Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Solusi Belenggu Manusia Perahu

Jumat, 24 November 2023 | 16:57 WIB Last Updated 2023-11-24T08:57:13Z

Vinda Puri Orcianda

LorongKa.com - 
Sudah berulang kali Aceh menjadi salah satu kota yang akhirnya menjadi tujuan, orang-orang Rohingya, Myanmar yang lari dari kampung halaman mereka, dan mencari perlindungan di wilayah Indonesia, terutama di Aceh.


Warga etnis Rohingya ini melarikan diri ke Indonesia dikarenakan upaya cleaning etnis (pembersihan etnis) yang dilakukan oleh pemerintahan junta militer Myanmar. Etnis Rohingya ini sendiri merupakan etnis yang telah lama tinggal di negara bagian Arakan (Rakhine)  berabad-abad yang lalu, namun sangat sering mengalami penindasan, dan diskriminasi.


Meski etnis Rohingya telah lama menempati wilayah Arakan, namun mereka selalu menghadapi tekanan dan konflik dengan pemerintah Myanmar. Mereka menghadapi diskriminasi yang serius, tidak diakui sebagai warga negara Myanmar, dan bahkan menjadi korban kekerasan dan pembersihan etnis yang mengakibatkan ratusan ribu orang mengungsi, termasuk menjadi 'manusia perahu' yang mencari suaka di negara-negara tetangga. (www.bisnis.com, 20/11/23)


Perlakuan diskriminatif yang mereka terima dikarenakan status mereka yang berbeda. Salah satu akar konfliknya dikarenakan mereka dianggap imigran ilegal di Myanmar. Pemerintahan juga tidak mengakui bahkan tidak memberikan status kewarganegaraan bagi etnis Rohingya. Sehingga mereka tidak bisa mengakses pendidikan, kesehatan, bahkan pekerjaan yang layak.


Kemudian konflik yang terjadi antara etnis Rakhine dan muslim Rohingya, dikarenakan kecemburuan di bidang ekonomi dan sosial. Etnis Rohingya dianggap mengambil banyak lahan di daerah Arakan, Rakhine. Dikarenakan populasi etnis Rohingya yang terus bertambah besar setiap tahunnya, maka mereka mendapat perlakuan keji seperti penindasan, penjarahan harta, pemusnahan tempat tinggal, pemerkosaan, dan pembakaran masjid.


Semua terjadi tidak lain dikarenakan sensitif keagamaan yang digaungkan oleh pemerintah junta militer, mereka juga mempromosikan isu anti Islam di kalangan masyarakat Buddha Rakhine dan penduduk Burma sebagai bagian dari kampanye permusuhan terhadap Rohingya.


Tidak heran seorang penyair Hama Beshary menciptakan sebuah lirik lagu "Sayyidi Ar-Rais" yang di dalamnya tertulis dengan jelas sindiran dan gambaran keterpurukan umat muslim. Bahwa umat muslim di bantai, diasingkan, dijadikan buronan, dan dibunuh setiap harinya tanpa henti, hanya karena mereka beriman, beribadah dan bersyahadat.


Penderitaan yang dialami kaum muslim di seluruh penjuru dunia saat ini sudah sangat luar biasa. Umat muslim tidak memiliki perisai seperti masa khilafah Umar bin Khattab dulu, bahkan dimasa khalifah Mu'tashim Billah di kota Ammuria Turki, ia mampu menggerakkan ribuan pasukan demi membela kehormatan seorang wanita yang dilecehkan oleh kaum kafir.


Kini umat muslim tercerai berai seperti sabda Rasulullah Rasulullah bersabda, "Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring." Seseorang berkata, "Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?" Beliau bersabda, "Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn." Seseorang bertanya, "Apakah wahn itu?" Beliau menjawab, "Cinta dunia dan takut mati," (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).


Penderitaan yang dialami oleh muslim Rohingya benar-benar menjadi ujian berat bagi muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Belum selesai kekejaman genosida yang terjadi di Palestina, kini muncul para pendatang Rohingya yang melarikan diri menggunakan kapal, dan bersandar di kabupaten Bireuen, kabupaten Pidie, dan Aceh Timur.


