Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Suara Pemuda Untuk Perubahan Bangsa

Selasa, 20 Oktober 2020 | 13:21 WIB Last Updated 2020-10-20T05:21:19Z
Dian Anjarwati (Member Liwa Squad)
LorongKa.com - Gelombang aksi Mahasiswa di penjuru Negeri untuk menolak UU Ciptaker beberapa waktu lalu masih terekam baik. Harapan besar suara mereka akan didengar oleh Penguasa Negeri ini. Meski mereka dan kita semua menyadari kondisi pandemi belum berakhir akan berakibat fatal pada kesehatan, namun tak menyurutkan langkah mereka. Kado pahit dari aksi ini akhirnya mereka terima pula, selain ricuhnya demo hingga ada korban luka yang dialami saat itu, kali ini muncul kabar bahwa ada sponsor dibalik aksi mereka. 

Pemerintah mengklaim mengetahui siapa dalang yang menggerakkan demo besar-besaran sejak kemarin. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam wawancara dengan CNBC Indonesia TV seperti dikutip Kamis (8/10/2020). Dia mengaku tahu pihak-pihak yang membiayai aksi demo itu.

"Sebetulnya pemerintah tahu siapa behind demo itu. Kita tahu siapa yang menggerakkan, kita tahu siapa sponsornya. Kita tahu siapa yang membiayainya," ucapnya (detik.com 08/10/20). 

Perjuangan Mahasiswa

Adanya respon seperti ini dari Pemerintah, bisa kita nilai bahwa yang seharusnya ada hak bagi rakyat untuk mengoreksi Pemerintah, seolah lenyap. Artinya tidak diperlukan lagi muhasabah pada Penguasa. Jika dibiarkan hal ini terjadi, Negara ini akan menjadi Otoriter yang anti kritik. Padahal aksi yang dilakukan Mahasiswa itu setidaknya mewakili aspirasi masyarakat agar suaranya bisa didengar. 

Kemendikbud bahkan sempat mengeluarkan Surat edaran melarang mahasiswa melakukan demonstrasi menolak Omnibus Law UU Ciptaker, termuat dalam surat nomor 1035/E/KM/2020. Bahkan, para dosen diimbau untuk tidak memprovokasi mahasiswa agar menolak UU tersebut.

“Tidak memprovokasi mahasiswa untuk mengikuti/mengadakan kegiatan demonstrasi/unjuk rasa/penyampaian aspirasi yang dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan para mahasiswa/i,” tulis Kemendikbud. 

Menanggapi hal tersebut, Satriawan Salim selaku Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) mengatakan, seharusnya Nadiem Makarim memberikan apresiasi kepada para mahasiswa.

“Pada poin nomor 6 dikatakan, ‘menginstruksikan para dosen senantiasa mendorong mahasiswa melakukan kegiatan intelektual dalam mengkritisi UU Ciptaker’, justru kritik itulah yang tengah dilakukan mahasiswa. Adapun aksi turun ke jalan merupakan wujud aspirasi dan ekspresi mereka terhadap langkah-langkah DPR dan pemerintah yang abai terhadap aspirasi mereka bersama rakyat lainnya,” ujar Salim

“Apalagi para yang namanya mahasiswa, belajar tak hanya di ruang kuliah yang terbatas tembok, ruang kuliah sesungguhnya para mahasiswa adalah lingkungan masyarakat itu sendiri. Mengikuti aksi demonstrasi adalah bagian dari laboratorium sosial mahasiswa sebagai agen perubahan. Menjauhkan mahasiswa dari rakyat, sama saja menjauhkan ikan dari lautan luas,” ujarnya (tasikmalaya.com 11/10/20). 

Inilah yang diperlihatkan oleh sistem Demokrasi Kapitalis yang tidak ramah bagi para Intelektual muda. Suara perubahan mereka dikerdilkan hanya untuk memenuhi kemaslahatan pribadi dan juga demi segelintir kepentingan. Padahal jika diarahkan pada sesuatu yang mendasar akan mewujudkan perubahan menyeluruh. Karena potensinya sangatlah besar, sebagai _Agent of Change_. Dia adalah corong perubahan bagi masyarakat. Bahkan tidak bisa dipungkiri pemuda hari ini adalah tokoh di masa mendatang. 

Peluang Pemuda dalam Islam

Wajah pemimpin masa depan ditentukan oleh kualitas pemudanya. Jika sel sel pemuda diproses dengan benar, maka akan terbentuk pemimpin yang tidak hanya cerdas namun memiliki sikap yang baik. Jelas, dalam hal ini Islam dengan konsep penanaman Kepribadian Islam yang berkonsentrasi pada dua hal yaitu pola pikir dan pola sikap sesuai Syariat, mempunyai peluang besar hasilkan pemuda berkualitas. Pihak yang bertanggungjawab sebagai pembentuk karakter pemuda dalam hal ini diantaranya adalah keluarga sebagai wadah pertama dalam menanamkan keimanan dan ketaatannya pada Syariat. Kemudian masyarakat, tempat dimana pemuda ini tumbuh bersama masyarakat. Akan tetapi keberpengaruhan masyarakat sebagai pembentuk karakter pemuda ini, tidak bisa berjalan maksimal tanpa bantuan Negara. Karena terkait dengan kebiasaan masyarakat dan pendapat umum yang berkembang, bisa berpengaruh pada mental pemuda tadi. Selanjutnya adalah peran penting Negara dalam menyediakan pendidikan yang berisi Tsaqofah Islam dan Sains dan Teknologi. 

Hasil yang didapat nantinya adalah pemuda yang Faqih Fiddin, menguasai Sains dan Teknologi juga berjiwa pemimpin. Tentunya dengan menggunakan kurikulum yang bersumber dari Aqidah Islam. Kemudian Ilmu Sains dan Teknologi yang dipakai tidak bertengan dengan Islam. Jika ada Ilmu Sosial dari Barat seperti Liberalisme, Marxisme, Pluralisme dan lainnya maka tidak diberikan kecuali pada level pendidikan tertinggi. Bukan untuk diamalkan, tapi dicari kesalahannya kemudian dibandingkan dengan Islam. 

Pemimpin dalam Islam (Khalifah) adalah manusia biasa. Bukan manusia tanpa dosa. Khalifah tetap akan menerima muhasabah (koreksi) dari rakyatnya melalui jalur Majelis Umat. Karena konsep Penguasa dalam Islam adalah sebagai pelayan bagi rakyatnya. Dan setiap pengurusan pada rakyat inilah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. 

Menyadari potensi pemuda inilah, Islam benar-benar serius dalam membentuk karakternya. Perubahan mendasar harus disuarakan tentunya dengan Syariat Islam. Lalu saat Umat hadir menyampaikan muhasabahnya, Pemimpinnya siap menerimanya. Karena muhasabah pada penguasa, wajib dilakukan dan itu hak warga negara. Wallahu'alam.

Penulis: Dian Anjarwati (Member Liwa Squad)
×
Berita Terbaru Update