-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bisakah Kembalikan Kepercayaan Publik, Atas Klaim Obat Corona?

Selasa, 04 Agustus 2020 | 19:46 WIB Last Updated 2020-08-04T11:46:18Z
Nur Rahmawati, SH (praktisi Pendidikan dan Pengamat Politik)
LorongKa.com - Lemahnya kepercayaan publik, atas lambannya pemerintah dalam menangani corona. Menggambarkan bahwa pemerintah tak mampu lagi meyakinkan masyarakat atas bahaya virus yang kini melanda. Bahkan menganggap remeh corona yang dapat merenggut nyawa. Banyaknya klaim penemuan obat corona hanya dipandang sebelah mata, bahkan baru-baru ini viral klaim obat virus tersebut dari Hadi Pranoto yang mengaku Profesor ahli mikrobiologi.

Dilansir dari, kompas.com, (2/8). Tidak sedikit orang Indonesia atau pihak tertentu yang mengeluarkan pernyataan terkait obat atau herbal yang bisa menyembuhkan Covid-19.

Salah satunya adalah Hadi Pranoto, seseorang yang memperkenalkan diri sebagai profesor sekaligus Kepala Tim Riset Formula Antibodi Covid-19. Baru-baru ini Hadi diwawancara oleh musisi Erdian Aji Prihartanto atau Anji, yang diunggah dalam video Youtube pada 31 Juli 2020.

Fenomena ini menggambarkan, pemerintah tidak mampu meyakinkan publik akan bahayanya virus. Juga menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa mengandalkan pemerintah untuk menemukan obat atas virus yang kini banyak merenggut nyawa, dari kalangan orang biasa hingga yang kaya.

Agaknya, memang keadaan ini telah memaksa mereka untuk menganggap sepele virus Corona. Kalau kita bisa lihat saat ini keadaan semakin memprihatinkan. Dimana bahan pokok, tarif listrik, air dan ditambah beban anak sekolah semakin menambah fikiran mereka. Maka tak heran jika masalah keselamatan sebab Corona bukan prioritas untuk dikhawatirkan. Seharusnya, menganggap remeh dan tak berbahaya sungguh tidak dibenarkan.

Dikutip dari, Kompas.com, Ahli Patologi Klinis sekaligus Wakil Direktur Rumah Sakit UNS Tonang Dwi Ardyanto. Menurunya, semua orang pasti berharap bahwa wabah ini dapat segera diatasi. Dia pun tak pernah melarang adanya harapan baik bahwa virus corona tidak berbahaya.

Akan tetapi, sebelum semua itu terbukti, sebaiknya tidak dikatakan terlebih dahulu.

"Sebelum itu terbukti, jangan dikatakan dulu. Kita jadikan doa, sebelum terwujud ya harus berusaha. Nyatanya penyakit ini menimbulkan masalah besar," tutur dia.

"Janganlah kita beri suatu harapan yang belum pada tempatnya. Kalau soal harapan, kita semua punya harapan baik, kita semua sudah ingin segera selesai, kita sudah lelah," sambungnya. (2/8).

Memang benar, tidak ada virus yang tidak berbahaya, jika faktanya virus ini telah memakan banyak korban. Lantas mengapa kepercayaan publik sulit untuk dikembalikan?. Menjawab hal ini perlu kita analisa bersama, bahwa apakah pemerintah saat ini telah berupaya dengan tuntas menangani persoalan ini.

Pemerintah, telah mengambil beberapa kebijakan dalam menangani kasus Corona, salah satunya dengan menggelontorkan sejumlah dana, tapi sayangnya dana yang dikeluarkan tidak mengalami kenaikan walau korban bertambah. Kemudian soal kebijakan newnormal, ternyata justru menambah ledakan angka yang terjangkit virus. Biaya kebutuhan masyarakat juga tidak mengalami penurunan justru sebaliknya, dan yang berikutnya masalah pendidikan anak yang menggunakan PJJ daring tanpa memberi solusi praktis dan nyata untuk membantu pelaksanaanya, dan justru menambah lagi beban yang telah menumpuk dirasakan masyarakat.

Sebagaimana, yang dikutip dari HarianRakyat.com. Seperti diungkapkan Siti Solihah (38), salah satu orang tua peserta didik di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kota Banjar, bahwa semenjak diadakannya sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ), aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga mulai berkurang karena harus mendampingi anaknya saat mendapat tugas dari guru sekolahnya.

Selain itu, Siti juga mengaku sedikit terbebani ketika proses kegiatan belajar dilakukan secara daring, mengingat biaya pembelian untuk kuota tidaklah murah.

"Mesti gimana lagi, namanya juga untuk pendidikan anak ya mau tidak mau harus diusahakan. Kalau bisa pihak sekolah juga membantu pengadaan fasilitas penunjang belajarnya," kata Solihah, kepada Koran HR, Selasa (21/07/2020).

Sederet keluhan di atas, tentu sulit untuk mengembalikan kepercayaan publik akan pemerintah. Terlebih kasus penanganan Corona. Semua itu disebabkan oleh sistem yang diadopsi negara ini. Yaitu sistem kapitalisme-sekularisme, yang indikatornya mengutamakan keuntungan segelintir orang dengan mengabaikan kewajibannya terhadap rakyat.

Kembalikan Kepercayaan Publik dengan Sistem Islam.

Saatnya, mulai mengembalikan kepercayaan publik dengan pemerintah, dengan merubah sistem yang terbukti merusak dan menyengsarakan dengan sistem Islam. Sistem yang mengutamakan kesejahteraan dan kepengurusan umat secara total dan komprehensif dengan aturan Islam. Perubahan yang revolusioner sangat diperlukan, tentunya di segala lini kehidupan. Inilah bentuk taubat massal bagi seluruh penghuni negeri, sehingga masalah demi masalah akan terselesaikan atas kehendak Allah SWT.

Seperti sabda Rasulullah Saw:

"Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada kalian." (Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah, dan ia menghukumkannya sebagai hadits hasan dalam kitab sahih Jami' Shagir-5235)

Di antara keutamaan orang-orang yang bertaubat, Allah SWT akan menyelesaikan urusannya di dunia dan menyelamatkannya di akhirat. WalLahu a’lam bi ash-shawab.

Penulis: Nur Rahmawati, SH (praktisi Pendidikan dan Pengamat Politik)
×
Berita Terbaru Update