada sang khaliq yang tak hanya selaku pembuat aturan bagi kehidupan, tetapi juga legislator atas cara kematian hamba. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman;

"Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."
(QS. At-Taubah 9: Ayat 40) Wallahu 'alam bishsowab.

Penulis: Resti (Aktivis Muslimah Papua)
×
Berita Terbaru Update