Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Pendidikan Ala Kapitalis Bukti Rusaknya Sistem Pendidikan Negeri

Senin, 03 Agustus 2020 | 18:53 WIB Last Updated 2020-08-03T10:53:41Z
Desi Wulan Sari (Member of Revoeriter)
LorongKa.com - Siapa yang tidak ingin memiliki anak yang cerdas, solih, sukses dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Tentu semua orang tua mengharapkan hal yang sama kepada anak-anak mereka. Maka berbagai upaya mereka lakukan untuk bisa mewujudkan harapan tersebut, yaitu dengan memberikan pendidikan terbaik bagi mereka.

Sengkarut Sistem Pendidikan Indonesia

Hidup di tengah-tengah sistem kapitalis saat ini, pendidikan dianggap menjadi sesuatu yang mahal. Mengapa? Karena fasilitas pendidikan terbaik bisa masyarakat rasakan, tetapi dengan membayar lebih mahal dari yang diberikan oleh negara. Padahal pendidikan semestinya diberikan secara komprehensif kepada setiap warga negaranya untuk dapar mengecap pendidikan terbaik beserta fasilitas pendukung yang tersedia secara gratis dari negara sebagai pengurus rakyat.

Namun, faktanya pendidikan saat ini dijadikan komoditas dagang bagi berbagai korporasi, sebagai penghasilan dicelah-celah dunia pendidikan. Lihatlah betapa besar gap antara sekolah negeri dengan sekolah swasta. Pembedanya tentu dari fasilitas SDM, infrastruktur, layanan wawasan ilmu dan lab-lab pendukung sekolah yang dibutuhkan.

Lihatlah kondisi sekolah negeri banyak bangunannya yang sudah rapuh, bobrok, tidak layak pakai, tidak memiliki akses internet, akses jalan yang sulit, guru yang apa adanya, gaji yang tidak sepadan, dan murid yang terus dibebani oleh biaya-biaya kebutuhan sekolah yang tetap berjalan. Maka tak heran jika banyak anak-anak dan orang tua di daerah-daerah pedesaan dan pelosok tidak lagi tertarik melanjutkan pendidikan karena kesulitan-kesulitan tersebut.

Berbeda halnya dengan sekolah swasta yang menyediakan fasiiitas lengkap seperti bangunan sekolah yang kokoh, terawat, fasilitas SDM yang memadai, gaji yang lebih baik, lab-lab pendukung sekolah, internet yang disediakan, infrastruktur dan akses yang mudah sangat menunjang kenyamanan pendidikan. Alhasil murid-murid ini lebih terlihat semangat dan berwawasan luas dalam dunia pendidikan.

Pendidikan di era kapitalis melahirkan korporasi yang berlomba-lomba mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa melihat unsur pendidikan dan beban moril serta tanggung jawab didalamnya. Asalkan proyek itu menguntungkan pasti mereka berlomba-lomba mengejarnya. Hal ini tentunya sangat mencoreng visi murni sebuah pendidikan.

Dan salah satunya yang sedang viral yaitu pelaksanaan POP (Program Irganisasi Penggerak) yang baru diluncurkan pemerintah. Disebutkan menurut Peraturan Sekjen Kemendikbud No.4, Tahun 2020, POP adalah program peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dengan melibatkan ormas sebagai mitra yang berdampak pada peningkatan hasil belajar peserta didik. Dan diketahui memakan biaya APBN senilai 595 miliar. Dengan rincian ormas yang lolos seleksi akan mendapat dana dengan kategori gajah menerima dana sekitar Rp 20 miliar, kategori harimau menerima dana Rp 5 miliar, dan kategori kijang menerima dana Rp 1 miliar.

Program POP membuat heran masyarakat. Para tokoh dan pengamat pendidikan mengkritisi pembagian dana hibah pemerintah yang dianggap kurang tepat. Karena korporasi besar seperti Putera Sampoerna lolos untuk mendapatkan dana kategori gajah dan macan. Lalu Yayasan Bhakti Tanoto lolos dalam kategori gajah sebanyak dua kali (pelatihan guru SD dan SMP) (Suara.com, 27/7/2020).

Keputusan kemendikbud tersebut membuat institusi pendidikan besar di negeri ini, seperti NU (Nahdatul Ulama), Muhammadiyah dan PGRI mengundurkan diri dari program ini. Karena dipandang tidak logis dan tidak menghargai pendidikan disebabkan pembagian besaran dana hibah yang dianggap terlalu besar bagi korporasi pendidikan dibandingkan organisasi pendidikan yang telam lama berkecimpung di dalamnya. 

