Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Korean Wafe, Pantaskah Jadi Panutan?

Rabu, 30 September 2020 | 10:13 WIB Last Updated 2020-09-30T02:14:37Z
Alya Amaliah, Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Hasanuddin.
LorongKa.com - Demam Korea sudah lama menjadi fenomena yang tersebar dan digandrungi banyak anak muda, mulai dari musik, drama, bahasa, hingga budaya-budaya lainnya menjadi hal lumrah, termasuk di Indonesia

Menyangkut Korea-koreaan, ternyata juga membuat wakil presiden RI, K.H Ma’ruf Amin untuk buka suara akan fenomena itu.

Pada peringatan 100 Tahun Kedatangan Orang Korea di Indonesia, Minggu (20/9), dia menilai saat ini banyak anak muda Indonesia yang gandrung menonton Drama Korea atau yang dikenal sebagai Drakor dan mengenal artis Korean Pop atau K-pop.

"Maraknya budaya K-pop diharapkan juga dapat menginspirasi kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri," kata Ma'ruf (CNN, 20/09)

"Indonesia bisa banyak belajar dari Korea. Investasi dan alih teknologi diharapkan bisa membuat produk Indonesia semakin meningkat kualitasnya, bisa diekspor ke luar negeri. Hingga diharapkan juga makin banyak produk-produk Indonesia bisa diterima di Korea," ujar Ma'ruf Amin

Pantaskah Jadi Panutan
Keberhasilan negeri ginseng tersebut untuk terjun didunia hiburan dan teknologi, memang patut untuk di acungi jempol. Tetapi memosisikan para penikmatnya yang kebanyakan dari kalangan anak muda untuk dapat mencontohinya untuk membuat produk serupa dan menyebarkan kebudayaan Indonesia untuk keluar tentu bukan sesuatu yang solutif.

Menonton hiburan memang bisa saja membuat kita untuk bergerak dan menjadikannya sebagai pendorong untuk berbuat sesuatu, tapi kebanyakan dari kita bukan untuk membuat sesuatu seperti film atau musik dari hasil yang kita lihat, tetapi malah lebih condong kepada sesuatu yang ditampilkan dari apa yang kita tonton.

Layaknya menonton Korean drama high school yang menjadi K-drama legend dan favorit pada masanya, setelah menontonnya seberapa banyak yang membuat karya semisal dari drama itu? Mungkin ada segelintir orang terinspirasi bagaimana alur cerita, pemosisian kamera dan lain sebagainya, tetapi ada dampak yang sangat besar bahkan memprihatinkan yang ditimbulkan dari produk impor tersebut.

Dalam Buku Metode berfikir Syaikh Taqqiyuddin An Anbani, dijelaskan ada 4 komponen berfikir, yaitu indra, otak, maklumat sebelumnya, dan fakta. Salah satunya yaitu indra, apa yang kita lihat, dengar, baca, sentuh dan sebagainya bukan hanya sekedar terlihat, bukan sekedar terdengar, tetapi akan terpatri dan menjadi bahan dalam proses berfikir, yang selanjutnya mempengaruhi kita berlisan, bertindak, dan mementukan sesuatu.

Ketika menonton drama, ketika kita melihat konser boyband, ada yang terlihat dari mata kita, dan tentunya sebagai seorang muslim jauh dari kata ketaatan kepada syariat. Bagaimana mereka berpakaian yang serba minim, cara mereka bergaul dengan lawan jenis, bagaimana bersikap dan melakukan tindakan yang senonoh, tentu akan masuk melalui indra dan hal yang tak sesuai syariat itu, bukan tak mungkin menjadi biasa dalam hidup kita, dan bahkan mencontohnya

Begitulah cara anak muda yang juga tak ada arahan dan pengetahuan pondasi yang kuat, dan manusia pada umunya, akan mencontoh dan semakin mencintai apa yang sering mereka lihat. Tak ada lagi menonton budaya-budaya Indonesia, tak ada lagi kecenderungan untuk memahami nilai-nilai islam, apatalagi untuk menyebarkannya. Karena bagaimana seseorang dapat menyebarkan sesutu yang tak pernah mereka baca, amati, dan saksikan.

Sejalan dengan apa yang diindrai, fakta dilapangan yang makin mengelus dada. Kehidupan serba bebas, homoseksual, perselingkuhan, cara berpakaian yang menyerupai wanita korea, tentu adalah sesutau yang lumrah terlihat.

Panutan Ala Islam
Berbicara mngenai panutan, Islam juga tak pernah kehabisan sosok untuk diambil pelajaran, cara hidup, dan cerita lainnya yang dapat dijadikan acuan. Tak hanya untuk eksis di penduduk bumi, tetapi juga menghantarkan untuk eksis di penduduk langit.

Ada Sultan Muhammad Al-Fatih, sang penakluk konstantinopel pada usia 21 tahun, sudah menjadi sultan pada usia 13 tahun, menguasai banyak bahasa, dan tentunya juga Al-Qur’an dan hadist. Masa kanak-kananya dihabiskan untuk memahami Al-Quran dan bagaiaman orang-orang sebelumnya berjuang tuk menaklukkan konstantinopel.

Selanjtunya ada Imam Syafi’i, salah saTu imam besar, dan sebagai salah satu rujukan mahzab di dunia. Sejak anak-anak tidak hanya sibuk traveling, tapi berkelana untuk mencari ilmu, dari satu kota, ke kota lainnya. Maka ada pepatah yang sangat terkenl dari Imam syafi’i kurang lebih “ apa bila kamu tak sanggup menahan susahnya belajar di saat muda, maka beriaplah mennaggung perihnya kebodohan di msa tua”.

Adapula Ibnu Sina, dikenal dengan bapak Kedokteran. Dua karyanya yang paling berpengaruh adalah ensiklopedia filsafat Kitab al-Shifa’ (The Book of Healing) dan The Canon of Medicine. Keduanya kini dipakai sebagai standar ilmu medis di seluruh dunia. Tak hanya di bidang keodkteran, sejak umrnya 5 tahun beliau sudah menghafal Al-Qur’an.

Itulah beberapa tokoh-tokoh dalam islam, masih sangat banyak kisah-kisah inspiratif lainnya, apabila memang kita bermaksud untuk mencari sosok inspiratif, yang tak hanya membuat kita menjadi manusia yang berguna, tetapi juga mnusia yang taat kepada pencipta-Nya. Wallahu a’lam bidzhawab.

Penulis: Alya Amaliah, Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Hasanuddin.
×
Berita Terbaru Update