Pemerintahan Berganti, Rakyat Masih Dilema Pembangunan

OPINI, Sebatang rokok secangkir kopi hitam siap seduh, itu teman baikku ketika duduk di sebuah kursi di sudut kamar dengan lampu redup kekurangan daya.

Ingin rasanya aku merebah, menghentikan segala langkah membuang resah gelisah, tapi aku tak bisa.

Hampir tidak aku sadari malam ternyata mampu menyimpan banyak keindahan, bemula dari bintang-bintang yang gemerlapan menyapa di tengah kegelapan.

Ketika nafsu dan cinta datang menggoda, namun, hati ini masih terbelenggu akan sebuah tanya.

Apakah itu engkau wahai sang angin malam ?

Apakah engkau sudah mengantarkan pemimpin yang idaman ?

Ohh.. Khayalku terlampau tinggi, Pemimpin yang idaman yang mencintai dan merindu senyum bahagia rakyatnya sulit di temui.

karena di tanah kelahiranku sendiri, bumi panrita kitta Sinjai, akupun masih ragu akan keberpihakannya.

Di sebuah pagi pada Senin,15 April 2019 tinggal dua hari lagi pemilu, juga telah diberitakan bahwa Pemerintah Daerah melalui Dinas Komunikasi, Informatika dan persandian melaksanakan sosialisasi Kabupaten Sinjai menuju satu data. 

Membaca berita tersebut, mungkin saja dengan menuju satu data ini membawa kita menjadi satu rasa. 

Satu rasa dengan menikmati jalan yang mulus, satu rasa menikmati terangnya cahaya lampu di malam hari. 

Ini adalah rinduku yang selalu kutitipkan kepada angin malam yang selalu menyapaku di kala sepi, dan khawatirku jika rinduku ini tak berujung.

Aku jadi teringat beberapa hari yang lalu. Tepatnya, 7 April 2019 satu hari sebelum adanya aksi demonstrasi mahasiswa dan pemuda yang menuntut transparansi pengelolaan Tahura Abdul Latif Sinjai Borong.

Ketika itu aku berkunjung ke kediaman keluarga di Desa Bonto Katute, Sinjai Borong

Jalan penghubung Kecamatan Sinjai Tengah dengan kecamatan Sinjai Borong  membuat laju motor saya terhenti. 

Miris dan ngeri, jalan bebatuan dan licin ketika musim hujan serta jalan cor yang rusak parah tidak kalah oleh jalan di Dusun Soppeng, Desa Turungan Baji, Kecamatan Sinjai Barat, yang memaksaku untuk berani melewatinya.

Padahal jalan turungan baji adalah alternatif yanh mestinya menjadi bagian dari pembahasan pemerintah daerah.

Tapi kita kembali bertanya, pembangunan itu siapa? Mengapa pemimpin begitu kaku, semisal untuk membangun jalan, padahal pemimpin adalah untuk rakyat. Kini rinduku nyaris gagal paham pada kenyataan.

Ingin rasanya mengalungkan rindu dalam resah sebab bebatuan yang licin kini membuatku menderita.

Kini, pesta demokrasi tinggal 2 hari lagi, kita semua pasti berharap agar pesta demokrasi ini dapat berjalan lancar.  

Siapa pun dia yang terpilih, itulah yang perlu kita beri ruang dan kita awasi untuk memimpin rakyat ke depan.

Tentunya, dia harus cerdas mengurus rakyat kecil, pandai menyatukan data dan rasa, tidak hanya pandai mengatur mutasi yang memiliki kepentingan dengan skema pemikiran yang bisa sama atau berbeda demi langgengnya kekuasaan.

Kopi hitam pekat yang menemani sepi malam berujung pada tegukan terakhir, serta eindu yang larut, lalu aku teguk kembali dan seperti ingin menyudahi namun tak mampu mengakhiri.

Penulis : Pacul.