Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Sah Mahasiswa! Lalu apa?

Kamis, 24 September 2020 | 09:07 WIB Last Updated 2020-09-24T01:07:35Z
Dian Anjarwati
LorongKa.com - Sambut Maba, atau Mahasiswa Baru sudah jadi acara tahunan di kampus-kampus. Bahkan beberapa Universitas ternama menerima jumlah maba bisa sampai angka puluh ribu. Hasrat menuntut ilmu sangat luar biasa dalam diri pemuda. Rasa ingin tahu tinggi, membangun relasi, menempa kemandirian ada di depan mata para pembelajar tingkat tinggi ini.

Bahkan saat pandemi ini pun, tak surut langkah pembelajar ini untuk meneruskan langkahnya masuk perguruan tinggi. Semua dilakukan dengan online. Bahkan masa orientasi pun dilakukan daring. Menyandang status sebagai mahasiswa membuat bangga keluarga, serta sebagai pembuktian diri, bahwa nantinya mampu merubah diri, keluarga, dan negara. Sungguh niat yang mulia.

Adanya Pakta Intergritas yang beredar dikalangan mahasiswa baru Universitas Indonesia ini, rupanya ditentang Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI. Karena hal ini bisa mengekang hak mahasiswa. "Kami menentang segala hal yang mengekang hak-hak mahasiswa, dan meniadakan perlindungan terhadap hak-hak mahasiswa dan mematahkan semangat kampus merdeka yang membebaskan mahasiswa dalam proses belajar," ujar Ketua BEM UI Fajar Adi Nugroho kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (12/9).

Isi Pakta Integritas disebutkan mahasiswa tidak boleh mengikuti kegiatan yang dilakukan sekelompok mahasiswa yang tidak mendapat izin resmi pimpinan fakultas atau kampus. Fajar menduga poin dapat mengekang kehidupan berdemokrasi mahasiswa, salah satunya mahasiswa tidak akan bisa mengkritik kebijakan pemerintah atau melakukan aksi demonstrasi. "Mengingat definisi politik praktis dan mengganggu tatanan akademis dan bernegara [yang tertulis dalam pakta] dapat ditafsirkan secara kabur," katanya.

Masa Indah Mahasiswa

Menjalani kehidupan mahasiswa bisa dikatakan masa akhir fase kehidupan tanpa beban. Karena selepas fase ini, kita akan mulai memikirkan mencari uang sendiri apalagi ketika jodoh bertemu lebih cepat, maka tanggungan pun berlipat. Namun, dalam menjalani kehidupan kampus ini, sebagai seorang pemuda ada hal-hal yang juga menjadi tanggung jawab lain ditangannya. Mencari jati dirinya. Dan memiliki konsep hidup lebih baik, dan memikirkan urusan bangsa dan negara.

Dua kehidupan mahasiswa yang banyak ditemui. Tipikal pertama fokus pada pendidikan, hanya belajar dan belajar. Tanpa mau tahu urusan perpolitikan kampus yang dinamis. Lalu yang kedua adalah tipikal organisatoris, memandang pendidikan yang biasa saja, tidak ngotot, yang penting bangun relasi luas, yang akan berguna ketika lulus. Keduanya mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tidak ada salahnya antara satu dengan lainnya. Tidak ada yang lebih bernilai diantaranya.

Sejatinya, para pemuda adalah potensi besar bagi setiap bangsa. Karena ditangan pemuda lah nasib sebuah bangsa ditentukan. Mengapa pemuda? Karena seorang pemuda, pasti memiliki fisik yang kuat, ada keinginan yang kuat (idealisme) dalam dirinya, kecerdasan berpikir (intelektualitas), lalu semangat dan keberanian mereka tidak diragukan lagi. Dan semua potensi tadi, sangat mungkin terasah saat menjalani menjadi mahasiswa. Tak heran kita temukan, teriakan dari kalangan mahasiswa yang mengkritisi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemberi kebijakan.

