Ngenesnya Didatangi Teman Hobi Ngutang, Ditagih Mendadak Pikun

Lorong Kata --- Ada empat perkara yang menyebalkan di dunia ini: ditolak gebetan, ditikung teman, diselingkuhi pacar, dan didatangi teman untuk minjem uang alias ngutang.

Perkara yang terakhir ini lah yang paling sering terjadi dalam kehidupan kita (kita???, kehidupan penulis sendiri maksudnya), sekaligus paling menyebalkan. Ayo sini, mana tuh orang yang suka ngutang, ta ulek ulek jidatmu.

Biasanya, mereka yang datang meminjam uang, jauh hari sebelumnya seminggu mereka telah mempersiapkan segala macam alasan yang paling sensitif dan urgen agar si-pemilik uang berkenan meminjamkannya.

Namun, jika alasan itu ternyata belum cukup ampuh untuk membuat si-empunya uang merelakan uangnya dipinjam, maka si calon peminjam biasanya tidak akan segan-segan bertransformasi menjadi tokoh melankolis, akhirnya sejumlah airmata bercucuran membasahi bumi (eh, pipi atau bumi yah?).

Berbekal alasan yang sudah dipersiapkan dan setetes air mata buaya serta ekspresi memelas itulah membuat pertahanan kita menjadi layu yang berujung pada sejumlah uang yang berpindah tuan.

Awalnya, hati senang karena membantu teman dalam menyelesaikan masalah finansial. Bukankah kita selalu diajarkan untuk saling tolong menolong, terlebih teman telah berjanji mengembalikan dalam waktu yang dijanjikan.

Pertanyaannya, apakah benar seperti itu kisanak?

Nyatanya, tidak semua orang mampu tepat janji. Bagaimana jika ternyata belum memiliki uang? Jika itu masalahnya, maka si-peminjam akan berusaha memahaminya. Tetapi bagaimana kalau ternyata teman hanya berpura-pura pikun atau bahkan berusaha melupakan? Menagih utang tidak seindah meminjamkan segepok uang Ferguso.

Perkara utang adalah perkara yang teramat sensitif. Terlebih lagi jika yang meminjam adalah teman sendiri. Kaki terasa dipasung dan mulut terasa dijahit. Begitu berat melangkahkan kaki dan menagihnya.

Menagih utang ke teman setelah melampaui batas waktu yang telah dijanjikan, nyatanya memang sangat berat. Harus berpikir bagaimana cara menagih yang baik agar tidak menyakiti hati teman dan tetap berteman meskipun telah menagihnya.

Bukankah dalam agama islam diajarkan bahwa, setiap orang yang telah mengutang maka wajib baginya melunasi hutang-hutangnya itu. Jadi, nggak perlu lagi kan harus saya yang menagih.
Nggak malu!!! apa kalian jika harus ditagih juga.

Ustadz saya pernah berpesan bahwa, utang merupakan kewajiban yang harus dibayar, bahkan Allah SWT tidak mengampuni dosa seseorang yang masih memiliki tanggungan utang yang belum dibayarkan atau diikhlaskan oleh yang memberi utang.

Lagipula, apakah kalian mau ta tagih nanti di akhirat? nggak mau kan? makanya bayar utang kamu kisanak. Malu tau kalau harus tagih sendiri. Bayar yah, yah, yah...