Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Problematika Generasi Dalam Sistem Pendidikan Kapitalisme

Senin, 14 Agustus 2023 | 08:28 WIB Last Updated 2023-08-14T00:28:45Z

Vinda Puri Orcianda 

LorongKa.com - 
Dalam kitabnya, Adabul 'Alim wal Muta'allim, KH Hasyim Asy'ari menekankan dengan tegas, orang yang tidak punya adab, dia tidak bersyariat, tidak beriman, dan tidak bertauhid. 


Dalam makna yang di maksudkan oleh KH. Hasyim Asy'ari tersebut maka selayaknya dengan menuntut ilmu, maka dapat membentuk karakter dan pemikiran yang khas. Namun apalah daya dengan pendidikan akhlak saat ini kenyataan yang kita terima adalah kerusakan akhlak dan kerusakan pemikiran para pemuda akhir zaman. 


Segala kejahatan dilakukan oleh para pemuda saat ini, berupa tawuran, pembullyan, pembegalan, free sex bahkan sampai ke tahapan pembunuhan. 


Seperti yang terjadi kepada mahasiswa UI yang ditemukan tewas dikamar kos nya di Depok, Jawa Barat. Jasad korban ditemukan terbungkus plastik hitam dan di masukkan ke bawah kolong tempat tidur. Setelah pencarian selama 24 jam pada akhirnya diketahui bahwa pelaku pembunuhan tersebut adalah senior korban. (detikNews.com, 6/8/23) 


Di lain tempat ada juga kasus siswa sekolah menengah atas di Banjarmasin, Kalimantan Selatan diamankan polisi karena menikam teman satu sekolah bahkan saat pelajaran berlangsung. Kejadian ini terjadi diduga berawal dari kasus perundungan yang dilakukan oleh sang korban terhadap si pelaku. (kompas.com, 2/8/23) 


Ini semua buah dari diterapkannya pendidikan sekuler bagi anak bangsa kita selama ini. Alih-alih mencerdaskan dan membentuk karakter yang beriman, bertanggung jawab dan berakhlak mulia, yang terjadi malah sebaliknya. Menjadikan pemuda pemudi bangsa niir adab dan empati. 


Di dalam sistem pendidikan sekuler kapitalis memiliki visi untuk menjadikan generasi pembelajar yang berkarakter. Namun sepertinya negara kehilangan arah dalam membentuk karakter anak bangsa hari ini. Bahkan kurikulum yang diemban hari ini pun seolah tidak mampu untuk mengurai permasalahan pendidikan pemuda bangsa. 


Kurikulum yang diaplikasikan bagi para anak bangsa hari ini hanya menitik beratkan pada pemahaman material, dan tidak mengutamakan ketakwaan kepada Allah SWT. Hal inilah yang akan melahirkan generasi yang tidak tentu arah dan kehilangan kesadaran bahwasanya kita diciptakan oleh Allah SWT, hidup untuk beribadah kepada-Nya, dan kelak akan kembali kepada-Nya dengan mempertanggung jawabkan segala apapun yang telah kita lakukan selama hidup. 


Indonesia sebenarnya membutuhkan sistem pendidikan yang menyeluruh, dan menitik beratkan pada ketakwaan kepada Allah SWT. Bukannya malah menjadikan pendidikan sebagai komoditas faktor produksi demi mendapatkan pundi-pundi pribadi. Inilah yang membedakan paradigma pendidikan dalam sistem kapitalis dan paradigma pendidikan dalam sistem Islam. Sehingga output yang ingin dicapai pun tidak akan membawa hasil yang maksimal, malah yang terjadi adalah kemunduran akhlak dan perilaku  peserta didik. 


Merdeka belajar yang digagas oleh pemerintah saat ini dimaksudkan sebagai kemerdekaan dalam berfikir, yang hanya akan berujung kepada liberalisasi perilaku peserta didik tanpa ada batasan yang baku. Sehingga semua peserta didik di Indonesia bisa bebas menginterpretasikan dan mengekspresikan apapun yang ada dalam pikirannya tanpa aturan jelas 


Ditambah lagi sistem pendidikan pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua di rumah pun sudah mulai dijauhkan dari nilai-nilai Islam, sehingga pemahaman tauhid dan pandangan hidupnya menjadi bias dan tidak terarah dengan pemikiran Islam. 


Di dalam sistem Islam pendidikan merupakan pilar penting dalam keberlangsungan kehidupan manusia. Pemerintah harus sangatlah serius dalam menjaga pemahaman peserta didik dari kebebasan tanpa batas. 


Pemerintah dalam sistem Islam wajib menjamin keamanan masuknya informasi media sosial dan beragam pemahaman  yang bisa diakses oleh setiap warga negara dari pemahaman liberal dan menyesatkan. 


Wajib juga negara untuk bertanggung jawab atas proses pendidikan yang berlangsung di jenjang pendidikan formal, karena pendidikan dalam semua jenjang harus ditujukan bagi terbentuknya manusia ber-syakhsiyah Islam yang mampu menjalani kehidupan sesuai dengan ketentuan Allah SWT. 


Negara tentunya juga harus memudahkan para pelajar calon pemimpin bangsa dalam mengecap pendidikan terbaik, termasuk dengan meringankan biaya perkuliahan, dan merancang kurikulum shahih sesuai dengan pemikiran Islam sehingga nantinya mereka bisa memecahkan problematika kehidupan dengan sudut pandang Islam, bukannya malah memisahkan dengan jauh Islam dari kehidupan yang pada akhirnya tercipta pemikiran-pemikiran liberal seperti saat ini. 


Semua hal ini hanya mampu terwujud dengan penerapan Islam secara kaffah dan paripurna, seperti yang telah diterapkan di masa kejayaan Islam dulunya, dimana sangat banyak para penemu Islam yang menyumbang banyak sekali kemajuan taraf berfikir demi kemajuan peradaban manusia. 


Wallahu 'alam bishawab


Penulis: Vinda Puri Orcianda 

×
Berita Terbaru Update