Hari Demonstrasi Literasi - Iwan Mazkrib

Hari Demonstrasi Literasi

Sekitar beberapa jam yang lalu sebut saja di pagi hari, saya lagi sibuk memandangi wajah teman-teman yang masih terkapar dirayu mimpi dalam tidurnya. Saya sempat bertanya tanya,

"Ah.. ini mungkin saja kebetulan, biasanya matahari saya sambut dengan memulai tidur dengan pagi"

Yah.. kata pepatah mereka yang gemar begadang
"kami tertidur saat matahari terbit"

Haha.. tapi biasalah bagi anak muda yang senang di dunia begadang.

Roma juga pernah bilang "begadang jangan begadang, begadang boleh saja... kalau ada perlunya".

Tapi pemuda sih perlu gak perlu, begadang itu banginya perlu.

Huh.. terserah itu kata siapa, yang jelas pagi saya penuh dengan tanya, bertanya itu baik, karena tidak bertanya kadang tersesat dan tidak tau harus bagimana. Kemudian pertanyaanku berhenti akibat waktu semakin mendekati siang. Ternyata hari ini hari literasi, saya sedikit panik. Kenapa? Karena hari ini ada kegiatan di warkop 52, saya harus ke sana sekarang juga. Saya baru ingat ternyata saya punya tugas terkait kegiatan hari literasi tersebut.

Dan bagiku "ini adalah tugas yang menyenagkan".

Al Qadri terbangun dari tidurnya tiba-tiba sontak bertanya

"Mazkrib, mau kemana?"

Saya jawab dengan senang hati "ayo ke warkop ngopi literasi, di sana ada kegiatan literasi, mentas puis nge-rocki dan lain-lain"

"Oh iya kah? Boleh saya ikut" sedikit menunjukkan ekspresi muka gembira

"Bolehlah,saya duluan yah, saya tunggu dilokasi", jawabku dengan semangat.

Sehabis menikmati bakwan bersama teman-teman di sekret. Junior saya Brazak pun siap mengantar saya menuju lokasi.

Tiba-tiba Brazak berkata "senior saya mau turun aksi demonstrasi memperingati hari anti korupsi, setelah itu saya menyusul".

"Okelah.. selamat berdemonstrasi dengan senang hati" jawab manisku kepada sang demonstran.

Tak lama tiba di lokasi diskusi pun dimulai dengan rasa senang dan resah heran berbaur, rasanya ibarat mencicipi kopi susu, ada pahit dan ada pula manisnya. Wajarlah mungkin kegiatan literasi menarik bagi mereka yang menikmati dan kurang menarik bagi mereka yang sedikit menikmati atau mungkin saja ada yang lupa betapa pentingnya literasi.

Cukup saja jawaban sederhana lewat puisi, 

"Berdemonstrasi atau Berliterasi."

Satu persatu kepala beramai ramai tak tahu mau kemana
Ada adalah yang resah tanpa cercah tanpa pecah
Kalau saja besok tulisan mulai pergi
Apakah manusia akan manuai kasih lagi
Ahh...
Panas rasanya kepala tak menumpahkan kata-kata
Yang tumpah hanya sesal
Jatuh dan rintik di atap hati
Sesal membanjiri kenyataan
Jadi?
Saya harus berdemonstrasi atau harus berliterasi?
Keduanya baik baik saja.
Hah..
Sudahlah.. literasi juga punya cara
Kita pergi dan pulang lewat jembatan kata-kata
Iya..

Kata saya lewat puisi

Iwan Mazkrib
Gowa, Desember 2018