Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Tradisi Lamporan Blora Dalam Menyambut Jumat Suro

Minggu, 28 November 2021 | 13:12 WIB Last Updated 2021-11-28T05:56:29Z

Umi Nur Idayanti/Penulis (Mahasiswi studi agama-agama UIN Walisongo Semarang)

LorongKa.com - 
Kabupaten Blora memiliki beragam tradisi dan budaya yang menjadi ciri khas dari masing-masing daerah. Salahsatu tradisi yang unik dan khas adalah tradisi yang biasa dilakukan ketika hari jum’at pada bulan suro yaitu tradisi Lamporan. Tradisi lamporan atau orang-orang sering menyebutnya dengan sebutan obor atau oncor yang dilakukan dengan cara arak-arakan atau keliling desa dengan menggunakan bambu yang didalamnya terdapat kain yang sudah tercelupkan dengan minyak tanah agar obor dapat dinyalakan dengan sempurna. 


Namun, terkadang tradisi lamporan tersebut diadakan di salah satu tempat yang menurut warga tersebut sakral yaitu tempat yang terdapat pohon asem yang sangat besar, sehingga sering dijuluki sebagai “Pohon Asem Gedhe” yang berada disalahsatu daerah terpencil di kabupaten blora yaitu di Kecamatan Kunduran. Warga tersebut mempercayai adanya tradisi tersebut dapat menolak bala dan untuk mengusir makhluk ghaib yang mengganggu keamanan desa. 


Lamporan yang diadakan setiap setahun sekali, membuat warga berbondong-bondong ikut meramaikan dan menyaksikan tradisi tersebut. Pada saat tradisi lamporan tiba, terdapat beberapa pertunjukan yang unik didalamnya seperti halnya: tari barong yang digunakan sebagai salahsatu tarian untuk mengelilingi pohon asem yang dibawahnya terdapat sesaji ditujukan kepada pohon asem tersebut konon katanya pohon tersebut memiliki kekuatan supranatural.


Awalnya, tradisi lamporan dilakukan oleh penggembala ternak “cah angon” yang mulanya diadakan di sawah-sawah pinggiran desa. Lamporan tersebut melakukan sebuah pertunjukan perang api dengan masyarakat sebelah. Permainan tersebut dijuluki dengan “ndaru”, yaitu caranya dengan mengkepal dari tanah liat dan daun kelapa yang dibakar, yang kemudian diakhiri dengan rangkulan persaudaraan. 


Prosesi lamporan pada zaman dahulu, diadakan di dalam desa dengan mengambil rute jalan-jalan tepian desa setiap dua kali dalam dua jum’at yang berbeda. Dalam prosesi tersebut terdapat syarat-syarat tertentu yang diberlakukan. Seperti halnya: rute atau jalur yang akan dikelilingi. Titik awal dan akhir pemberangkatan tradisi tersebut adalah punden desa, yaitu “pohon asem gedhe”, lalu berkeliling desa dengan diselingi jeda waktu untuk memanjatkan doa di setiap perempatan atau pertigaan besar. 


Meskipun tradisi tersebut diadakan malam hari, tentunya tidak mengurangi antusias warga atau pengunjung untuk memeriahkan tradisi tersebut. Pertunjukan barongan yang merupakan salahsatu bagian menarik dan unik dari tradisi tersebut, sehingga dari kalangan anak-anak turut menyaksikan. Awalnya barongan tersebut digulung tidak dimainkan, namun ketika prosesi arak-arakan keliling desa berlangsung barongan tersebut dimainkan dan kembali digulung ketika tradisi tersebut selesai.


Pemberian sesaji di pohon asem gedhe yang jadi tempat sakral, menjadikan sebuah perdebatan diantara beberapa warga yang memiliki keyakinan islam yang menganggap bahwasannya hal tersebut merupakan salahsatu sifat syirik. Namun, salahsatu warga yang bernama purbo mengatakan bahwa “seseorang harus bijak melihatnya. Jangan membenci keyakinan yang berbeda. Kalau bagi kita, aneh saja kalau menyembah pohon sebab sesaji ini kan hanya simbol”. Jadi, pada intinya seseorang tidak boleh memiliki sikap fanatik terhadap keyakinan oranglain. 


Penulis : Umi Nur Idayanti (Mahasiswi studi agama-agama UIN Walisongo Semarang)

×
Berita Terbaru Update