Namun apa daya gelombang pengungsi yang kembali hadir di Aceh demi mencari tempat perlindungan, pada akhirnya ditolak oleh para warga sekitar. Dengan alasan pernah terjadi pelecehan yang dilakukan oleh etnis rohingya, pertengkaran dengan warga, dan beberapa kasus lainnya. (www.bbcnewsindonesia.com, 19/11/23)


Carut marut yang terjadi ini sebenarnya harus ditarik dari akar permasalahannya, dimana etnis Rohingya ini ditindas di Myanmar. Dengan kata lain pihak pemerintah Myanmar dan junta militer mereka sengaja melakukan etnis cleansing, yang didukung pula oleh para biksu buddha disana.


Indonesia juga memiliki ketakutan akan gelombang lebih besar lagi, yang akan tiba di Indonesia kedepannya. Sementara menurut pemerintah Indonesia melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal menegaskan, “Kejadian semacam ini akan terus berulang selama akar masalahnya tidak diselesaikan, yaitu masalah Rohingya di Myanmar.” (www.bbcnewsindonesia.com, 19/11/23)


Muhammad Iqbal juga menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia sendiri bukanlah negara yang tergabung didalam konvensi pengungsi 1951, maka negara Indonesia sendiri tidak memiliki kewajiban untuk menampung para pengungsi tersebut.


Beginilah potret kehidupan dibawah paham nasionalisme, dimana sekat kebangsaan sebagai ikatan terlemah menjadi standar berfikir manusia, bahkan mengalahkan ikatan kemanusiaan itu sendiri. Negara-negara tetangga pun terlihat gamang dan tidak mampu berbuat apapun dalam membantu penyelesaian masalah Rohingya.


Sekat kedaulatan dari tiap negara ini membuat mereka terjebak dalam narasi nonintervensi yang jelas menjadi penghambat hadirnya ikatan kemanusian, apalagi sisi hadirnya ikatan agama? Padahal di dalam Islam setiap muslim adalah saudara, dan wajib membantu saudara seakidah demi terciptanya persatuan.


Dari sini kita tahu bahwa semua narasi Hak Asasi Manusia, adalah sebuah fakta omong kosong belaka di dunia. Bahkan hal ini menegasikan bahwa pemahaman nasionalisme inilah, yang mampu menghalangi ukuwah islamiyah setiap muslim itu tidak akan terwujud. Eksis nya paham inilah yang membuat warga stateless seperti warga Rohingya dan Palestina sekalipun menjadi sangat sulit untuk kita bantu saat ini.


Maka sudah saatnya umat Islam merapatkan barisan untuk memerdekakan pemikiran, yang sudah terlalu terjebak dalam pemahaman kapitalis sekuler dan segala turunannya. Inilah saat dimana umat Islam diseluruh penjuru dunia mengikhtiarkan terwujudnya kehidupan dalam sistem yang telah diwariskan oleh Rasulullah SAW.


Sistem kepemimpinan Islam yang akan menghapus segala sekat imajiner setiap bangsa. Seperti saat Rasulullah yang mempersaudarakan kaum Aus dan Khazraj, yang merupakan kaum yang sering bertikai dan saling membunuh. Kemudian seperti saat khalifah Umar bin Khattab diberikan kunci Baitul Maqdis dan memimpin dengan damai seluruh penjuru bumi yang disinari oleh cahaya Islam.


Sebuah sistem kepemimpinan yang mampu menyelesaikan dan menjaga kaum muslim, dengan menghimpun segala potensi masyarakat demi mengangkat penderitaan umat muslim, dan mampu menjaga serta memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi umat muslim. Sehingga umat muslim benar-benar merasa terlindungi dan aman dari kezaliman para pemimpin kufur dan keji dimanapun mereka berada.


Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadist dari jalur Abu Hurairah ra, bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa Sallama, bersabda:


"Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah 'Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga  akan mendapatkan dosa/adzab karenanya."  (Hr. Bukhari dan Muslim)


Wallahu 'alam bishawwab


Penulis: Vinda Puri Orcianda

×
Berita Terbaru Update