Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Paradoks Banjir di Negeri, Pemimpin Abai?

Rabu, 02 November 2022 | 08:30 WIB Last Updated 2022-11-02T00:34:27Z

Suci Ramdayani

LorongKa.com -
Setiap tahun bencana banjir menjadi langganan negeri ini, dampak utama pasti amat  dirasakan bagi penduduk yang tinggal di pesisir. Sungguh miris, jika masalah menahun ini tak kunjung menuai solusi dan bahkan berlarut-larut. Pasalnya kejadian ini menimbulkan korban jiwa.


Seperti yang dikutip dari laman Antara Jakarta Selatan, "hujan lebat dan banjir yang terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya berakibat munculnya korban jiwa sebanyak tiga orang siswa MTsN 19 Jakarta Selatan meninggal usai tembok mereka rubuh diterjang banjir, serta sebanyak 270 warga diungsikan ke tempat yang aman".


Diperparah lagi dengan Banjir yang melanda di sejumlah titik sebagian wilayah Aceh Utara yang terus meluas. "Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Menyatakan hingga kini sebanyak 18.160 warga terpaksa mengungsi. Warga yang terdiri dari 5.104 kepala terpaksa mengungsi ke Meunasah atau Mushola dan dataran tinggi yang tersebar di 28 titik".


Munculnya berbagai bencana di negeri ini ada dari faktor alam dan ada juga dari faktor penguasa yang kurang tanggap dalam menanggulangi masalah yang terjadi utamanya masalah banjir. 


Rentetan kasus banjir masih menjadi problem yang belum pernah usai. Tindakan terkoordinasi dari pemerintah masih tumpang tindih. Lantaran kita terbodohkan dan diasumsikan bahwa murni masalah tersebut adalah  faktor alamiah belaka.


Disinyalir faktor dari maslah ini adalah adanya ulah pihak yang berkepentingan, pengelolaan sumber daya alam yang tidak mumpuni, pembangunan yang tidak terintegrasi, pembabatan hutan sebagai alih fungsi lahan, Ditambah lagi pengambilan manfaat dari sumberdaya alam yang tidak memperhitungkan dampak ekologi.


Bencana banjir ini menjadi bukti konkrit ketidakmampuan penguasa. Pasalnya, BMKG juga telah merilis peringatan cuaca extreme di sejumlah titik justru malah diabaikan. Oleh karenanya, pemerintah tidak dapat berdalih bahwa curah hujan menjadi satu-satunya penyebab banjir, ketika tidak mampu menjalankan tanggung jawabnya yang dimandatkan sebagai peri'ayah umat. Alih-alih mengupayakan, Peristiwa kronis banjir tanpa ujung ini harus digentaskan. Melihat kacamata sekarang pemerintah seakan berlepas tangan dan saling lempar tanggungjawab.


Sebagai pemimpin harusnya mampu menangani masalah ini namun penanganan yang dilakukan terkesan plinplan dan lamban. Tampak hanya sibuk mengurusi urusan perpolitikan, namun rakyat terluntang lantung dibiarkan mengurusi masalahnya sendiri-sendiri, tak dapat perhatian khusus. Masalah tersebut masih amat rumit, akibat mindset dari penerapan sistem kapitalis sekuler yang menjangkiti tubuh pemerintah. Sistem inilah yang diagung-agungkan, dimana standar penilaian adalah materi bukan ridho Allah. Olehnya itu bencana banjir tidak menguntungkan sehingga penanganan tidak optimal. 


Buntungnya lagi, dibalik keadaan yang menguntungkan pemerintah tersebut ternyata amat sulit dalam menggelontarkan dana untuk rakyatnya sendiri. Mendambakan pemimpin sejati yang mau peduli dan rela menderita demi rakyatnya dalam masa sulit bagai mimpi belaka. Selama sistem ini masih dijadikan asas maka selamanya bagai penyakit yang mengerogoti tanpa obat penawar. inilah bentukan dari kehidupan kapitalis sekuler. 


Berbeda halnya jika yang diterapkan adalah sistem islam yang mampu berdiri diatas paradigma yang shahih melahirkan pemimpin amanah. Dalam islam tanggung jawab diserahkan kepada khalifah sebagai iman dan pemimpin dari kaum muslim. Sejatinya imam adalah raain yang melindungi rakyatnya dari marabahaya. 


Sebagaimana yang dilakukan oleh Umar Bin Khattab  pada sepanjang masa pemerintahannya. Khalifah Umar menyadari bahwa ia akan mempertanggungjawabkan posisinya sebagai pemimpin. Jika dikala itu umat dilanda kelaparan pada saat musim paceklik di seluruh kawasan jazirah Arab. Tanaman-tanaman gagal panen, termasuk lahan-lahan di sekitar lembah Sungai Euprat, Tigris, dan Nil. Banyak orang-orang yang masuk ke Madinah untuk meminta bantuan pemerintah. Akhirnya Khalifah Umar membentuk tim untuk menanggulangi bencana kekeringan. Hal serupa juga dilakukan umar ketika menanggulangi bencana banjir, khalifah akan selalu mengerahkan segala upaya secara optimal.


Inilah gambaran pemimpin dalam islam yang diberi amanah sebagai pemimpin umat yang akan melaksanakan segala bentuk kebijakan sesuai standar syariat islam untuk menyelesaikan persoalan umat.  Oleh karena itu, sifat amanah harus melekat pada dirinya jika tidak Allah akan menebar ancaman kepada para pemimpin yang berbuat zalim kepada rakyat atau orang yang dipimpinnya.


"Sungguh, manusia yang paling dicintai Allah pada Hari Kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah ialah pemimpin yang adil. Orang yang paling dibenci Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah pemimpin yang zalim” (HR Tirmidzi).


Maka terpujilah sikap pemimpin yang dirindukan rakyatnya, dia yang bukan sekedar mementingkan kekuasaan belaka tetapi mampu mengayomi serta mengatasi segala macam problematika yang menimpa rakyatnya.


Hal tersebut tak akan pernah terwujud selama kita masih terpedaya dalam sistem kehidupan kapitaliastik sekuler yang hanya mementingkan keuntungan individu belaka. Sebaliknya, pelayanan total terhadap masyarakat akan dirasakan ketika kita kembali pada penerapan syariat islam secara kaffah (keseluruhan). Wallahu'alam bissawab.


Penulis: Suci Ramdayani (Aktivis).

×
Berita Terbaru Update