-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mencari Keadilan Dan Persembunyian HAM

Kamis, 17 Desember 2020 | 17:51 WIB Last Updated 2020-12-17T09:51:04Z

Khaeriyah Nasruddin, seorang penulis lepas yang bergiat di Forum Lingkar Pena.

"Ini benar-benar merupakan pagi yang kelabu, di mana nyawa 6 orang anak muda hilang seketika mudahnya, di tangan mereka yang tega berbuat kejam kepada sesama anak bangsa."


LorongKa.com - Penulis ingin membuka tulisan ini dengan mengutip potongan tulisan dari Anwar Abbas. Benarlah kalimat pertama yang disampaikan bahwa pagi ini di bulan Desember menjadi kelabu bukan karena hujannya tapi karena hilangnya hati nurani manusia. Kita berduka lagi karena kehilangan 6 orang anak muda yang sedang melakukan pengawalan terhadap seorang ulama yang akan melakukan pengajian subuh. 


6 orang anak muda yang mati karena tertembak, berita meninggalnya 6 orang anak muda ini memang menjadi misteri karena ada dua kronologi berbeda dari kejadian ini. Pihak kepolisian menyampaikan mereka harus melakukan penembakan karena pelaku mencoba merebut senjata, polisi pun melakukan tindakan itu dengan tegas dan terukur. Aziz Yanuar selaku kuasa hukum FPI menyampaikan setelah melihat langsung kondisi 6 jenazah, di tubuh jenazah ditemukan luka tembak, luka lebam, hangus, kulit terkelupas dan 4 lubang peluru.


Meninggalnya 6 orang anak muda ini menjadi misteri dan menimbulkan berbagai respon dari masyarakat, melihat ini maka timbul pertanyaan di benak; apakah benar 6 anak muda itu sedang membawa senjata seperti samurai dan celurit yang lalu dijadikan barang bukti? Apa benar 6 anak muda yang dikatakan menyerang namun akhirnya mati sementara para petugas tidak terluka sedikitpun? Apa benar 6 anak muda itu sedang melakukan perlawanan sementara saksi mata menyatakan di KM 50 korban disuruh turun dari minibus dan sudah dikepung? Setelah tembakan di rest area di malam itu dan drama CCTV yang mati, polisi lalu mengumumkan bahwa 6 anak muda itu telah tewas. 


Tak bisa dipungkiri bahwa terbunuhnya 6 anak muda dengan cara tidak wajar adalah tindakan biadab. Nyawa manusia mahal harganya dan tidak boleh dipandang sebelah mata apalagi yang meninggal jumlahnya ada enam orang. Tak pernah salah kalau masyarakat mencari ke mana sosok pemimpin negara ini, padahal sebelumnya pada tanggal 10 Desember presiden Jokowi memberikan sambutan hangat dalam peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM).


“Penghormatan, komitmen dan perlindungan HAM menjadi pilar penting bagi Indonesia untuk menjadi bangsa yang beradab…. Pemerintah tak pernah berhenti untuk menuntaskan masalah HAM masa lalu secara bijak dan bermartabat, kita harus bekerjasama menyelesaikan dan mencurahkan energi untuk kemajuan bangsa.” 


Setelah diam presiden kemudian memberikan tanggapan mengenai peristiwa ini, satu hal menggelitik dari pernyataan tersebut yaitu, “aparat hukum itu dilindungi hukum dalam menjalankan tugasnya, tidak boleh ada warga atau masyarakat yang semena-mena melanggar hukum yang (dapat) merugikan masyarakat apalagi membahayakan bangsa dan negara.” (Okezone.com/13/12)


Menilik pernyataan di atas tampaknya mengandung makna terselubung yaitu adanya sebuah pembenaran atas apa yang telah dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap penembakan 6 orang anak muda. Pasalnya penembakan itu dilakukan, katanya, karena pelaku melakukan perlawanan, jadi apapun yang telah dilakukan oleh polisi semuanya akan dilindungi oleh hukum. Seandainya ada rakyat yang tidak setuju atas tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pihak kepolisian maka rakyat tidak boleh macam-macam, termasuk pun kalau kejadian seperti ini terulang lagi, ya, rakyat harus legowo karena kalau semena-mena akan dihukumi. Kalau seperti ini nyawa manusia bisa saja terus melayang apalagi di sistem hari ini harga nyawa sangat murah.


Berkali-kali kita melihat berita mudahnya orang menghilangkan nyawa, bunuh diri, membunuh ataupun dibunuh. Sistem demokrasi gagal memberikan jaminan terhadap sebuah nyawa, hal ini sangat berbeda dengan Islam. Satu-satunya sistem yang memberikan jaminan dan penghargaan terhadap nyawa manusia hanya Islam. Rasulullah bersabda, “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.”


Bahkan satu nyawa yang terbunuh tanpa hak berarti ia membunuh seluruh manusia. Bagi pelaku pembunuhan Islam tak akan membiarkan mereka lepas begitu saja karena ada aturan yang tegas bagi mereka sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah: 178, 


“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, dan wanita dengan wanita…”


Hukum qishash berarti hukum mati yang diberikan kepada pelaku atas permintaan keluarga korban. Hukuman qishash ini akan memberikan keadilan bagi keluarga korban yang ditinggalkan sekaligus menjadi pencegah tindak kejahatan serupa. Kalaupun keluarga korban tidak menginginkan qishash maka mereka bisa menuntut diyat atau denda kepada pelaku. Diyat yang dimaksud senilai dengan 400 ekor unta dan di antaranya 40 dalam keadaan bunting. Tidak hanya itu pelaku pun akan terlindungi sampai akhirnya mereka terbukti bersalah dan mendapat hukuman yang setimpal termasuk dihukum mati. Demikianlah kemulian Islam dalam melindungi nyawa manusia sehingga sepanjang sejarah penerapan sistem Islam tak kita temui banyaknya nyawa yang berjatuhan seperti hari ini. 


Hari ini kita mendengar keadilan sering dikoarkan-koarkan dan adanya HAM yang menjamin kehidupan manusia tapi faktanya hal itu tidak terimplementasi. Suara koaran jauh lebih nyaring dibanding penerapannya bahkan orang-orang yang sering berteriak demi rakyat, untuk rakyat, selalunya hilang saat yang menjadi korban kaum muslim. 


Sila ke lima dalam pancasila yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia turut lenyap. Apakah keadilan sosial tidak berlaku bagi rakyat yang terus melebarkan kebenaran Islam di bumi Indonesia? Kenapa hukum selalu menghalangi para pengemban risalah kebenaran Islam sementara membuka pintu besar bagi mereka yang jelas melakukan tindak kekerasan, yang merampok habis-habisan kekayaan negeri? Bukankah demokrasi negara penjamin hak-hak kebebasan tapi kenapa saat umat lantang menunjukkan kezhaliman penguasa hak itu dipuntungi? Ke mana keadilan dan persamaan hak atas setiap manusia? Agaknya keadilan dan HAM di negeri ini seketika bersembunyi bila mengatasnamakan umat Islam. 


Bila dalam negara sendiri hukum tak bisa tegas ditegakkan dan keadilan tumpul pada umat Islam maka jangan salahkan bila umat senantiasa lantang menyuarakan sebuah sistem yang bisa menjamin keamanan mereka, sebuah sistem yang pernah lama diterapkan dunia ini dan terbukti kegemilangannya. Sistem itu tidak lain adalah sistem Islam.  


Penulis: Khaeriyah Nasruddin, seorang penulis lepas yang bergiat di Forum Lingkar Pena.

×
Berita Terbaru Update