Luka Demokrasi- Burhan BSJ

Luka Demokrasi
(Burhan BSJ)

Ini luka sialan, dari demokrasi yang kau telan. Di antara deretan hukum, kau sedomi lewat angka.

Mata rantai sosial yang semula kau agungkan, telah cerai berai, bak air mata duka yang menganga.

Dalam genang air mata petani, menjadi kenangan remaja kota, hingga lebur menjadi sajak penenang penguasa.

Negerinya para penyamun. Menebar janji, berbagi dusta, beriklan proyek, busuk di jeruji.

Pendidikan kau bisniskan, anak miskin kau manfaatkan. Lalu memaksaku percaya?

Arggg...!

Aku muak, mual dan muntah-muntah oleh sederet kalimat itu, usai kumakan dengan kuping tuli.

Maafkan aku yang dulu, katamu, demi berulah lagi. Selanjutnya, segalanya kau halalkan lagi. Membuat kami kehilangan rasa.

Menyukaimu, merupakan secuil harapan. Sementara membencimu adalah perihal setumpuk langit.

Senja beranjak, tiba-tiba menuruni bukit lalu menghilang. Dan kau masih begitu, merusak tatanan surga leluhur.

Waktu berlalu, aku masih duduk diam di tepi rindu, sembari membiarkan mata bisu melototi bibirmu yang ranum kehilangan mimpi.

Di negeri ini keadilan hanya simbol. Tak ada yang perlu dibicarakan. Bagi rakyat kecil, semua ubah menjadi luka.

Berupaya menapaki pelangi, menemui kesejahteraan abadi walau hanya di ingatan.

Dan kau penguasa! Yang kejam dan gila. Matilah dalam ketenangan nan sia sia.

Aku ingin merdeka, merdeka dan merdeka, dari demokrasi yang sesungguhnya. Oleh adil yang sewajarnya dan rindu yang semestinya.

Biarkan roh-roh halus dan tangan tangan jail bersemayam, bersamaku dengan bebas, seumpama mawar mekar dihinggapi ranum.