Ambisi Caleg Yang Khilaf Melengkapi Administrasi


OPINI --- Hujan senantiasa membasahi bumi, rerumputan mulai tumbuh kembali, secara perlahan hukum alam tetap pada tupoksinya, perlahan tanaman menghijaukan tanah yang mulai gersang. Hal itu terjadi di bumi Sulawesi, khususnya. Kakek dan nenek manusia mati, di waktu yang sama kelahiran bayi terus-menerus membentuk kalimat 'regenerasi' tetap bertahan.

Perubahan iklim dan peningkatan suhu panas bumi, seperti data yang dilansir oleh Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) Amerika Serikat (AS), tahun 2017 adalah tahun terpanas ketiga setelah 2016 dan 2015. Semua itu, tak lepas dari ekonomi, politik dan sosial manusia. Dinamika kehidupan adalah kemutlakan yang tak terbantahkan oleh teknologi.

Lingkungan berubah, hidup manusia semakin instan akibat kemajuan teknologi canggih buatan negera-negara tetangga. Entah mengapa, kondisi sosial ekonomi Indonesia masih sama seperti yang disisakan Eropa. Yang berubah hanyalah utang, semakin hari kian melonjak, hingga sudah mencapai kurang lebih 4.000 trilyun.

Semua berubah, namun ada yang aneh beberapa minggu terakhir. Kadang tiba-tiba banyak orang-orang yang mengaku tokoh dan petinggi pilitik berdatangan ke kampung-kampung. Kampung saya yang paling jauh juga jadi sasaran kunjungan mereka. "mereka mau mencalonkan diri maju di DPRD" ujar tetangga rumah saya yang gagah itu. Saya hanya tersenyum pulas menanggapi.

Berbicara mengenai pemilihan, tentu akan ada banyak objek yang dituju. Namun, satu dua orang lainnya adalah perempuan, guna memenuhi quota 30 persen perempuan di parlemen. Soal memenuhi quota, mutlak. Tentang memenuhi kapasitas intelektua? Mungkin jawabnya ada di atas sana.

Bila dibayangkan, apakah orang memilih betul-betul sesuai nurani atas dirinya, atau hanya buat orang lain, atau justru memilih karena terpaksa harus memilih?. Dan soal pilih-memilih ini sudah seperti hal yang lumrah untuk kepemimpinan bangsa dan negara, tak terkecuali yang latar belakang tokohnya dipertanyakan.

Jelang Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 mendatang. Beragam foto, tegline dengan gaya paling memikat pun telah dipromosikan terlebih dahulu di berbagai media. Berbagai kutipan yang datangnya entah darimana dan oleh siapa, dipajang dengan sangat rapi serta sistematis di ruang-ruang yang mudah diakses publik.

Gaya dan penampilan para politisi yang mengaku bijak atau mengklaim dirinya suci, nampak paling megah sesekali menonjolkan rekayasa estetik bila kita mengakses internet untuk baca arikel terlebih mengikuti berita.

Padahal kalau menurut saya, seharusnya orang berpikir tiga kali lipat untuk maju. Sebab Legislatif atau Wakil Rakyat itu bukan hanya sekedar nama, tapi ia adalah tanggung jawab besar yang mesti diemban dan dijalankan dengan baik sesuai harapan rakyat.

Tapi faktanya tetap saja sama, tidak ada bedanya. Dari zaman batu para calon pemimpin sudah pandai bersilat lidah, hingga era Millenial yang mengerikan saat ini kondisi itu masih ada dan justru merajalela.

Seorang politikus yang pernah memimpin Uni Soviet pada masa-masa awal Perang Dingin,

Nikita Krushchev, perah berkata "Politisi itu semuanya sama. Mereka berjanji membangun jembatan meskipun sebenarnya tidak ada sungainya di sana". Seharusnya telah menjadi renungan bagi siapapu yang ingin maju atau terlibat dalam politisi, sebab sejak dulu politisi sudah dianggap pandai memikat lewat janji.

Faktanya sekarang justru mereka berlomba-lomba ingin maju, membusungkan dada dan menganggap dirinya paling bijak, mencari empati, entah untuk upeti. Tapi kursi empuk tujuannya, itu sudah pasti.

Sebagai pemuda biasa dari pelosok negeri, saya hanya bingung dan khawatir. Bingung akan meilih siapa atau tidak memilih siapa, serta khawatir mereka yang mau maju itu hanya untuk kepentingan pribadi dan golongannya saja.

Kebingungan dan kekhawatiran itu terus tumbuh dievaluasi waktu, hingga saya menyadari. Kalau para Calon Legislatif (Caleg) mau membangun, pelosok-pelisok pasti sudah tentram. Saat ditanya alasannya, "berikan saya kesempatan sekali saja, maka saya akan berbuat baik" pun kalimat ini lahir dan tumbuh sejak Indonesia merdeka, kalimat itu sudah akut, sayangnya masih bertahan.

Sekalipun demikian, anggota DPRD dari tingkat paling bawah hingga tingkat DPR-RI saat menjabat hanya nol koma sekian persen visi-misinya yang terealisasi, namun kini tampil lagi dengan gaya retorika yang sama dengan harapan sama juga ditularka pada rakyat.

Bahkan tak jarang dari aktivis yang dulunya teriak lantang anti korupsi, anti pelanggar HAM, juga ternyata terjebak dalam kekangan politik praktis, mereka pun kini terlibat dalam sistem yang semula ditolaknya secara tegas. Sialnya akademis pun sudah banyak dijumpai terjun dalam politik elit yang mengenaskan. Padahal akademislah salah satunya landasan kemurnian ilmu pengetahuan. Akibatnya adalah, pelopor yang kita andalkan, sudah banyak yang bungkam oleh berbagai kepentingan.

Miris melihat fenomena nyaleg ini. Rakyat kecil jadi korban janji manis, serta sebagian dari mereka juga tentu hanya korban kelengkapan administrasi partai. Tentu bukan salah rakyat, sebab ia tak tahu akan sistematika perpolitikan, rakyat hanya berharap hidup aman, tenang dan damai.

Seyogianya para Caleg paham, tapi tak mungkin juga memberikan pemahaman kepada rakyat, sebab bila rakyat paham akan kondisi menyedihkan dari sistem pilotik praktis, maka rakyat akan minder untuk memilih.

Sebagai pemuda biasa yang tak bisa berbuat apa-apa, saya hanya berharap para politisi terutama yang maju menuju DPRD 2019 mendatang, agar betul-betul maju bukan hanya karena fiansial tapi intelektual yang memadai. Dan rakyat hanya butuh bantuan kompleks, bukan janji apalagi hanya sekedar pidato.

Author: Burhan SJ