Namun, terwujudnya kalangan mahasiswa dengan karakteristik demikian dalam sistem saat ini tentu sulit. Sistem serba boleh dan bebas serta hukum yang tak jarang membuat bingung. Adakalanya mereka sadar bahwa hal kerusakan yang terjadi dikalangan muda misal narkoba, pergaulan bebas, tawuran, cukup dihindari saja, tak perlu memikirkan solusi. Ada juga yang berpikir, harus ada solusi tuntas agar persoalan kerusakan ini tidak muncul lagi, tapi dengan apa menyelesaikannya, itu masih dalam bayangan. Atau ketika menemukan solusinya, bisa diselesaikan secara tuntas, malah mendapat persoalan baru.

Sebagai generasi penerus, tentunya kita semua harus mengenali potensi besar dalam diri. Karena dari potensi yang dipunyai generasi muda, tersimpan peran besar. Menjadi orang yang hidup dalam sistem yang rusak ini, tentunya mulai berpikir apa yang harus dirubah agar sistem hidup yang dipakai adalah sistem yang hakiki. Anak muda adalah _agent of change_. Berikutnya, yang patut disadari mengapa kondisi masyarakat masih belum berubah, bisa jadi kontrol sosial kita selama ini sangat kurang. Kehidupan yang individualis benar benar membuat kita semua banyak melakukan pembiaran atas kesalahan yang dilakukan sesamanya. Pesan sebagai kontrol sosial di masyarakat diperlukan. Mental kita sebagai generasi penerus pun harus dibangun. Karena dengan membangun kesadaran bahwa anak muda adalah _Iron Stock_ , maka tergambarlah akan bagaimana kita isi masa muda kita.

Panggilan untuk Maba

Apakah semua peran itu hanya diletakkan di pundak mahasiswa. Tentu tidak. Karena semua pemuda pastilah memiliki peran yang sama. Namun, mengapa para mahasiswa? Harapannya dengan suara yang dikeluarkan para mahasiswa akan memanggil seluruh pemuda, bahkan bisa jadi dengan suara lantang mereka, golongan orang tua merasa terpanggil.

Mewujudkan karakteristik generasi muda dalam sistem yang seperti ini jelas tidak bisa. Islam sebagai sistem yang paripurna dalam membentuk karakter manusia, terbukti mencetak generasi cemerlang. Bagaimana Rasulullah mencetak para sahabat, terlihat dari banyaknya deretan pemuda yang turut berjuang bersama Rasulullah hingga Islam diterapkan pada dua per tiga dunia. Apakah mampu untuk saat ini? Pasti mampu.

Sebagai mahasiswa Muslim, tentunya kekuatan aqidah menjadi dasar utama kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Padatnya perkuliahan, apalagi bisa dipastikan selama masa pandemi ini, pelaksanaannya dengan online. Kita niatkan menuntut ilmu karena Allah, maka kesulitan semacam apapun akan terasa mudah melewatinya. Pastinya dengan aqidah yang kokoh itu, tingkat taqarrub kita pada Allah semakin kuat juga. Kita semakin tahu aturan apa saja yang harus pakai manusia agar hidupnya sesuai jalan yang benar. Karena sejatinya segala perbuatan kita akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah, maka tidak akan kita siakan kehidupan ini untuk bersantai.

Nikmatilah masa mahasiswa ini. Tidak hanya untuk berkuliah saja, namun juga mencari kegiatan yang menunjang peran kita di masyarakat kelak. Berkawan dengan yang shalih dan shalihah jadi daftar utama, karena kebaikan dari mereka bisa ditiru. Bersuaralah ketika ada hal yang tidak sesuai dengan Islam. Jadilah mahasiswa yang memegang aqidah kuat, mampu bersaing secara keilmuan dan tentunya turut memikirkan nasib umat serta melakukan dakwah ditengah masyarakat. Wallahu'alam.

Penulis: Dian Anjarwati
×
Berita Terbaru Update