Ilmu Pengetahuan Dan Intervensi Lingkungan

OPINI --- Karena gagal paham, saya ingin tahu, untuk itu, belajar adalah solusinya. Guna mengelabui kebodohan, maka ilmu pengetahuan itu diharuskan. Bahkan sejarah dunia adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan. Dipelajari di setiap ruang dan segala waktu. Hingga akhirnya ilmu pengetahuan menjadi begitu penting, bahkan terasa mutlak tuk digapai.

Pengetahuan dapat diraih lewat berbagai cara terutama pendidikan formal, walau pengetahuan yang diraih dari bangku formal tak menjamin kedamaian dan ketenangan. Tapi pengetahuan telah menjadi keharusan pada tiap-tiap insan. Meski ilmu pengetahuan di negeri ini kurang lebih sisa-sisa peninggalan Eropa seperti digambarkan Pram dalam berbagai karyanya, namun itu tetap mesti kita pelajari.

Lingkungan menciptakan isu bahwa orang tak boleh bodoh, atau semua manusia harus pandai. Oleh karena itu, dibuatkan sekolah atau pendidikan formal. Seolah pendidikan formal adalah parameter kesejahteraan rakyat.

Dari berbagai inspirasi tersebut akhirnya memicu para generasi tuk masuk ke dalam satu sistem kapital yang belakangan disebut pendidikan gratis. Beragam warna terlibat dengan tujuan yang bermacam-macam, namun didominasi watak pekerja, tentunya.

Kerja adalah upaya manusia tuk menghasilkan, agar dapat makan dan bertahan hidup. Tapi bagaimana dunia kerja dalam persepsi kaum muda hari ini?. Tentu tak lepas dari negara, sebab kita hidup dalam negara yang secara administratif disebut Indonesia.

Kalau Pramoedya Ananta Toer menilai, pekerjaan yang paling baik adalah tanpa bertentangan dengan nurani, atau pekerjaan yang di dalamnya kemerdekaan tetap dinikmati, “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri” katanya dengan jelas dalam tetralogi Bumi Manusia.

Bagi Pram, kerja merupakan salah satu keharusan yang mesti dilakukan manusia, tapi ia juga mencela kerja-kerja yang bertentangan dengan kemanusiaan. “Mendapat upah kerena menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu dalam seni namanya pelacuran?” jelasnya.

Tentunya pandangan tersebut menuai kontroversi bagi mereka yang tersinggung, atau mereka yang larut dalam jebakan sistem dan tak mampu bangkit menentang penindasan dalam bentuk yang paling tak kasat mata serta tak langsung berefek.

Negeri ini nyaris didominasi orang-orang pintar, tapi tak punya nyali. Pintar karena mengetahui hampir semua hal, tapi ciut mengungkap fakta-fakta yang ditemuinya bila bertentangan dengan penguasa. Dan itu merupakan kegagalan ilmu pengetahuan, sebab terbungkam oleh intervensi lingkungan.

Seharusnya, orang-orang yang pandai, cerdas, genius atau dengan sebutan lain harus punya keberanian. Seharusnya kita punya prinsip, berani tahu, berani berbuat dan siap bertanggung jawab. Namun sejauh ini, konsep demikian masih sebatas ilusi. Hal itu terjadi, bukan tanpa alasan. Tetapi justru tak pernah kehabisan alasan, mulai dari ekonomi, sosial dan budaya hingga alasan yang paling terpaksa harus dirasionalkan.

Meskipun sangat dijamin oleh negara dalam konstitusi Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 31 ayat (3) dan (4), menegaskan bahwa pemerintah memiliki kewajiban untuk mengusahakan penyelenggaraan pengajaran nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memprioritaskan anggaran sekurang-kurangnya 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Negara benar telah menjamin, tetapi apakah faktanya juga nyata adanya?. Di kampus misalnya, yang semula diharapkan menjadi mesin pencetak Intelligence Quotient (IQ). Tapi faktanya berbagai kebijakan mendiskriminasi rakyat kecil, kemiskinan meningkat, koruptor dan sebagainya terjadi begitu saja, kampus diam saja. Atau karena sudah banyak tenaga pengajar yang melepas esensinya dan berubah jadi politisi?. Mungkin jawbnya ada di atas sana, seperti lagu Ebiet G Ade.

Jika kampus tak lagi menjamin kecerdasan, terlebih peka pada kondisi sosial. Disebabkan karena tenaga pengajarnya tak lagi netral, gagasan-gagasannya sudah dirasuki watak politikus, atau pemikirannya sudah terhegemoni uang, maka hancurlah negeri ini dalam jangka waktu yang tak ditentukan.

Belum lagi, jutaan mahasiswa yang selesai setiap saat. tak ada pekerjaan yang disiapkan pemerintah. mau kemana mereka?. Silahkan jawab pemirsa.

Bila itu dibiarkan maka wajar saja, para aktivis yang dulunya tak kenal senior atau kerabat, asal bersalah diteriaki. Kini menjelma wujud dan justru mendukung perlakuan-perlakuan elit yang memiskinkan itu, bahkan justru mereka pun kadang menjadi pelaku, dengan mengatas namakan perut. BULL—SHITT!!!

Sejauh yang saya amati dan bisa dimengerti, nilai manusia bukanlah pada siapa yang cerdas, tapi siapa yang bisa mempertahankan kejujurannya, selebihnya adalah mereka yang punya setumpuk uang kertas.

Lalu, apa yang bisa dibanggakan kecuali dua hal, pertama senyum termanis desain Tuhan dari sosok misterius di kedai kopi beberapa malam lalu, kedua aroma kopi yang senantiasa mengajak betah duduk lama-lama bersama pekatnya ampas.

Author: Burhan SJ