Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Cara Kotor Itu Bernama Money Politik

Jumat, 19 November 2021 | 20:49 WIB Last Updated 2021-11-19T13:31:49Z

Penulis

OPINI, Lorongka.com- 
Mengenal demokrasi sebagai mahasiswa dan pemuda itu penting, di mana demokrasi tidak hanya bermakna pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.


Adanya beberapa problem yang diakibatkan dari pesta demokrasi, perlu adanya pemahaman dan kajian untuk setidaknya meminimalisir kemungkinan kejadian yang tidak diinginkan dalam demokrasi kita.


Memahami demokrasi secara umum, bahwa demokrasi tidak hanya sebatas pemilu saja.


Secara etimologi, demokrasi berasal dari kata Yunani yakni Denis berarti rakyat, dan kratos berarti kekuasaan.


Menurut Abraham Lincoln, presiden Amerika yang ke-16 pada pemilihan tahun 1860 ia menjelaskan pada pidatonya, demokrasi adalah Government of the people, Government by the people.


Ketika kita berbicara pesta demokrasi sebagai salah satu ranting dari demokrasi itu sendiri, akhir-akhir ini marak diperbincangkan baik itu di warkop atau di sosial media. 


Namun pesta demokrasi ini juga sangatlah penting untuk kelangsungan hidup yang adil dan beradab.


Dalam pesta demokrasi atau sebut saja pemilu baik itu di daerah, kabupaten, dan provinsi bahkan di tingkat pemilihan presiden. Sering terjadi praktik politik yang merusak moral bangsa, dan menodai demokrasi bangsa.


Salah satu contoh persoalan yang berakibat fatal terhadap etika moral dalam demokrasi kita adalah politik uang atau jual beli suara.


Praktik money politik atau keterlibatan dalam praktik money politik, adalah bentuk penggadaian kedaulatan dalam masa tertentu.


Jual beli suara untuk memenangkan kekuasaan adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Hal ini adalah bentuk manipulasi pilihan hati nurani demi menggalang materi.


Begitu banyak dugaan-dugaan money politik terkait pemilu, bahkan praktik politik uang ini sudah tidak asing lagi hingga di pelosok-pelosok. 


Sangat di sayangkan apabila hal ini terus beregenerasi pada pesta demokrasi kita, sehingga perlu adanya pendidikan politik secara maksimal khususnya juga untuk para pemilih pemula agar tidak terjangkit virus politik praktis.


Akibat dari praktik-praktik politik kotor yang telah mendarah daging ini, juga salah satu akar dari munculnya persoalan-persoalan sosial.


Pesta demokrasi menjadi ladang jual beli suara, itu terjadi di berbagai daerah, akibat yang ditimbulkan dalam masyarakat begitu banyak seperti budaya moral dan kekeluargaan bahkan gotong royong menjadi pudar akibat kebencian-kebencian yang berawal dari menang kalah pilihan dalam pesta demokrasi.


Begitu banyak kemungkinan-kemungkinan fatal yang dapat terjadi dalam pesta demokrasi, baik itu di skala Desa dan seterusnya. Melihat kembali di beberapa daerah di Indonesia, begitu banyak terjadi tindakan kriminal antar masyarakat sipil, hal ini sangat merugikan dan mencoreng pesta demokrasi kita.


Hal-hal seperti inilah yang perlu di perbaiki bersama dalam pesta demokrasi kita, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan perubahan nilai dan pandangan hidup dalam masyarakat.


Di dalam sejarah orde baru, lahirnya golongan putih atau yang biasa di sebut golput. Adalah istilah politik di Indonesia yang berawal dari gerakan protes pemuda dan mahasiswa untuk memprotes pelaksanaan pemilu pada 5 Juli  1971 yang merupakan pemilu pertama di era orde baru.


Dimana pada masa itu pesta demokrasi tidak benar-benar mencerminkan aspirasi rakyat yang sesungguhnya.


Pemilihan presiden bahkan pemilihan kepala daerah tidak hanya pada pemilu pertama orde baru yang terjadi perbuatan atau tindakan yang menggambarkan pemilu rekayasa, sebut saja tidak murni dari hati nurani rakyat. 


Bahkan hingga ke pemilihan kepala Desa saja praktik politik ini sudah sering terjadi, seperti aksi jual beli suara, istilah-istilah serangan fajar dan berbagai bentuk aksi politik praktis yang merugikan etika demokrasi bangsa.


Kecurangan-kecurangan dalam pemilu sudah sering terjadi, sehingga pihak yang berwenang didalam mengadili hal tersebut perlu adanya tindakan secara maksimal untuk menjaga kedaulatan dalam pesta demokrasi.


Berdasarkan data-data yang ada, beberapa problem dalam pemilu yang bahkan di kritik oleh akademisi seperti Rocky Gerung soal kotak suara kardus yang disediakan KPU dalam Pemilu 2019. Menurut Rocky, polemik kotak suara kardus itu timbul karena ketidakpercayaan publik terhadap KPU.


Beberapa problem lain di daerah seperti dugaan-dugaan dimana tidak amanah dalam pelaksanaan undang-undang atau prosedur yang telah di tetapkan dalam penyelenggaraan pemilu.


Proyek demokrasi memang terletak pada upaya untuk mengaktifkan politik pada interaksi langsung antar warga negara, dalam demokrasi masyarakat, utamanya pemuda dan mahasiswa harus proaktif mentransaksikan pemikiran. Sebab, itulah etika dalam penyelenggaraan demokrasi.


Melalui transaksi pemikiran, etika demokrasi akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Sehingga demokrasi pemilu terjaga secara moral dari gagasan-gagasan yang penuh penalaran masuk akal.


Penulis: Andi Rusdi



×
Berita Terbaru Update