Hoax Untuk Kekuasaan Adalah Pemimpin Yang Buruk di Masa Depan

Lorong Kata --- Sebagai negara demokrasi, setiap warga negara memiliki hak menyuarakan pendapat. Termasuk saya, dalam menulis artikel ini memiliki kebebasan untuk menyampaikan tentang apa yang saat ini sedang bertengger di kepalaku.

Mendekati perhelatan pemilu atau kontestasi politik terbesar di Indonesia. Tidak hanya berbicara fakta, bahkan muncul secara tiba-tiba beberapa hoax-maker dengan gencar menyebarkan hoax yang mampu memicu kebencian hingga kebengisan.

Beberapa hoax-maker dengan wajah memelas telah mengumumkan kecerdikannya saat menggauli pikiran orang lain agar percaya dengan ucapan atau hoax yang sedang mereka permainkan.

Sementara yang lainnya masih merasa benar dengan apa yang telah mereka lontarkan sebelumnya. Bahkan dengan genit, mereka tampil dihadapan para wartawan berusaha meyakinkan publik bahwa hoax yang mereka mainkan adalah benar.

Mungkin, mereka lupa bahwa milenial lebih cerdas dari pada hoax-maker. Bahkan hanya lewat gerik tubuh dan akal sehat, mereka tau bahwa seseorang sedang berusaha merangkai kata merubah ilusi agar tampak nyata.

Aku bahkan tidak sanggup menahan tawa ketika menyaksikan video penggalan para hoax-maker yang berusaha tampil gagah layaknya seorang pahlawan yang sedang berusaha merubah negeri ini menjadi lebih baik. Hoammm rasanya aku ingin berkata kasar.

Beberapa hari yang lalu, aku mengetik dengan kata kunci 'raja hoax' di mesin pencari terbesar di dunia yaitu google. Alhasil, yang muncul adalah gambar kedua calon presiden. Belum puas, aku mencoba mengetik dengan kata kunci yang sama di youtube namun hasilnya nampak tidak jauh berbeda.

Apa iya, aku harus datang ke TPS memberikan hak suara untuk si raja hoax? Ayahku pernah bilang "suaramu ikut andil dalam merubah negeri ini nak, jadi jangan golput" ucap ayahku "tapi pak, apa iya saya harus memberi suaraku pada si raja hoax" jawabku pada ayah.

Lucunya lagi, oknum yang menyerukan agar hoax tidak lagi disebar, justru sebaliknya mereka yang fasih bermain dengan hoax di panggung-panggung besar. Naasnya, hoax ini berhasil membidik kalangan masyarakat lapisan tertentu yang tidak kritis terhadap sajian informasi yang beredar.

Jika yang membuat hoax ini adalah mereka yang berasal dari kalangan masyarakat biasa maka saya hanya bisa menduga bahwa mereka sedang numpang eksis di momen tertentu. Tetapi, jika ternyata yang membuat hoax adalah para elit, maka bisa dipastikan mereka sedang berusaha memperkosa akal sehat kita (kita??? Ah, gue maksudnya, bukan kalian)

kenapa yah nggerrr, mereka menyebarkan hoax padahal kan mereka adalah elit politik?

Hoax sengaja dimainkan melalui media untuk menjatuhkan lawan politik, agar kubu yang di-sono terlihat buruk sementara kubu yang disitu terlihat seperti malaikat yang penuh dengan jiwa penolong.

Jika sudah seperti ini, apakah media yang harus disalahkan? Media tidak pernah salah sebab media hanya sebuah alat untuk menyampaikan informasi. Yang salah adalah mereka yang mengendalikan media dengan sejuta kepentingan.

Seperti halnya saat ini. Udara penuh dengan pidato sementara pidato hanya berisi udara, tidak bernilai, hanya sebuah janji yang kelak bakal terlupakan, bahkan dengan khayalan tingkat tinggi yang sengaja diberi bumbu hoax agar tercipta suasana seperti sedang perang.

Padahal, ini hanya sebuah pesta yang semua orang harus menikmatinya. Tidak perlu ada yang tersakiti dan menyakiti. Yang kalah harus legowo sementara yang menang harus tau dengan kewajiban.

Kekuasaan dan softex tidak jauh beda. Keduanya harus diganti sebab jika tidak, keduanya akan merusak bagian yang lain. Itulah indahnya demokrasi.