Apa Kabar Gedung Biru IAIM Sinjai?

Opini --- Romantisme demokrasi tidak berlaku di kampus Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Sinjai, harmoni dalam berdemokrasi tidak lahir.

Pembungkaman sikap kritis mahasiswa yang dilakukan oleh kampus IAIM Sinjai di mana mahasiswanya yang hanya melakukan demonstrasi dan meminta kejelasan tentang uang pembayaran ujian akhir semester (UAS), dasar persoalan adalah hal tersebut.

Lalu kemudian kampus mengeluarkan surat keputusan (SK) drop out (DO) dan skorsing secara sepihak kepada mahasaiwa tersebut.

Jika kasus pembungkaman demokrasi terus terjadi maka normalisasi kehidupan kampus (NKK) yang ada pada rezim orde baru akan kembali terjadi, di mana mahasiswa dilarang berpolitik dan berdemonstrasi dan hanya dipaksa untuk mengejar akademik.

Yang bisa saya gambarkan dalam kasus ini bahwa yang dilakukan oleh kampus IAIM Sinjai tidak mempunyai romantisme dalam berdemokrasi, ini mengakibatkan terangkatnya nama yang tidak baik bagi kampus yang seharusnya menjadi tempat sumber ilmu, lalu lintas pendiskusian.

Pergolakan pemikiran kritis itu terbatasi bagi para mahasiwa karena sistem kampus yang berlaku sifatnya tidak demokratis dan mengekang kebebasan berdialektika bagi para mahasiswa.

Di mana semestinya mahasiswa bebas berekspresi dan mengaktualisasikan segala macam bentuk kreatifitas berpikirnyanya.

Serta kampus yang seharusnya mengajarkan tentang demokrasi yang baik akan tetapi kampus ini pula yang mengajarkan demokrasi yang rancu tanpa pertimbangan atau mediasi dengan baik dan diselesaikan secara logis.

Tapi kenyataannya pihak kampus IAIM Sinjai sendiri menampakkan sikap arogan dan tidak peduli terhadap mahasiswanya, hanya memanggil mahasiswa untuk menghadap tapi tidak ada persuaratan.


Maka dari itu kampus IAIM sinjai gagal membangun kriteria disiplin ilmu yang sesuai dengan apa yang menjadi bakat mahasiswa.

Sebab seorang murid sama sekali tak bisa dibatasi, karena tujuan pendidikan sejatinya adalah bukan menjadikan peserta didik menjadi seragam dalam berpikir.

Apalagi kampus tak boleh memandang enteng mahasiswa dengan cara mengucilkan, sebab posisi dosen dan mahasiswa itu sama di hadapan hukum dan negara, jadi seorang tenaga pendidik sama sekali tak bisa semena-mena dalam berbuat dan berbicara.

Maka hal itu pula yang membuat IAIM Sinjai tidak mampu mewujudkan romantisme dalam berdemokrasi.

Penulis : Zulkarnain, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik Sinjai