Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Refleksi Hari Guru, Patutkah Merayakan Rusaknya Generasi Buah Merdeka Belajar?

Jumat, 24 November 2023 | 17:04 WIB Last Updated 2023-11-24T09:04:09Z


LorongKa.com - 
Setiap tanggal 25 November pemerintah mencanangkan Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) untuk menghormati dedikasi para guru. Pun demikian di tahun ini, Peringatan HGN rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 25 November 2023. Berdasarkan Pedoman Peringatan HGN 2023 yang dikeluarkan oleh Mendikbudristek tanggal 26 Oktober 2023 lalu, HGN tahun ini akan mengangkat tema tentang Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar.


Pencanangan tema HGN tahun 2023 seolah mengibaratkan bahwa seluruh satuan pendidikan dan siswa-siswinya diharapkan dapat “Bergerak Bersama” menyemarakkan kurikulum merdeka yang berlaku saat ini. Menyoal tema Peringatan HGN, sejatinya patut dipertanyakan, sudah seefektif apakah dampak dari Kurikulum Merdeka ini sehingga pemerintah begitu berhajat hingga menyeru kepada seluruh satuan pendidikan untuk menerapkan kurikulum ini? 


Realitanya, sejak resmi dicanangkan sebagai kurikulum baru di tahun 2022 lalu, Kurikulum Merdeka ini tak banyak menuai hasil. Profil Pemuda Pancasila yang digadang-gadang pun masih jauh harapan.


Hal ini bisa dilihat dari fakta kondisi generasi saat ini. Alih-alih bertambah kualitasnya, justru semakin hari semakin bobrok. Kenakalan kenakalan ringan hingga tindak kriminal, seperti bullying dan penganiayaan pun seolah tak pernah surut mewarnai keseharian para pemuda. Korbannya bahkan tak lagi hanya melibatkan teman sebaya saja, namun telah menyasar ke kalangan pendidik dan guru. 


Sudah tak terhitung banyaknya media mainstream memberitakan kasus pelajar yang tega menganiaya gurunya sendiri. Beragam aksi mulai dari melakukan pelecehan verbal, pemukulan bahkan hingga penganiayaan sampai mengakibatkan kecacatan telah menjadi deretan sejarah tindak kejahatan yang dilakukan. Bukankah hal tersebut justru menjadi sebuah tamparan telak di tengah rencana Peringatan HGN yang tinggal menghitung hari?. 


Masalah para pemuda tak berhenti sampai disitu. Ratusan kasus mental illness, seperti anxiety, depresi, dan lain sebagainya juga tak kalah ramai mewarnai jagad remaja. Beberapa diantaranya bahkan berakhir dengan tindakan bunuh diri. Alasannya beragam, mulai dari tekanan kehidupan, keluarga hingga masalah masalah receh seperti percintaan. Tak heran, generasi millenial dijuluki ‘generasi strawberry’ karena mentalnya yang mudah koyak diterpa masalah. 


Kondisi generasi yang demikian tentu sangat jauh dari kata berkualitas. Mereka saja belum selesai dengan diri mereka sendiri apatahlagi mau memperbaiki masa depan bangsa. Ini sejatinya cukup membuat kita tergugah bahwa Kurikulum Merdeka yang menjadi andalan pemerintah saat ini nyatanya tidak tepat dan bermasalah. Walakhir, bukannya berkurang, permasalahan generasi ini justru semakin bertambah parah.


Sejatinya, hal tersebut tak mengherankan, mengingat saat ini virus sekulerisme telah menggejala dan menyerang pemikiran para pemuda. Paham yang memarginalisasi peran agama cukup sebagai pedoman dalam beribadah saja tersebut telah sukses membuat generasi muda jauh dari agama. Akibatnya, mereka tak lagi takut melakukan berbagai jenis kemaksiatan bahkan hingga tataran tindak kriminal. 


Hal ini diperparah dengan berlakunya pula kapitalisme yang berprinsip orientasi materi di atas segala-galanya. Kurikulum Merdeka yang lahir dari sistem tersebut jika ditelisik dari hulu hingga ke hilir akan terlihat bahwa tujuan utamanya hanya berpusat pada kepentingan industri. Segala bentuk aktivitas pendidikan diarahkan agar sesuai keinginan korporasi, jauh dari hakikat tujuan pendidikan yang sebenarnya. Maka jelas sudah benang merah mengapa akhlak generasi muda saat ini tak berbanding lurus dengan tingginya pendidikan mereka.  


Mengandalkan transisi kurikulum kurikulum baru tandingan hanya akan memperpanjang kegagalan selama sistem sekuler kapitalis masih mencengkeram. Alih alih melakukan bongkar pasang kurikulum, rusaknya generasi hanya akan bisa diperbaiki melalui revolusi pendidikan sistemik yang mengintegrasikan peran tiga pilar utama peradaban, keluarga, masyarakat dan negara. 


Jika kita mengkaji Islam secara lebih mendalam, solusi sistemik semacam ini sebenarnya sudah Islam contohkan bahkan sejak beratus tahun yang lalu. Dimulai dengan pendidikan dalam keluarga sebagai pilar pertama pembangun karakter individu, maka ia akan berperan menanamkan akidah yang kokoh pada diri dan pemikiran setiap individu sehingga output yang dihasilkan adalah generasi yang selalu dilingkupi perasaan takut melakukan perbuatan dosa dan maksiat. 


Selanjutnya, masyarakat yang sudah tersuasanakan dengan Islam, akan sadar dengan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai manusia untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, sehingga mereka akan melakukan pengawasan yang ketat terhadap pelaksanaan syariat di lingkungannya. Dengan demikian, individu pun, mau tak mau, dipaksa taat dan menjauhi maksiat dengan berjalannya fungsi ini. 


Terakhir, dengan sistem pendidikan Islam, negara akan menjamin terbentuknya kurikulum yang shahih, jauh dari kepentingan dan cawe cawe pihak tertentu khsususnya korporasi. Kurikulum ini dibentuk dengan landasan akidah sehingga meniscayakan terwujudnya generasi berkepribadian Islam yang cerdas dalam ilmu pengetahuan sekaligus taat kepada Allah. 


Ia paham betul jati dirinya bahwa sebelum berperan sebagai siapapun, termasuk pembelajar, ia adalah seorang hamba, sehingga apa yang diorientasikannya pun tak jauh-jauh dari tujuan meraih ridho Ilahi. Hal tersebut juga ditunjang dengan diterapkannya sistem ekonomi Islam yang mewajibkan penguasa menjamin pemenuhan kebutuhan dasar warga negaranya secara gratis, termasuk pendidikan. 


Begitulah saat Islam menjadi mercusuar dunia. Tujuan pendidikan akan dikembalikan kepada hakikat sejatinya, sebagai pencetak intelektual berkarakter mulia yang mampu berkiparh untuk umat. Bukan lagi generasi bobrok yang tercipta. Bukan lagi intelektual abal-abal yang banyak berkiprah, dan bukan lagi cendekiawan miskin iman yang mewarnai kehidupan. Melainkan generasi emas terbaik yang siap memimpin umat dengan landasan ketakwaan. 


Jadi, apalagi sebenarnya yang kita tunggu?Mari kita songsong revolusi pendidikan sistemik dengan membuang jauh sistem sekuler kapitalis yang telah usang dan berpaling pada Islam. 


Wallahu a’lam bi showab.


Penulis: Etik Rositasari (Mahasiswa Magister dan Aktivis Dakwah Kampus)

×
Berita Terbaru Update