Disebutkan Kemendikbud juga berusaha mengklarifikasi dengan meminta maaf pada ketiga organisasi besar tersebut, beliau menyebutkan "Dengan penuh rendah hati, saya memohon maaf atas segala keprihatinan yang timbul dan berharap agar tokoh dan pimpinan NU, Muhammadiyah, dan PGRI bersedia untuk terus memberikan bimbingan dalam proses pelaksanaan program yang kami sadari betul masih belum sempurna," kata Nadiem, dalam sebuah video resmi dari Kemendikbud. Tetapi ketiganya tetap menolak ikut dalam program POP tersebut (Republika.co.id, 29/7/2020).

Program pemerintah seperti ini seolah ingin memberi gambaran besar dunia pendidikan dalam sistem kapitalisme, bahwa pendidikan harus diukur dengan banyaknya materi. Persaingan mendapatkan materi terbanyak menjadi jalan rusaknya ikatan para pengusung pendidikan yang memiliki kemurnian visi terhadap pendidikan. Lantas, bagaimana cara mengembalikan kemurnian visi pendidikan saat ini? Siapakah yang mampu mewujudkan pendidikan yang menciptakan generasi cemerlang, pembangun peradaban gemilang saat ini?

Kembali Kepada Sistem Pendidikan Terbaik

Jika pendidikan merupakan aspek penting dalam sebuah sistem negara, tentu upaya-upaya pembangunan dan pengembangan kearah tersebut akan terus ditingkatkan, dengan membuka selebar-lebarnya akses pendidikan bagi setiap warga negaranya.

Saat melihat kerusakan sistem pendidikan akibat sistem kapitalisme saat ini, maka perlu perbaikan signifikan, perubaham sistem dan cara pandang pendidikan yang hakiki. Dan ketika kita bercermin pada satu sistem pendidikan terbaik yang pernah ada, pasti tidak akan ada yang mampu menolak untuk ikut mengadopsi sistem tersebut saat ini. Memang benar, sistem itu adalah Islam.

Sistem pendidikan dalam Islam melahirkan para cendekiawan dan generasi cemerlang dari masa ke masa. Hingga kini penemuan-penemuan ilmu pengetahuan dan hukum-hukum syara yang up to date tetus berkembang sepanjang peradaban Islam.

Pendidikan Islam tidak bisa dipisahkan dari kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya dan personality seorang muslim. Tujuan Pendidikan Islam adalah menumbuhkan pada kepribadian Islam secara utuh melalui latihan kejiwaan, kecerdasan, penalaran, perasaan dan indera. Pendidikan Islam harus menfasilitasi pertumbuhan dalam semua aspeknya, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, ilmiah maupun bahasanya baik secara perorangan maupun kelompok yang lebih luas.

Tujuan pendidikan Islam dapat diklasifikasikan menjadi empat macam:

Pertama, tujuan Pendidikan Jasmani (al-Ahdaf al-Jismiyah), dalam sebagian aspeknya, pendidikan Islam bertujuan untuk mempersiapkan manusia sebagai pengemban tugas khalifah di bumi melalui keterampilan fisik. Sehimgga mampu menghasilkan generasi terbaik.

Kedua, tujuan Pendidikan Rohani (al-Ahdaf ar-Ruhaniyah), dalam sebagian aspeknya, pendidikan Islam bertujuan untuk meningkatkan jiwa dan kesetiaan yang hanya kepada Allah semata dan melaksanakan moralitas Islami yang diteladani oleh Nabi saw dengan berdasarkan pada cita-cita ideal dalam al-Quran. Itulah pendidikan akidah sebagai pembentuk pemikiram dan kepribadian Islam.

Ketiga, tujuan Pendidikan Akal (al-Ahdaf al-Aqliyah), pada sebagian aspeknya, pendidikan Islam bertujuan mengarahkan intelegensi supaya menemukan kebenaran dan sebab-sebabnya dengan telaah terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah. Tahap pendidikan akal ini adalah pencapaian kebenaran ilmiah, kebenaran empiris,dan kebenaran metaempiris atau filosofis. Dengan kata lain inilah pembentuk pola pikir Islami.

Keempat, tujuan Pendidikan Sosial (al-Ahdaf al-Ijtima’iyyah), dalam sebagian aspeknya, pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk kepribadian yang utuh baik roh, tubuh dan akal.

Dan semua pola pendidikan itu wajib diselenggarakan oleh negara atas dasar kebutuhan manusia dalam mendapatkan hak pendidikan sebagai warga negara secara gratis dan pemberian fasilitas secara menyeluruh. Wallahu a'lam bishawab.

Penulis: Desi Wulan Sari (Member of Revoeriter)
×
Berita Terbaru Update