-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

New Normal Life, Buat Orang Tua Semakin Gelisah

Rabu, 10 Juni 2020 | 09:56 WIB Last Updated 2020-06-10T01:58:53Z
Siti Nur Afiah Amd, Farm (Asisten Apoteker)
LorongKa.com - Meski Indonesia sedang menghadapi pandemi, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Plt. Dirjen PAUD Dasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad, menegaskan pihaknya tidak akan memundurkan kalender pendidikan ke bulan Januari. Salah satu alasannya, dimulainya Tahun Ajaran Baru berbeda dengan tanggal dimulainya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk tatap muka.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, ternyata di Surabaya ada 127 anak berusia 0-14 tahun yang dinyatakan positif COVID-19. Fakta ini diungkapkan Koordinator Protokol Komunikasi, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya, M Fikser.

Watiek Ideo, seorang penulis buku anak yang juga ibu dari seorang pelajar kelas 6 SD, penggagas petisi 'Tunda Masuk Sekolah Selama Pandemi' Merasa bahwa ada banyak anak, orang tua dan tenaga pengajar yang tak siap bila proses belajar tatap muka dilakukan di tengah pandemi, Watiek pun merasa kegundahan ini harus ada muaranya.

Watiek memberi gambaran, bila anak-anak masuk ke sekolah saat pandemi bisakah anak-anak tertib memakai maskernya sepanjang waktu di sekolah, dan bisakah orang tua menjamin anak-anak akan disiplin mengganti masker tiap empat jam pemakaian atau setiap kotor dan basah.

Membayangkan bagaimana anak-anak menjalankan protokol kesehatan yang sedemikian ketat, membuat Watiek dan orang tua di luar sana ragu untuk memasukkan anak mereka ke sekolah saat pandemi.

Watiek berharap, pemerintah mau mempertimbangkan saran Ikatan Dokter Anak Indonesia untuk tetap melaksanakan metode pembelajaran jarak jauh mengingat sulitnya melakukan pengendalian transmisi apabila terbentuk kerumunan.

Menurut data IDAI, hingga tanggal 18 Mei 2020 jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) anak sebanyak 3.324 kasus. Sedangkan jumlah anak yang berstatus PDP meninggal sebanyak 129 orang dan 584 anak terkonfirmasi positif COVID-19, dan 14 anak dinyatakan meninggal dunia akibat COVID-19. Dari temuan ini menunjukkan, tidak benar kalau kelompok usia anak tidak rentan terhadap COVID-19.

Inilah bentuk kegagalan pemimpin negeri yang menjalankan pemerintahan dalam menjamin jiwa rakyat, bahkan wacana dibukanya kembali sekolah pada juli mendatang merupakan salah satu skenario pemulihan ekonomi yang direncanakan pemerintah menuju new normal life.

Sungguh miris, keadaan masyarakat Indonesia saat ini hanya untuk mendapatkan sebuah kepentingan untuk segelintir orang, para penguasa seakan tutup mata tanpa mau melihat dari aspek keamanan bagi rakyatnya.

Sehingga sulit bagi masyarakat untuk mempercayai kebijakan pemerintah untuk membuka kembali sekolah di tengah pandemi. Hal ini disebabkan karena pemerintah dalam menangani Covid-19 tidak ada kejelasan, pemerintah seakan-akan acuh tak acuh terhadap keamanan masyarakatnya sendiri.

Misalnya, pemerintah sudah memperlakukan PSBB, namun korban yang terinfeksi covid-19 malah semakin bertambah, belum lagi masalah mudik dan pulang kampung antara dilarang atau diperbolehkan yang membuat masyarakat dilema, jadi wajar ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan bahwa akan dibukanya kembali sekolah di tengah pandemi ini membuat masyarakat gelisah, apalagi para orang tua siswa yang mengkhawatirkan kesehatan para anak-anak mereka.

Bukan hanya sampai disitu saja, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang kontroversial mulai dari pembebasan napi yang mengakibatkan kriminalitas meningkat, pemindahan ibu kota di tengah pandemi tetap berjalan, mempercepat disahkannya undang-undang omnibus law di tengah-tengah PHK massal, pembagian bansos yang penuh dengan ketidakadilan di tengah pandemi yang mana banyak rakyat yang kelaparan, bahkan akan ditetapkan new normal yang mana kasus covid-19 di Indonesia masih cukup besar.

Fakta membuktikan bahwa ketika prancis membuka sekolah ditemukan ada 70 kasus baru, begitupula dengan korea selatan ada 79 kasus baru.

Dalam Islam sosok pemimpin yang pantas untuk berkuasa mengurusi rakyatnya adalah mereka yang memiliki kapabilitas dalam mengurusi rakyatnya. Sehingga dia akan fokus memberikan solusi, serta pelayanan atas segala kebutuhan rakyatnya dengan tepat.

Jika rakyat dalam keadaan susah dalam menghadapi wabah covid-19, maka pemimpin akan melindungi rakyatnya dengan segenap jiwanya, dia akan maju di garda terdepan, pemimpin akan berupaya sekuat kemampuannya untuk menyelamatakan rakyatnya dari wabah covid-19.

Oleh karena itu, kebijakan yang dikeluarkan adalah kebijakan yang menyegerakan penanganan wabah. Menghentikan penularan yaitu dengan cara melakukan lokcdown dan menanggung secara penuh kebutuhan masyarakat yang terkena wabah, menjamin pelayanan kesehatan dengan kualitas pelayanan yang terbaik.

Penulis: Siti Nur Afiah Amd, Farm
×
Berita Terbaru Update