Kartu Pra Kerja Atau Kartu Elektabilitas

"Kalau belum bekerja akan diberi honor atau gaji lewat kartu ini (kartu pra-kerja)"

Sungguh menyenangkan hidup di zaman jokowi. Lulusan SMA, D1, D2, D3, Dan Sarjana yang belum bekerja bisa mendapatkan kartu pra-kerja.

"Tinggal di rumah ngerokok sambil ngopi tau-tau akhir bulan dapat gaji"

Hal itulah yang terlintas di pikiran saya sore kemarin ketika sedang menyeruput kopi sambil nonton TV "apa iya seperti itu?" Tanyaku dalam hati.

Sehabis nonton berita itu. Menjelang magrib, saya menghampiri beberapa pemuda yang berkumpul di sudut lapangan sepak bola di sebuah kampung yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Mereka tidak sedang menikmati pertandingan sepak bola yang dimainkan oleh anak-anak di kampung itu atau sedang menunggu giliran untuk masuk ke dalam lapangan. Melainkan mereka sedang hangat membicarakan program calon presiden nomor urut 01 yakni kartu pra-kerja.

Topik kartu sakti Pak Jokowi (kartu pra kerja) memang sangat santer diperbincangkan akhir-akhir ini. Dengan kartu itu (Kartu Pra-Kerja), lulusan, SMK maupun yang selesai kuliah, konon katanya akan mendapatkan honor atau gaji sehingga mampu membantu biaya hidup sebelum bekerja.

Seorang pemuda yang berperawakan tinggi tegap dan sedikit tampan memberi komentar terhadap kartu yang di luncurkan calon Presiden 01 di injury time masa kampanyenya. Menurutnya, hal ini tidak lain hanya sebuah strategi politik untuk mendongkrak elektabilitas yang mulai mangkrak.

"Masa iya, pengangguran dapat gaji!!! Utang Indonesia aja terus bertambah tiap tahunnya, belum lagi mereka yang sudah kerja di sektor formal hanya dapat gaji Rp 220.000 per bulan" sahut pria berkumis di sampinya, tenaga honorer yang tak kunjung diangkat jadi PNS.

Saya bahkan setuju dengan ucapan Fahri Hamzah bahwa, hal itu hanya omong kosong. Honorer yang katanya mau diselesaikan tapi tidak terbukti, subsidi dicabut. Belum lagi janji sepuluh ribu lapangan pekerjaan yang menurut para pencari kerja hanya untuk warga asing.

Masih hangat di media terkait pro kontra ucapan calon Presiden 01 didebat kedua yang diadakan KPU. Capres 01 mengatakan tidak terjadi konflik dalam proses pembebasan lahan karena menurutnya tidak ada ganti rugi yang ada ganti untung.

Berbeda lagi dengan yang bertebaran di media sosial. Konflik akibat penggusuran pembangunan Tol yang dinilai tidak adil. Lagi pula jalan tol hanya mampu dinikmati mereka yang berduit tapi bagi saya yang naik sepeda akan dihadang oleh penjaga tol lantaran roda sepeda saya tidak cukup empat.

Kembali pada topik utama, kartu sakti Jokowi. Sebagai seorang petahana, mengumbar janji yang baru (kartu pra-kerja) adalah cara mendongkrak elektabilitas namun menjadi masalah lantaran janji politik periode sebelumnya belum terealisasi sepenuhnya.

Dugaan saya, dengan adanya kartu ini (kartu pra-kerja) akan mendorong lebih banyak lagi pengangguran di negeri ini lantaran mereka berpendapat bahwa dengan tidak bekerja (status pengangguran) bisa dapat gaji.

Tetapi, Jika memang betul program itu terealisasi. Enak betul hidup di zaman Pak Jokowi. Ngerokok sambil ngopi, akhir bulan bisa dapat gaji. Ini sih namanya pengangguran berduit.

Tapi kalau ini hanya sekedar janji tanpa realisasi maka benar kata Rocky Gerung bahwa pembuat hoax terbaik adalah penguasa.

Ingat bahwa tugas seorang pemimpin adalah menyelesaikan persoalan pengangguran dengan lapangan pekerjaan bukan dengan janji menggaji pengangguran.

Jika berniat memberi gaji maka berilah mereka yang pantas dapat gaji, mereka yang telah bekerja disektor formal (honorer yang bergaji pas-pasan).

Akhir kata. Kartu pra-kerja adalah kartu elektabilitas. Ketika popularitas mulai mangkrak maka kartu adalah senjata pendongkrak elektabilitas. (*)