Antara Bahagia dan Kehormatan Cinta di Tanah Bugis

Hidup ini pilihan. Kita semua bebas memilih, hanya saja tak semua pilihan bisa kita jalankan, demikian pula hasil pilihan yang tak selalunya sesuai keinginan. Sifat, karakter dan masa lalu, mau pun masa depan bukanlah hasil dari keinginan manusia sepenuhnya.

Sejahat apapun manusia, ia tetap berharap, seandainya bisa agar masa lalunya baik-baik saja, begitu pun dengan masa depannya, hidup mapan dan sejahtera tentunya. Aku tidak ingin putus dengan kekasihku, tak ingin ditinggal nikah, selalu ingin baik-baik saja, tetapi apalah daya kenyataan selalu saja berkata lain, bahkan yang terjadi sesekali adalah apa yang tak pernah kita bayangkan.

Mengingat pilihan ini, bahkan dalam dunia kerja, tak selamanya pekerjaan itu diminati. Tidak ada yang mengingkan dirinya menjadi tukang becak, juga pemulung sampah, atau pekerja seksual, sama sekali mereka tak sepenuhnya suka dengan diskursus aktivitasnya. Demikian juga budaya, tak semua budaya tulus diterima oleh generasi.

"Aku jadi tukang becak, karena tak punya lahan, tak punya pendidikan tinggi tuk bekerja, sementara beberapa anakku sedang sekolah. Tentu mereka semua butuh uang, dan istriku pun butuh makan dan baju baru tuk ke pesta" kata Udin dengan nada pasrah menanggung nasib.

Ia adalah tukang becak yang ulet, tekun dan sabar. Berangkat subuh dari rumah menyusuri jalan mencari tumpangan, kadang celaka dan hanya membawa penat pulang ke rumah saat matahari tak lagi menyapa wajah.

Tak jauh beda dengan Ati, perempuan idaman di salah satu desa terpencil di daerah Bugis yang memaksa kekasihnya bertanggung jawab atas cinta yang menurutnya harus dibuktikan. Ati meminta Ardi agar segera menikahinya dengan dasar perasaan yang diklaim sebagai cinta yang harus dilegalisir oleh penghulu agama.

Menurut Ati semua kata-kata adalah gombalan tanpa dibarengi lamaran terhadap perempuan.

"Insya Allah bulan delapan aku akan datang menemui orang tuamu" kata Ardi. Singkat percakapan lewat WhatsAap.

"Iya kak, datang saja" balas Ati.

"Berapa yang harus kubawa sebagai uang panaik?" tegas Ardi seraya bertanya.

"Seratus juta kak, karena keluargaku memegang teguh budaya" singkatnya lagi.

"Mahal sekali!" pongah Ardi.

"Memang begitu kak, sebab sebelumnya adik sepupuku delapan puluh juta, aku harus di atasnya kata keluarga" hela Ati.

"Oke, aku upayakan yah. Tapi sebelum itu, aku bicarakan dulu dengan keluargaku juga" tutup Ardi.

Kebudayaan telah merenggut banyak hal, bisa jadi hanya karena disalah tafsirkan akhirnya berdampak fatal secara terus-menerus. Bahagia di hari tua, membelikan mainan anak, minum kopi setiap pagi sebelum berangkat cari lamaran di kantor-kantor yang satpamnya arogan, becanda besama, mencium keningmu, mendekap tubuhmu. Semua hilan karena khas tabunganku harus kukeruk habis untuk mendapatkan anak perempuan dari ibumu, gerutu Ardi dalam hati.

Sebenarnya ini bukan salah Ardi, bukan salah Ati juga, bukan salah mereka berdua. Tapi ini kekurangan mereka. Untuk meyakinkan kedua orang tuanya, bahwa mereka saling mencintai dan akan terus mencintai satu sama lain hingga akhirnya jiwa harus pasrah terlepas dari tubuh, meskipun uang tak lagi digunakan sebagai nilai tukar.

Bahagia telah menjadi tolak ukur kehidupan yang harus diperjuangkan, bahkan beberapa anggapan menilai standar kesuksesan adalah seberapa bahagia hidup kita, seperti gambaran Plato bahwa kebahagiaan seseorang terletak di dalam kemampuannya untuk mewujudkan apa yang ia inginkan.

Umumnya orang beranggapan bahwa bahagia pada dasarnya saat kita memiliki banyak uang dan bisa membeli apa saja, termasuk perempuan. Namun, aku dan kamu, atau dia, atau mereka, yang hidup di bawah garis kemiskinan. Memilih bahagia pun sangat sulit, apalagi memperjuangkannya.

Seperti kisah Ardi dengan Ati di atas. Memang tak ada orang yang ingin melihat anaknya menderita. Semua ingin anaknya bahagia menjalani hari-harinya, tetapi hidup di daerah beda dengan tinggal di kota. Demikian terjadi di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, di mana adat budaya yang secara turun-temurun dipertahankan, terkhusus soal pernikahan.

Mempertahankan budaya adalah kewajiban bagi generasi muda, tetapi meneruskan yang membebankan, dalam hal ini lebih besar dampak negatif daripada positifnya adalah kesalahan yang patut diselesaikan. Namun, tak bisa dipungkiri walau hal tersebut dianggap sangat membebankan, di lain sisi dipertahankan sebagai kehormatan.

Dalam pernikahan Bugis walau suka sama suka antara laki-laki dengan perempuan, tetap tak bisa langsung bahagia, kenapa? Sebab dalam proses pernikahan di daerah tersebut, umumnya laki-laki dibebani dengan materi yang disebut uang panaik (Mahar). Uang panaik di daerah tersebut sesuai dengan kelas mempelai perempuan. Bila sarjana atau lebih di atas lagi, setingkat magister, tentu biaya uang panaik akan semakin tinggi.

Padahal dalam beberapa agama pernikahan itu sunnah, dari segi sosial pernikahan mempertahankan regenerasi. Tetapi budaya Bugis menjadikan pernikahan tak hanya legalitas, namun juga memasukkan bagian kehormatan di dalamnya, tak lepas tekanan gengsi.

Perntanyaannya kemudian, bagaimana bila laki-laki sangat mencintai perempuan demikian sebaliknya tetapi ia lahir dari keluarga tak berada (Miskin)? Membatalkan pernikahan dengan alasan uang panaik berarti menghalau cinta kedua insan, membiarkannya berarti menurunkan derajat keluarga perempuan. Tentu perkara demikian membuat kedua belah pihak dilema. Tetapi salah satu pihak harus berani mengambil keputusan.

Pernikahan di daerah Bugis memang selalu menarik tuk dibicarakan, dan tiada habis-habisnya didiskusikan dari berbagai pihak walau hingga saat ini masih menuai kontroversi. Jadi antara cinta dan kehormatan, ambisi dan kondisi ekonomi keluarga adalah siklus sosial di tanah Bugis yang masih menjadi perbincangan dan selalu hangat didialogkan.